Aktivis Sosial Garut Elsa Rosmiati: Perempuan Bukan Sekadar Pelengkap Kuota Legislatif
TIMES Jabar/Elsa Rosmiati, Seorang aktivis sosial perempuan asal Garut, Jawa Barat (FOTO: istimewa)

Aktivis Sosial Garut Elsa Rosmiati: Perempuan Bukan Sekadar Pelengkap Kuota Legislatif

Pasca pemilu terakhir, wajah legislatif semakin berwarna dengan hadirnya sosok-sosok perempuan yang datang bukan hanya untuk memenuhi syarat 30 persen, melainkan untuk membawa perubahan nyata.

TIMES Jabar,Rabu 11 Februari 2026, 16:30 WIB
793
A
Adis Cahyana

GARUTSelama puluhan tahun, gedung parlemen sering kali terasa seperti 'klub pria' yang kaku. Namun, memasuki tahun 2026, ada aroma perubahan yang lebih harum di lorong-lorong Senayan.

Pasca pemilu terakhir, wajah legislatif kita tidak lagi hanya didominasi jas hitam dan dasi, melainkan semakin berwarna dengan hadirnya sosok-sosok perempuan yang datang bukan hanya untuk memenuhi syarat 30 persen, melainkan untuk membawa perubahan nyata.

Menurut Elsa Rosmiati, aktivis sosial perempuan, saat ini, kita menyaksikan transisi menarik. Para perempuan yang melenggang ke kursi legislatif periode ini memiliki profil yang berbeda.

"Mereka adalah para aktivis lingkungan, pakar hukum, hingga penggerak ekonomi mikro yang sudah kenyang makan asam garam di lapangan," ujar Elsa saat ditemui di rumahnya, Senin (9/2/2026).

Mengapa Legislator Perempuan Penting?

Menurut Elsa, hukum yang lahir dari jemari perempuan cenderung memiliki perspektif yang lebih membumi.

Sebut saja pembahasan mengenai revisi Undang-Undang Perlindungan Anak atau kebijakan cuti melahirkan bagi ayah (paternity leave) yang kini mulai hangat diperdebatkan.

"Hal-hal yang dulu dianggap remeh atau urusan domestik, kini naik kelas menjadi agenda nasional yang krusial," jelasnya.

Namun, lanjut Elsa, tantangannya tidak sederhana. Masuk ke parlemen bagi seorang perempuan ibarat berjalan di atas tali tipis.

"Di satu sisi, mereka harus membuktikan ketegasan dalam fungsi pengawasan anggaran yang triliunan, namun di sisi lain, publik sering kali masih memberikan standar ganda yang menuntut mereka untuk tetap tampil lembut," ungkapnya.

Kehadiran mereka di kursi legislatif tahun 2026 ini bukan tentang kompetisi gender, melainkan tentang keseimbangan. Karena pada akhirnya, sebuah kebijakan publik yang sehat adalah kebijakan yang mampu mendengar suara dari kedua sisi meja.

Menurut Elsa, saat perempuan bicara di podium legislatif, ia tidak hanya membawa suaranya sendiri.

"Ia membawa harapan jutaan ibu, anak perempuan, dan komunitas yang selama ini suaranya hanya terdengar sayup-sayup di luar pagar gedung tinggi itu".,pungkasnya. (*)

Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu! Klik 👉 Channel TIMES Indonesia. Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.

Penulis:Adis Cahyana
|
Editor:Ronny Wicaksono

News Logo

Media Online No 1 Pembangun Ketahanan Informasi di Jawa Barat, Menyajikan Berita Terkini Seputar Berita Politik, Bisnis, Olahraga, Artis, Hukum, yang membangun, menginspirasi, dan berpositif thinking berdasarkan jurnalisme positif.

Kanal Utama

    Kontak Kami

    • Jl. Besar Ijen No.90, Oro-oro Dowo, Kec. Klojen, Kota Malang, Jawa Timur 65116
    • (0341) 563566
    • [email protected]

    Berlangganan

    Dapatkan berita terbaru langsung di inbox Anda

    Member Of

    Logo WANIFRALogo AMSILogo Dewan PersLogo Trusted

    SUPPORTED BY

    Logo Varnion
    © 2025 TIMES Indonesia. All rights reserved.