Ratusan Pramuniaga Asia Plaza Tasikmalaya antusias mengikuti edukasi layanan bahasa isyarat di Mall Asia Plaza Tasikmalaya, Selasa (4/8/2026) (FOTO: Harniwan Obech/TIMES Indonesia)

Papeditas Dorong Mall Asia Plaza Wujudkan Layanan Inklusif di Kota Tasikmalaya

Sebagai pusat perbelanjaan terbesar di wilayah Priangan Timur, Mall Asia Plaza selama ini telah menyediakan berbagai fasilitas fisik yang ramah bagi penyandang disabilitas.

TIMES Jabar,Selasa 4 Agustus 2026, 12:39 WIB
320
H
Harniwan Obech

TASIKMALAYATepuk tangan bergema di Area Fashion Lantai  GF Mall Asia Plaza, Kota Tasikmalaya, Selasa (4/8/2026)

Di hadapan para pemateri dari Paguyuban Pegiat Disabilitas Tasikmalaya (Papeditas), tak kurang dari  300 karyawan ( pramuniaga, kasir) SPG,SPB tampak serius memperagakan gerakan demi gerakan bahasa isyarat.

Sebagian masih canggung, sebagian lainnya sesekali tersenyum ketika gerakan tangan mereka dikoreksi.

Namun, dari ruang itulah lahir sebuah kesadaran baru untuk melayani pengunjung bukan hanya soal keramahan, melainkan juga kemampuan berkomunikasi dengan semua orang tanpa terkecuali.

Sebagai pusat perbelanjaan terbesar di wilayah Priangan Timur, Mall Asia Plaza selama ini telah menyediakan berbagai fasilitas fisik yang ramah bagi penyandang disabilitas. 

Kursi roda tersedia, toilet khusus disabilitas telah dibangun, begitu pula akses bagi pengguna kursi roda dan penyandang tuna daksa. Fasilitas tersebut menjadi bagian dari komitmen menghadirkan ruang publik yang lebih mudah diakses.

Namun, di balik kelengkapan infrastruktur itu, manajemen menyadari masih terdapat satu celah yang tidak kalah penting, yakni kualitas komunikasi antara petugas layanan dengan pengunjung penyandang disabilitas, terutama mereka yang menggunakan bahasa isyarat.

Kesadaran itulah yang mendorong manajemen menggandeng Papeditas untuk memberikan edukasi mengenai etika pelayanan disabilitas sekaligus pengenalan bahasa isyarat kepada para pramuniaga dan petugas keamanan.

Chief HRD Mall Asia Plaza, Bonny Hastuti Yuniasih, mengatakan sebuah pusat perbelanjaan modern tidak cukup hanya menghadirkan bangunan yang aksesibel. Pelayanan terbaik nya dari sisi manusianya juga harus inklusif.

"Mall Asia Plaza merupakan mall terbesar di Priangan Timur. Tentunya kami harus memberikan layanan terbaik bagi seluruh pengunjung, termasuk kaum disabilitas," ujar Bonny Hastuti kepada TIMES Indonesia, Selasa (4/8/2026)..

Ia menyebut, secara fisik aksesibilitas di mall sudah memadai dengan tersedianya kursi roda, toilet disabilitas, hingga fasilitas bagi tuna daksa.

"Namun di balik itu, SDM kami seperti pramuniaga, kasir,Spg,Spb,maupun satuan pengamanan belum semuanya mahir menggunakan bahasa isyarat ketika melayani pengunjung berkebutuhan khusus," imbuhnya.

Menurutnya, jumlah sumber daya manusia di Asia Plaza cukup besar sehingga proses peningkatan kapasitas tidak mungkin dilakukan dalam satu kali pelatihan.

"Karena SDM kami banyak sekali, edukasi ini akan dibagi dalam beberapa season agar seluruh karyawan bisa mengikuti pelatihan yang diberikan Papeditas. Insya Allah hari Kamis nanti kami lanjutkan dengan tim supermarket," katanya.

Pernyataan itu menggambarkan bahwa inklusivitas bukan sekadar program seremonial, melainkan proses panjang yang membutuhkan pembelajaran berkelanjutan.

Sementara itu Operational Manager Mall Asia Plaza, Roni Apriliansyah yang hadir saat acara, menilai kualitas pelayanan kepada penyandang disabilitas harus berkembang seiring meningkatnya kesadaran masyarakat terhadap hak-hak kelompok rentan.

Menurutnya, pengunjung yang datang ke pusat perbelanjaan memiliki latar belakang yang beragam. Karena itu, setiap karyawan perlu dibekali kemampuan memahami kebutuhan pelanggan, termasuk mereka yang mengalami hambatan pendengaran maupun komunikasi.

