Misi 'Zero Accident' Fahira Meira Hanifah, Bangun Literasi Keselamatan dan Etika Lingkungan
Di usianya yang baru menginjak 17 tahun, Meira telah memetakan jalan hidupnya di antara deretan prestasi akademik dan pengabdian pada alam terbuka.
CIANJUR – Gadis remaja asal Kabupaten Cianjur itu tampak tenang saat menceritakan kegemarannya bergelut dengan medan ekstrem dan organisasi. Nampak bahwa Fahira Meira Hanifah bukanlah pelajar biasa.
Di usianya yang baru menginjak 17 tahun, anak keempat dari enam bersaudara yang akrab disapa Mei ini telah memetakan jalan hidupnya di antara deretan prestasi akademik dan pengabdian pada alam terbuka.
"Bagi saya sendiri dunia luar bukan sekadar tempat bermain, melainkan ruang kelas yang luas untuk bereksplorasi," kata Mei kepada TIMES Indonesia, pada Jumat (15/5/2026).
Ia mengaku sangat beruntung memiliki orang tua yang memberikan kebebasan penuh baginya untuk menekuni berbagai bidang, mulai dari organisasi alam terbuka hingga menjadi kreator konten.
Ayahnya, dengan dedikasi dalam mengelola usaha keluarga, menjadi inspirasi utama Mei untuk selalu bertanggung jawab dan disiplin dalam menjalani peran apa pun yang ia ambil.
Ketekunan Mei di bangku sekolah terlihat dari capaian prestasinya yang stabil di SMA Negeri 1 Cibeber, Kecamatan Cibeber, Kabupaten Cianjur, Provinsi Jawa Barat.
Dia tercatat meraih peringkat kedua saat kelas 10 dan peringkat kelima pada kelas 11, melanjutkan tren positif sejak masa SMPIT Al-Hanif yang selalu masuk lima besar.
Tak hanya itu, kemampuan literasinya dibuktikan dengan menyabet gelar Penulis Terbaik Antologi Puisi tingkat nasional pada 2022, juara cipta puisi tingkat Kabupaten Cianjur, hingga prestasi di lomba essay tingkat universitas.
Dedikasi di Jalur Organisasi dan Penyelamatan
Ketertarikan Mei pada dunia luar ruang membawanya menjadi sosok pemimpin yang tangguh di sekolah. Ia dipercaya menjabat sebagai Ketua Umum Sispala selama dua periode berturut-turut sejak 2023 hingga 2025.
Perannya semakin meluas saat ia didapuk menjadi Koordinator Umum FSPAC tingkat kabupaten, sebuah posisi yang memungkinkannya menggerakkan lebih banyak anak muda untuk peduli pada isu sosial dan lingkungan.
Gadis yang aktif di akun Instagram @mymeii_22 dan Tiktok @fahirameii_ ini juga membekali dirinya dengan kemampuan fisik yang mumpuni.
Mei adalah penyandang sabuk biru bela diri BKC serta anggota aktif Vertical Rescue Indonesia dan Sport Climbing SEACF.
"Pengalaman ini saya gunakan sebagai modal untuk mengedukasi rekan-rekan mengenai standar keamanan dan prosedur penyelamatan di medan vertikal," tuturnya sembari tersenyum manis.
Dijelaskan Mei bahwa saat ini minat generasi muda terhadap kegiatan outdoor sedang meningkat pesat. Baginya, hal ini adalah peluang besar untuk menyisipkan edukasi mengenai standar keselamatan dan etika lingkungan.
Dirinya secara khusus menekankan agar kegiatan tersebut tidak hanya sekadar mengikuti tren, tetapi juga dilakukan dengan cara yang aman dan penuh tanggung jawab agar risiko kecelakaan bisa diminimalisir.
Mimpi Zero Accident bagi Pecinta Alam
Membagi waktu antara kewajiban sekolah di tingkat akhir dengan panggilan jiwa di organisasi kemanusiaan bukanlah perkara mudah bagi Mei.
Ia mengakui bahwa tantangan terberatnya adalah menghadapi maraknya orang yang masih menganggap remeh prosedur keamanan saat berada di alam bebas.
"Namun dukungan dari rekan-rekan di Rimpatala, FSPAC, serta senior di Vertical Rescue Indonesia menjadi energi tambahan bagi saya untuk terus kuat dan bergerak," ungkap Mei menambahkan.
Lebih lanjut harapan Mei adalah terciptanya kesadaran kolektif di kalangan pecinta alam muda agar selalu mengutamakan keselamatan, tutur Mei dengan penuh keyakinan.
"Saya ingin melihat generasi muda yang tidak hanya tangguh secara fisik saat mendaki gunung, tetapi juga memiliki literasi yang kuat untuk menjaga ekosistem agar tetap lestari demi masa depan," tambahnya.
Melalui sinergi keahlian yang ia miliki, Mei bertekad untuk terus mengembangkan diri agar ilmu penyelamatan yang dikuasainya bisa lebih bermanfaat bagi masyarakat luas, baik dalam situasi darurat maupun edukasi rutin.
"Setiap jejaring yang dibangun adalah kesempatan untuk bertumbuh bersama," ujar Mei.
"Saya berpesan kepada sesama generasi muda untuk jangan pernah takut keluar dari zona nyaman, asalkan tetap membekali diri dengan ilmu yang mumpuni dan tetap rendah hati pada alam," tandasnya. (*)
Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu! Klik 👉 Channel TIMES Indonesia. Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.
Berita ini juga tayang di portal nasional
Baca versi lengkapnya di jaringan nasional kami.

