https://jabar.times.co.id/
Berita

E.Coli Diduga Cemari Sumber Air di Sudimoro Pacitan, Picu Kasus Diare

Jumat, 23 Januari 2026 - 14:41
E.Coli Diduga Cemari Sumber Air di Sudimoro Pacitan, Picu Kasus Diare Pengambilan sampel air yang dikonsumsi warga Desa Ketanggung, Kecamatan Sudimoro oleh Dinkes Pacitan. (FOTO: Yusuf Arifai/TIMES Indonesia)

TIMES JABAR, PACITAN – Lonjakan kasus diare di Kecamatan Sudimoro, Kabupaten Pacitan, diduga dipicu pencemaran sumber air oleh bakteri Escherichia coli (E. coli).

Hingga Jumat (23/1/2026), Dinas Kesehatan Pacitan mencatat 290 kasus diare, sementara cakupan sanitasi wilayah baru mencapai sekitar 70 persen.

Kepala Bidang Kesehatan Masyarakat Dinkes Pacitan, Nunuk Irawati, membenarkan adanya peningkatan signifikan laporan diare dari seluruh desa di Kecamatan Sudimoro. Data tersebut masih dalam proses verifikasi by name by address.

“Ada lonjakan kasus diare di Kecamatan Sudimoro. Data kita himpun dari seluruh desa. By name by address sedang kita kumpulkan,” kata Nunuk, Jumat (23/1/2026).

Ia menjelaskan, angka ratusan kasus yang beredar sebelumnya masih berupa laporan keluhan awal. Identitas pasien belum seluruhnya tercatat, namun seluruh penderita telah tertangani.

“Data yang kemarin terilis itu masih keluhannya, belum ada namanya. Tapi sejauh ini pasien tertangani dengan baik,” ujarnya.

Selain diare, keluhan yang banyak muncul adalah mual dan muntah. Laporan terbanyak masuk pada periode 12–19 Januari 2026 dan masih dicocokkan dengan data bidan desa. “Kami masih verifikasi dengan bidan desa. Keluhannya mual, muntah juga,” jelas Nunuk.

Dari hasil pemeriksaan sementara, dinkes mencurigai sumber air sebagai faktor utama penyebaran. Sampel feses pasien telah diambil, namun hasil laboratorium belum keluar. “Kemarin kita ambil sampel feses. Hasilnya belum keluar. Dugaan sementara mengarah ke sumber air,” katanya.

Langkah Penanganan Dinkes Pacitan

Sebagai langkah cepat, dinkes melakukan klorinasi pada sumber mata air di tiga wilayah, yakni Desa Ketanggungan, Klepu, dan Sudimoro. “Kita lakukan klorinisasi, uji T, untuk memutus mata rantai penularan,” tegasnya.

Dugaan pencemaran mengarah pada kontaminasi mikrobiologi, khususnya bakteri E. coli yang ditemukan pada sumber air. “Kita ambil dari sumur dan sumber air. Dugaan sementara ke E. coli,” tambah Nunuk.

Ia juga menyoroti persoalan sanitasi yang belum optimal. Hingga kini, cakupan sanitasi dan jamban layak di Sudimoro baru mencapai sekitar 70 persen. “Sanitasi baru jalan 70 persen. Jamban layak juga sekitar 70 persen. Ini tantangan kita,” katanya.

Sementara itu, Kepala Puskesmas Sukorejo, Anis Arahmaningtyas, menyebut peningkatan kasus diare di wilayah kerjanya terjadi pada periode 4–21 Januari 2026. Total tercatat 38 pasien rawat jalan dan satu pasien rawat inap.

“Ada peningkatan, tapi tidak signifikan dibanding sebelumnya,” ujar Anis.

Ia menegaskan, angka ratusan kasus yang beredar bukan berasal dari wilayah kerja Puskesmas Sukorejo. “Ratusan kasus itu bukan di wilayah kerja kami. Semua sudah kami laporkan ke dinkes,” tegasnya.

Menurut Anis, pihak puskesmas telah melakukan penyelidikan epidemiologi. Hasil pemeriksaan sampel air menunjukkan adanya bakteri E. coli. “Sampel air memang terdapat Escherichia coli,” ungkapnya.

Wilayah kerja Puskesmas Sukorejo meliputi Desa Sukorejo, Sumberejo, Pagerlor, dan Pager Kidul. Seluruh desa tersebut telah menjalani program jambanisasi, namun perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) masih perlu diperkuat.

“Diare ini penyakit berbasis lingkungan. PHBS masyarakat tetap kunci. Kami lakukan penyuluhan rutin,” jelas Anis.

Di wilayah kerja Puskesmas Sudimoro sendiri, hingga Jumat (23/1/2026) tidak ada pasien diare yang menjalani rawat inap.  Di tingkat warga, kasus diare sempat dirasakan masyarakat. Partin (60), warga Dusun Krajan, Desa Sudimoro, mengaku cucunya sempat mengalami diare ringan.

“Kemarin cucu saya sehari kena diare, mual dan panas, tapi sekarang sudah sembuh,” katanya.

Menurut Partin, kasus diare di lingkungannya sempat merebak dan menyerang berbagai kelompok usia, meski kini mulai mereda. “Sempat banyak yang kena, anak-anak sampai lansia. Sekarang sudah reda,” ujarnya. (*)

Pewarta : Yusuf Arifai
Editor : Ronny Wicaksono
Tags

Berita Terbaru

icon TIMES Jabar just now

Welcome to TIMES Jabar

TIMES Jabar is a PWA ready Mobile UI Kit Template. Great way to start your mobile websites and pwa projects.