Seorang warga saat memperlihatkan seekor ikan bebeong hasil ngobeng di Leuwi Kopo Sungai Citanduy, Desa Cijulang, Kecamatan Cihaurbeuti, Kabupaten Ciamis. Senin (10/8/2026) (FOTO: Harniwan Obech/TIMES Indonesia Priangan Timur)

Saat Kemarau Menyatukan Warga dan Komunitas Pecinta Sungai dalam Tradisi Ngobeng di Sungai Citanduy

Tradisi Ngobeng telah menjadi tradisi yang mempertemukan warga dari berbagai daerah sekaligus menjadi ruang silaturahmi komunitas yang memiliki kecintaan terhadap Sungai Citanduy.

TIMES Jabar,Senin 10 Agustus 2026, 20:34 WIB
209
H
Harniwan Obech

CIAMISSejak pagi, bantaran Sungai Citanduy di kawasan Leuwi Kopo, Desa Cijulang, Kecamatan Cihaurbeuti, Kabupaten Ciamis, Jawa Barat, mulai ramai oleh aktivitas warga. Senin (10/8/2026).

Satu per satu mereka datang membawa perlengkapan sederhana. Ada yang menggantungkan joran di pinggang, mengenakan kaus tangan, membawa jala, hingga menyiapkan wadah untuk menampung ikan hasil tangkapan.

Namun, mereka bukan datang untuk sekadar menikmati suasana sungai mereka datang untuk ngobeng.

Di tengah musim kemarau yang berlangsung cukup panjang, debit Sungai Citanduy menyusut. Aliran air yang biasanya lebih deras kini menjadi dangkal di sejumlah titik. Batu-batu sungai bermunculan. Celah di antara rumpun bambu lebih mudah dijangkau.

Kondisi tersebut justru dimanfaatkan ratusan warga dan komunitas pecinta lintar dari sejumlah daerah untuk turun langsung ke sungai.

Dengan pakaian seadanya, mereka masuk ke air dan menyusuri bagian sungai yang dangkal. Tangan meraba sela-sela bebatuan, akar, dan rumpun bambu yang menjadi tempat ikan bersembunyi.

Sebagian menggunakan jala. Sebagian lainnya memilih cara yang jauh lebih tradisional dengan menangkap ikan menggunakan tangan kosong.

Bagi masyarakat sekitar, kegiatan itu bukan sekadar aktivitas menangkap ikan. Ngobeng telah menjadi tradisi yang mempertemukan warga dari berbagai daerah sekaligus menjadi ruang silaturahmi komunitas yang memiliki kecintaan terhadap Sungai Citanduy.

Andi, warga Kampung Manggungsari, Rajapolah, Kabupaten Tasikmalaya menjadi salah seorang peserta yang ikut turun ke Sungai Citanduy.

Ia datang bersama warga lainnya untuk mencoba peruntungan mendapatkan ikan dengan cara diobeng.

Menurut Andi, hasil yang diperolehnya cukup lumayan. Dalam aktivitas tersebut, ia mengaku mendapatkan ikan hingga sekitar 10 kilogram.

Ikan-ikan tersebut ditemukan di tepi sela-sela rumpun bambu dan bagian sungai yang memiliki arus lebih tenang. “Alhamdulillah hasilnya lumayan, dapat belasan ikan dari sela-sela rumpun bambu,” kata Andi.

Rumpun bambu menjadi salah satu lokasi yang banyak didatangi peserta ngobeng. Di tempat seperti itu, ikan biasanya mencari perlindungan dari arus sekaligus memanfaatkan bagian sungai sebagai habitat untuk mencari makanan.

Beberapa jenis ikan yang menjadi sasaran warga antara lain bebeong atau baung, banca yang oleh warga dikenal sebagai sejenis nilem, serta balar dan ikan lainnya yang masih ditemukan di aliran Citanduy.

Bagi para peserta, setiap gerakan tangan di sela batu dan akar bisa menjadi kejutan. Ada yang pulang dengan beberapa ekor ikan, ada pula yang mendapatkan hasil tangkapan dalam jumlah lebih banyak.

Peserta yang datang dari Rajapolah, Ciamis, Ciawi dan daerah lainnya mengaku dapat memperoleh beberapa ekor ikan dalam sekali menebarkan jala.

Di tengah riuh warga yang turun ke sungai, aktivitas tersebut menghadirkan pemandangan yang khas.

Sungai yang biasanya hanya dilewati aliran air berubah menjadi ruang berkumpul.

Ada warga yang sibuk mencari ikan, ada yang membantu memasukkan hasil tangkapan ke wadah, sementara yang lainnya berbincang dengan sesama peserta.

Bagi Suryana Itok (46), warga Sukaresik, Kecamatan Ciawi, aktivitas ngobeng bukanlah kegiatan baru.

