TIMES JABAR, JAKARTA – Di tengah derasnya arus digital yang memengaruhi pola tumbuh kembang anak, sebuah dojo karate di Depok hadir sebagai alternatif pembinaan karakter, disiplin, dan prestasi generasi muda.
Dojo tersebut dikelola oleh Bratha, pegiat bela diri yang merupakan jebolan Perguruan GOKASI (Goju Ryu Karate di Shinbukan Indonesia). Sejak awal berdiri, dojo ini tidak semata diarahkan pada pencapaian prestasi, melainkan sebagai wadah penyaluran hobi sekaligus media pembentukan mental dan karakter anak.
Bratha menuturkan, kecintaannya terhadap karate yang telah lama ia tekuni mendorong keinginannya untuk berbagi nilai-nilai positif kepada anak-anak di lingkungan sekitarnya. Seiring waktu, dojo yang dikelolanya berkembang menjadi ruang pembinaan yang menekankan disiplin, ketangguhan mental, dan pengendalian diri.
“Karate bukan sekadar tendangan atau pukulan. Filosofi utamanya adalah disiplin dan ketangguhan mental,” ujar Bratha, Sabtu (17/1/2026).
Pembinaan prestasi difokuskan pada anak usia dini guna mempersiapkan mental dan materi dalam berbagai kancah kejuaraan. (FOTO: Dok. Dojo Karate Pak Bratha).
Menurutnya, latihan karate yang dilakukan secara konsisten dan terstruktur mampu membentuk kepribadian anak agar lebih fokus, bertanggung jawab, serta mampu mengendalikan emosi. Selain itu, bela diri juga berfungsi sebagai bekal dasar untuk menjaga diri dalam kehidupan sehari-hari.
Bratha menjelaskan, latihan karate juga memberikan dampak positif terhadap perkembangan kognitif anak. Gerakan terkoordinasi, latihan reaksi, serta pola latihan yang menuntut konsentrasi tinggi diyakini mampu mengaktifkan kemampuan berpikir dan daya tangkap anak.
“Saya sering melihat anak-anak yang awalnya sulit fokus, setelah rutin latihan karate justru menjadi lebih cepat menangkap pelajaran di sekolah,” ungkapnya.
Saat ini, dojo karate tersebut memiliki sekitar 15 siswa aktif yang berlatih secara rutin. Meski jumlahnya relatif terbatas, proses pembinaan dilakukan secara intensif dan terarah.
Selain mengelola dojo di Depok, Bratha juga terlibat dalam pembinaan karate di kawasan Pasar Minggu. Bersama tiga pelatih lainnya, ia membina sekitar 80 anak dari berbagai latar belakang dengan fokus pada pengembangan kemampuan dasar hingga persiapan kompetisi.
Meski pembinaan prestasi menjadi salah satu tujuan, Bratha menegaskan bahwa nilai sportivitas, kerja keras, dan sikap rendah hati tetap menjadi prioritas utama dalam setiap latihan.
Di sisi lain, ia mengakui tantangan besar dalam pembinaan anak di era digital, terutama terkait penggunaan gawai. Menurutnya, penggunaan gadget yang berlebihan berpotensi mengurangi minat anak untuk bergerak aktif dan berlatih secara konsisten.
“Latihan tidak akan maksimal tanpa dukungan orang tua. Anak-anak perlu diarahkan agar mampu menyeimbangkan waktu antara bermain gadget dan mengikuti kegiatan positif,” tegasnya.
Ke depan, Bratha berharap dojo karate yang ia kelola dapat terus berkembang sebagai ruang pembinaan generasi muda yang tidak hanya kuat secara fisik, tetapi juga matang secara mental dan karakter. Di tengah tantangan teknologi, dojo ini menjadi contoh bagaimana hobi yang ditekuni secara serius dapat memberi manfaat sosial yang luas.(*)
| Pewarta | : Mutakim |
| Editor | : Imadudin Muhammad |