Ribuan Bobotoh Majalengka Nobar Final Piala Presiden 2026, Persib Tumbang Lewat Adu Penalti
Kekalahan tersebut tidak memadamkan semangat para Bobotoh di Majalengka. Justru, suasana tetap kondusif dan penuh kebersamaan hingga akhir acara.
MAJALENGKA – Malam di Saung Nganteur Kahayang, Desa Salagedang, Kecamatan Sukahaji, Kabupaten Majalengka, berubah menjadi lautan biru penuh harap.
Ribuan Bobotoh memadati lokasi nonton bareng (nobar) final Piala Presiden 2026, menyaksikan laga panas antara Persib Bandung melawan Persebaya Surabaya, Kamis (6/8/2026).
Di layar besar, duel berlangsung ketat sejak menit awal. Persib Bandung dan Persebaya Surabaya bermain imbang 1-1 hingga peluit panjang dibunyikan. Ketegangan memuncak saat pertandingan harus ditentukan lewat adu penalti.
Dalam momen penuh drama di Stadion Kapten I Wayan Dipta, Gianyar, Bali, Persib akhirnya harus mengakui keunggulan Persebaya dengan skor 5-6.
Sorak sorai yang semula menggema perlahan berubah menjadi hening bercampur haru.
Namun, kekalahan tersebut tidak memadamkan semangat para Bobotoh di Majalengka. Justru, suasana tetap kondusif dan penuh kebersamaan hingga akhir acara.
Anggota DPR RI, Ateng Sutisna, yang turut hadir dalam nobar tersebut, menyampaikan apresiasi kepada seluruh Bobotoh yang hadir dengan tertib.
"Saya mengucapkan terima kasih kepada seluruh Viking Alengka dan Bobotoh Persib. Walaupun tim kesayangan kita belum berhasil menjadi juara, kita tetap harus semangat. Saya bangga karena semua berjalan tertib, tidak ada keributan," ujarnya.
Ia mengakui momen adu penalti menjadi titik paling menegangkan. Bahkan, dirinya sempat optimis Persib akan keluar sebagai juara.
"Saya sampai sekarang masih lemas. Saya tidak menyangka. Tadinya optimis Persib menang, bahkan saya sempat bernazar mau cukur kumis kalau menang," ucapnya sambil tersenyum.
Ateng menegaskan, dukungan terhadap Persib Bandung tidak akan pernah surut. Ia juga berkomitmen terus memfasilitasi kegiatan nobar di lokasi tersebut sebagai ruang kebersamaan masyarakat.
"Selama Viking menghendaki tempat Saung Nganteur Kahayang ini untuk nobar, saya siap memfasilitasi. Ini tempat kita bersama untuk beraktivitas dan berkreasi," katanya.
Sementara itu, Ketua Viking Alengka, Babam Arurrahman, mengakui kekecewaan atas hasil pertandingan.
Namun, ia mengajak seluruh Bobotoh untuk tetap bersyukur dan melihat peluang lebih besar di kompetisi mendatang.
"Kami tentu kecewa, tapi ini patut disyukuri. Ada mitos, kalau juara Piala Presiden biasanya tidak juara liga. Mudah-mudahan Persib bisa juara liga lagi untuk keempat kalinya berturut-turut," ungkapnya.
Babam juga menyoroti faktor kelelahan pemain sebagai salah satu penyebab hasil akhir, mengingat waktu istirahat yang sangat singkat menjelang laga final.
"Pemain mungkin kelelahan, waktu istirahat hanya sekitar satu setengah hari. Konsentrasi juga pasti terpengaruh," jelasnya.
Lebih dari sekadar pertandingan, nobar ini menjadi simbol kuat solidaritas dan kecintaan masyarakat Majalengka terhadap Persib Bandung.
Ribuan Bobotoh yang hadir menunjukkan bahwa loyalitas tidak hanya hadir saat kemenangan, tetapi juga tetap teguh dalam kekalahan.
Harapan pun kembali disematkan. Dengan keikutsertaan Persib di berbagai kompetisi, termasuk liga domestik dan ajang Asia, optimisme terus menyala di hati para pendukung.
"Semoga Persib bisa juara lagi dan melangkah lebih jauh di Piala Asia. Mudah-mudahan dari semua kompetisi yang diikuti, Persib bisa meraih hasil terbaik," tutup Babam.
Malam itu, di bawah langit Majalengka, kekalahan tidak menghapus cinta. Justru, ia mempertegas satu hal: Persib bukan sekadar tim, melainkan kebanggaan yang terus hidup di hati para Bobotoh. (*)
Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu! Klik 👉 Channel TIMES Indonesia. Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.
Berita ini juga tayang di portal nasional
Baca versi lengkapnya di jaringan nasional kami.