Ia telah menekuni hobi tersebut selama sekitar dua dekade. Selama puluhan tahun turun ke Sungai Citanduy, Itok menyaksikan perubahan kondisi sungai dari waktu ke waktu.

Ia masih mengingat masa ketika air Citanduy terlihat lebih jernih. Dasar sungai, menurut dia, masih dapat terlihat dari permukaan. Berbagai jenis biota sungai pun relatif mudah ditemukan.

Namun, kondisi tersebut kini berubah. Itok mengaku prihatin melihat kondisi Sungai Citanduy yang menurutnya semakin tidak sehat.

“Kalau dulu airnya jernih, bahkan bisa terlihat dasar sungai. Sekarang kotor dan gatal. Ikan jeler teu aya, apalagi hurang tos aya (Ikan jeler sudah tidak ada apalagi udang),” ujar Itok.

Dalam bahasa Sunda, teu aya berarti tidak ada. Ucapan Itok menggambarkan keresahannya karena beberapa jenis ikan dan biota sungai yang dahulu mudah ditemukan kini semakin sulit dijumpai.

Menurut dia, perubahan tersebut bukan semata-mata akibat kondisi alam. Ia menilai persoalan pencemaran dan praktik penangkapan ikan menggunakan cara-cara yang merusak ikut membuat populasi ikan semakin berkurang.

“Selain pencemaran juga akibat disetrum dan diportas, jadi laukna jadi mubazir,” katanya.

Penggunaan setrum dan bahan peledak untuk menangkap ikan, selain merusak ekosistem, menurut Itok juga membuat ikan yang seharusnya bisa dimanfaatkan secara berkelanjutan justru mati tanpa seluruhnya dapat dikonsumsi.

Ia berharap Sungai Citanduy kembali mendapatkan perhatian. Bagi Itok, sungai bukan hanya tempat mencari ikan.

Di sanalah masyarakat sejak lama menggantungkan berbagai aktivitas, termasuk memenuhi kebutuhan pangan dan membangun hubungan sosial antarsesama warga.

Aktivitas ngobeng juga memiliki nilai ekonomi bagi sebagian warga. Itok mengaku hasil tangkapan dari sungai terkadang menjadi tambahan penghasilan untuk keluarganya.

Ikan hasil tangkapannya biasanya sudah memiliki pembeli sebelum dirinya turun ke sungai. Ia menjual ikan dengan harga sekitar Rp30.000 hingga Rp50.000, tergantung jenis dan jumlah tangkapan.

Tidak ada tengkulak atau bandar khusus yang menampung hasil tangkapannya. Pembeli biasanya merupakan warga yang memang sudah memesan sebelumnya.

“Teu aya bandar nu khusus, saha we nu bade ngagaleuh (tidak ada bandar khusus. Siapa saja yang ingin membeli dapat menjadi pembeli.),” kata Itok.

Pola sederhana tersebut menunjukkan bahwa tradisi menangkap ikan di sungai masih memiliki hubungan langsung dengan kehidupan ekonomi masyarakat.

Namun, bagi Itok, uang bukan satu-satunya alasan. Ada kesenangan tersendiri ketika kembali turun ke sungai, bertemu teman-teman lama, merasakan arus air, serta mengingat masa ketika Sungai Citanduy masih menjadi bagian penting dari kehidupan masyarakat.

Di antara warga yang turun ke sungai, terlihat pula peserta dari berbagai daerah.

Mereka datang bukan hanya dari Desa Cijulang dan wilayah sekitar Cihaurbeuti, tetapi juga dari Ciawi, Rajapolah, Sukaresik dan daerah lainnya.

Itok menyebut kegiatan tersebut sebagai salah satu media silaturahmi antarkomunitas pecinta sungai.

Mereka memiliki kegemaran yang sama dimana  berada di sungai dan mencari ikan dengan cara tradisional.

Bagi mereka, ngobeng menciptakan pengalaman yang berbeda dibandingkan aktivitas memancing biasa. Tidak ada jarak antara satu peserta dengan peserta lainnya.

Ketika seseorang menemukan ikan, peserta lain dapat ikut membantu. Ketika ada yang kesulitan mencari ikan di sela rumpun bambu, teman di dekatnya ikut memberikan petunjuk. Di situlah nilai kebersamaan tumbuh.

Tradisi tersebut juga memperlihatkan bagaimana masyarakat masih memiliki hubungan yang kuat dengan bentang alam di sekitarnya.

Kemarau yang bagi sebagian masyarakat dapat menjadi persoalan karena menyebabkan kekeringan, dalam konteks ini justru menghadirkan ruang bagi tradisi lama untuk kembali dilakukan.

Namun, di balik kegembiraan tersebut terdapat pesan lain yang lebih serius, kondisi sungai yang semakin dangkal dan perubahan kualitas air.