Di hadapan ratusan peserta, para fasilitator Papeditas tidak hanya mengajarkan alfabet bahasa isyarat, tetapi juga etika sederhana saat berinteraksi dengan penyandang disabilitas. 

Mereka memperagakan cara menyapa, meminta izin sebelum membantu pengguna kursi roda, hingga pentingnya menjaga kontak mata ketika berkomunikasi dengan penyandang tuli.

Materi-materi tersebut tampak sederhana. Namun bagi dunia pelayanan publik, keterampilan seperti itu sering kali menjadi pembeda antara layanan yang sekadar tersedia dengan layanan yang benar-benar menghadirkan rasa dihargai.

Sementara itu Pembina Papeditas, Harniwan Obech, menyampaikan apresiasi kepada manajemen Asia Plaza yang membuka ruang kolaborasi bersama komunitas disabilitas.

Menurutnya, langkah tersebut menjadi contoh nyata bahwa dunia usaha memiliki peran penting dalam menciptakan kota yang lebih ramah bagi semua warganya.

"Terima kasih kepada manajemen Asia Plaza atas kesempatan dan kepercayaan yang diberikan kepada Papeditas," kata Harniwan.

Ia memaparkan, di Kota Tasikmalaya terdapat sekitar 2.200 penyandang disabilitas yang tentu memerlukan perhatian bersama.

"Ketika pusat perbelanjaan mulai membangun pelayanan yang inklusif, masyarakat penyandang disabilitas akan merasa lebih dihargai dan lebih percaya diri mengakses ruang publik," ujar Harniwan yang akrab disapa Mang Obech.

Sementara itu, Tim Papeditas yang terdiri dari Aris Rahman, didampingi Eka Rosvita dan Filza Hermatiana, menegaskan bahwa kesetaraan merupakan amanat konstitusi yang harus diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari.

Mereka mengingatkan bahwa Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2016 tentang Penyandang Disabilitas telah menjamin hak penyandang disabilitas untuk memperoleh pelayanan yang setara di berbagai sektor, termasuk sektor perdagangan dan jasa.

"Kami salut kepada Asia Plaza yang sudah memberikan ruang terhadap tujuan dan cita-cita Tasikmalaya menjadi Kota Inklusi," ujar Aris.

"Ke depan, tidak hanya sektor niaga. Mudah-mudahan edukasi di Asia Plaza bisa menjadi inspirasi untuk dilanjutkan kepada tenaga medis di rumah sakit sehingga pelayanan kesehatan juga semakin inklusif," sambungnya.

Harapan tersebut memperlihatkan bahwa pelatihan di Asia Plaza bukan sekadar meningkatkan kompetensi pramuniaga.  Ia juga menjadi contoh bagaimana perubahan dapat dimulai dari satu institusi, kemudian menjalar ke sektor lain.

Bagi penyandang disabilitas, hambatan terbesar sering kali bukan anak tangga atau pintu yang sempit. Hambatan itu justru muncul ketika tidak ada orang yang memahami cara berkomunikasi, tidak mengetahui etika membantu, atau tidak memiliki empati terhadap kebutuhan mereka.

Karena itu, langkah yang dilakukan Asia Plaza memberi pesan bahwa pembangunan ruang publik yang inklusif tidak berhenti pada pembangunan fasilitas fisik. Ia harus disertai perubahan cara berpikir, peningkatan kapasitas sumber daya manusia, dan kemauan belajar dari komunitas penyandang disabilitas sendiri. (*)

Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu! Klik 👉 Channel TIMES Indonesia. Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.

Berita ini juga tayang di portal nasional

Baca versi lengkapnya di jaringan nasional kami.

Baca di sini
Penulis:Harniwan Obech
|
Editor:Ronny Wicaksono

News Logo

Media Online No 1 Pembangun Ketahanan Informasi di Jawa Barat, Menyajikan Berita Terkini Seputar Berita Politik, Bisnis, Olahraga, Artis, Hukum, yang membangun, menginspirasi, dan berpositif thinking berdasarkan jurnalisme positif.

Kanal Utama

    Kontak Kami

    • Jl. Besar Ijen No.90, Oro-oro Dowo, Kec. Klojen, Kota Malang, Jawa Timur 65116
    • (0341) 563566
    • [email protected]

    Berlangganan

    Dapatkan berita terbaru langsung di inbox Anda

    Member Of

    Logo WANIFRALogo AMSILogo Dewan PersLogo Trusted

    SUPPORTED BY

    Logo Varnion
    © 2025 TIMES Indonesia. All rights reserved.