TIMES JABAR, MALANG – Di sudut Kota Malang, tepatnya di kawasan Dinoyo, berdiri sebuah kampung yang menyimpan jejak kejayaan industri keramik. Ya, itulah Kampung Wisata Keramik Dinoyo.
Kawasan ini pernah menjadi pusat produksi keramik terbesar dengan ratusan pekerja dan pesanan yang datang dari berbagai kota.
Namun, kejayaan itu perlahan memudar, menyisakan deretan toko dan bengkel kerja yang kini harus berjuang menghadapi perubahan zaman.
Meski begitu, di balik tantangan yang ada, masih ada secercah harapan untuk menghidupkan kembali kejayaan Dinoyo sebagai pusat seni keramik khas Malang.
Suasana di Kampung Wisata Keramik Dinoyo masih terasa hidup, meski tak seramai dulu. Beberapa toko masih setia menjajakan berbagai produk, dari guci, pot hingga suvenir kecil berbahan keramik dan gipsum.
Menurut Kartikawati, seorang pedagang yang telah berjualan di kawasan ini sejak 1997, industri keramik Dinoyo mengalami perubahan besar ketika pabrik besar di kawasan itu tutup.
“Dulu, tidak banyak usaha kecil. Semua tergantung pada pabrik besar. Tapi setelah pabrik tutup, banyak pekerjanya mencoba usaha sendiri,” ujarnya.
Tak hanya keramik, gipsum pun menjadi pilihan alternatif. Produk ini lebih murah dan cepat diproduksi, karena tidak perlu melalui proses pembakaran seperti keramik.
Suvenir berbahan gipsum pun kini lebih banyak ditemui di etalase toko, menjadi simbol adaptasi perajin terhadap pasar yang semakin kompetitif.
Menjaga Tradisi Melalui Adaptasi
Salah satu perajin Keramik SN Dinoyo yang mengukir tanah liat (Foto: Marisa Andriana/TIMES Indonesia)
Meski menghadapi berbagai tantangan, para perajin Dinoyo tetap mempertahankan proses pembuatan keramik dengan teknik tradisional.
Di sebuah bengkel sederhana, Hariyanto, salah satu perajin senior di Dinoyo, tampak sibuk mengukir adonan tanah liat menjadi berbagai bentuk.
“Dulu, kami pakai minyak gas untuk membakar keramik. Sekarang pakai LPG, lebih bersih dan hasilnya lebih bagus,” katanya sambil menunjukkan beberapa produk siap bakar.
Proses pembuatan keramik masih melalui tahapan Panjang dimulai dengan pencetakan tanah liat sesuai desain yang diinginkan, lalu dijemur hingga kadar airnya berkurang agar lebih kokoh.
Setelah kering, beberapa produk diberi glasir atau dicat dengan berbagai motif agar tampil lebih menarik.
Tahap akhir adalah pembakaran pada suhu tinggi, yang tidak hanya mengeraskan keramik tetapi juga menentukan daya tahan dan kualitas akhirnya, menjadikannya lebih kuat dan estetik.
Sementara itu, gipsum hanya melalui pencetakan, pengeringan, dan pewarnaan. Karena prosesnya lebih cepat, suvenir berbahan gipsum menjadi pilihan utama bagi pelanggan yang ingin harga lebih terjangkau.
Harapan di Balik Tantangan
Harianto, perajin keramik tengah mengukir tanah liat yang telah selesai dicetak (Foto: Marisa Andriana/TIMES Indonesia)
Kampung Wisata Keramik Dinoyo menawarkan berbagai pilihan produk, dari yang murah hingga premium. Suvenir kecil berbahan gipsum dijual mulai Rp700 hingga Rp3.500 per buah.
Sementara itu, produk keramik seragam seperti asbak dan piring kecil dihargai Rp5.000 hingga Rp85.000, tergantung ukuran dan desain.
Namun, biaya produksi yang meningkat, terutama akibat harga LPG yang terus naik, membuat harga jual ikut terdorong naik.
“Banyak pelanggan sekarang pilih gipsum karena lebih murah,” kata Ibu Kartikawati seorang pedagang keramik.
Dahulu, Kampung Wisata Keramik Dinoyo dipenuhi perajin. Namun kini, jumlahnya terus berkurang. Dari sekitar 30 perajin aktif, kini hanya tersisa sekitar 10 orang.
Salah satu tantangan terbesar adalah menurunnya jumlah wisatawan. “Dulu, banyak sekolah datang untuk wisata edukasi, anak-anak belajar melukis keramik. Sekarang jarang,” ujarnya.
Pandemi Covid-19 memperburuk keadaan, membuat banyak toko dan bengkel terpaksa tutup sementara perajin kecil juga menghadapi tantangan dalam mendapatkan dukungan, sementara industri yang lebih besar lebih mudah berkembang.
Namun, harapan untuk menghidupkan kembali kejayaan Kampung Wisata Keramik Dinoyo tetap ada.
Berbagai upaya mulai digagas, seperti workshop melukis keramik bagi wisatawan dan pelajar, pameran serta festival seni untuk menarik perhatian lebih luas, hingga penataan kampung dengan mural agar lebih menarik.
Pemasaran digital juga menjadi langkah penting untuk menjangkau pasar yang lebih luas dan meningkatkan daya saing produk keramik Dinoyo.
Dengan inovasi yang tepat dan dukungan dari berbagai pihak, Kampung Wisata Keramik Dinoyo masih bisa kembali bersinar. Jika dikelola dengan baik, Dinoyo bukan hanya akan bertahan, tetapi juga bisa menjadi ikon wisata kreatif yang membanggakan.
Di tangan para perajin Kampung Wisata Keramik Dinoyo, tanah liat bukan sekadar bahan baku, tetapi juga cermin dari kreativitas, perjuangan dan harapan. (*)
Artikel ini sebelumnya sudah tayang di TIMES Indonesia dengan judul: Kampung Wisata Keramik Dinoyo, Warisan Seni Kota Malang yang Menanti Sentuhan Baru
Pewarta | : Marisa Andriana (Magang MBKM) |
Editor | : Ronny Wicaksono |