Kepala Desa Cijulang, Endang Hidayat, mengatakan kegiatan ngobeng telah menjadi tradisi tahunan masyarakat setiap musim kemarau.

Menurut dia, ketika debit air Sungai Citanduy menyusut, sejumlah bagian sungai menjadi lebih dangkal sehingga ikan lebih mudah ditemukan.

“Tradisi ini rutin dilakukan ketika kemarau. Pesertanya bukan hanya warga setempat, tetapi juga komunitas lintar dari Ciawi, Rajapolah dan wilayah lainnya,” ujar Endang.

Kegiatan tersebut sekaligus mempertemukan masyarakat dari berbagai daerah. Warga lokal dan komunitas pecinta lintar dapat berinteraksi secara langsung di sepanjang aliran Sungai Citanduy.

Bagi masyarakat Desa Cijulang, tradisi tersebut menjadi bagian dari kehidupan sosial yang terus diwariskan.

Sungai Citanduy bukan sekadar aliran air yang membelah wilayah Jawa Barat. Sungai ini menjadi bagian penting dari kehidupan masyarakat di sejumlah wilayah yang dilaluinya.

Di kawasan Leuwi Kopo, hubungan masyarakat dengan sungai terlihat begitu nyata. Ketika air menyusut, warga datang membawa jala.

Ketika rumpun bambu menjadi tempat persembunyian ikan, tangan-tangan mereka menyusuri sela-selanya. Ketika ikan berhasil ditangkap, sebagian dibawa pulang untuk dikonsumsi, sebagian lainnya dijual kepada warga yang telah memesan.

Tetapi dari kegiatan sederhana itu juga muncul kekhawatiran. Orang-orang yang telah puluhan tahun mengenal Citanduy mulai membandingkan sungai masa lalu dengan sungai hari ini.

Air yang dahulu jernih disebut kini lebih kotor. Sejumlah jenis ikan yang dulu mudah ditemukan mulai jarang terlihat.

Cerita Itok menjadi salah satu kesaksian warga yang menggambarkan perubahan tersebut.

Tradisi ngobeng akhirnya memperlihatkan dua wajah Sungai Citanduy sekaligus. Di satu sisi, sungai masih mampu menjadi sumber ikan, ruang rekreasi, tempat bertemu dan sarana silaturahmi.

Di sisi lain, perubahan kualitas lingkungan menjadi alarm bahwa keberlangsungan tradisi tersebut sangat bergantung pada kesehatan sungai. Sebab, tanpa ikan dan ekosistem yang sehat, tradisi ngobeng perlahan hanya akan menjadi cerita.

Mungkin karena itu, bagi masyarakat yang sejak lama mengenal Citanduy, turun ke sungai bukan hanya soal membawa pulang ikan.

Ada kenangan yang ingin mereka pertahankan. Ada kebersamaan yang ingin terus dijaga. Dan ada sungai yang ingin mereka lihat kembali sehat seperti dahulu.

Di Leuwi Kopo, ketika kemarau membuat air Citanduy menyusut, ratusan orang turun ke sungai. Mereka mencari ikan dengan tangan, jala dan cara-cara yang diwariskan dari generasi sebelumnya.

Namun, di balik riuhnya ngobeng, terselip satu pertanyaan yang lebih penting, sampai kapan Sungai Citanduy mampu menyediakan ikan bagi masyarakat jika kesehatan ekosistemnya terus tertekan?

Pertanyaan itu barangkali tak terjawab dalam satu musim kemarau. Tetapi bagi warga yang masih turun ke Citanduy, jawabannya akan sangat menentukan apakah tradisi ngobeng akan tetap menjadi bagian kehidupan masyarakat atau kelak hanya tinggal kenangan. (*)

Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu! Klik 👉 Channel TIMES Indonesia. Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.

Berita ini juga tayang di portal nasional

Baca versi lengkapnya di jaringan nasional kami.

Baca di sini
Penulis:Harniwan Obech
|
Editor:Ronny Wicaksono

News Logo

Media Online No 1 Pembangun Ketahanan Informasi di Jawa Barat, Menyajikan Berita Terkini Seputar Berita Politik, Bisnis, Olahraga, Artis, Hukum, yang membangun, menginspirasi, dan berpositif thinking berdasarkan jurnalisme positif.

Kanal Utama

    Kontak Kami

    • Jl. Besar Ijen No.90, Oro-oro Dowo, Kec. Klojen, Kota Malang, Jawa Timur 65116
    • (0341) 563566
    • [email protected]

    Berlangganan

    Dapatkan berita terbaru langsung di inbox Anda

    Member Of

    Logo WANIFRALogo AMSILogo Dewan PersLogo Trusted

    SUPPORTED BY

    Logo Varnion
    © 2025 TIMES Indonesia. All rights reserved.