https://jabar.times.co.id/
Berita

Peringati 13 Tahun Keistimewaan, Pemkot Yogyakarta Gelar Pameran 'Babad Siti Kemantren'

Minggu, 31 Agustus 2025 - 19:26
Peringati 13 Tahun Keistimewaan, Pemkot Yogyakarta Gelar Pameran 'Babad Siti Kemantren' Suasana pameran bertajuk Babad Siti Kemantren 2025 di Taman Budaya Embung Giwangan. (FOTO: Pemkot Yogyakarta for TIMES Indonesia)

TIMES JABAR, YOGYAKARTA – Semarak peringatan 13 tahun Keistimewaan Yogyakarta kembali terasa meriah. Pemkot Yogyakarta melalui Dinas Kebudayaan Pemerintah Kota Yogyakarta menggelar agenda tahunan bertajuk Babad Siti Kemantren 2025, yang berlangsung pada 31 Agustus–1 September di Taman Budaya Embung Giwangan.

Tahun ini, acara dihadirkan dengan tema penuh makna: “Sayuk Rukun Gregah Gumregah”, yang mengedepankan nilai kerukunan dan semangat kebersamaan masyarakat.

Kepala Dinas Kebudayaan Kota Yogyakarta, Yetti Martanti, menuturkan bahwa peringatan ini menjadi salah satu cara untuk mengekspos penanda keistimewaan yang ada di setiap wilayah.

Lewat program etalase mini showcase, masyarakat bisa menyaksikan langsung bagaimana keistimewaan Yogyakarta tidak hanya bertumpu pada Kraton, tetapi juga hidup dan berkembang di kemantren-kemantren.

“Keistimewaan Yogyakarta itu bukan hanya Kraton sebagai pusat kebudayaan, tapi juga bagaimana wilayah turut memperkuatnya lewat sejarah, tokoh, hingga warisan budaya. Itulah yang ingin kami tampilkan di Babad Siti Kemantren,” kata Yetti saat pembukaan, Minggu (31/8/2025).

Pameran Etalase Keistimewaan dari Tiap Kemantren

Dalam pameran kali ini, sejumlah kemantren menampilkan penanda khas yang menjadi simbol sejarah dan identitas budaya mereka. Misalnya:

  • Kemantren Gondokusuman menampilkan Memorabilia Petronella, yang mengangkat bangunan cagar budaya Rumah Sakit Bethesda sebagai rumah sakit pertama di Yogyakarta yang melayani masyarakat.
  • Kemantren Umbulharjo menghadirkan tema Jejak Luhur Ki Hajar Dewantara. Sosok Bapak Pendidikan Nasional itu pernah tinggal, berkarya, dan berjuang di kawasan Umbulharjo.
  • Kemantren Kotagede menonjolkan warisan kerajinan perak, yang hingga kini tetap menjadi ikon kebanggaan daerah.

Melalui etalase ini, masyarakat diajak untuk memahami mengapa Yogyakarta disebut istimewa, dengan menelusuri jejak sejarah, tokoh, dan budaya yang melekat di setiap wilayah.

Yetti menambahkan, Dinas Kebudayaan juga menyediakan panduan interaktif dan pendamping pemandu bagi pengunjung yang ingin menjelajahi penanda keistimewaan secara langsung di tiap kemantren.

Babad-Siti-Kemantren-2025-2.jpg

Wakil Wali Kota Yogyakarta, Wawan Harmawan, menyampaikan apresiasi atas konsistensi Dinas Kebudayaan menggelar kegiatan ini setiap tahun.

Menurutnya, momentum 13 tahun Keistimewaan Yogyakarta harus menjadi sarana memperkuat komunikasi dan kolaborasi antara masyarakat, pemerintah, dan Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat.

“Yang paling penting adalah masyarakat paham mengapa Yogya disebut istimewa. Bukan hanya sebatas peringatan seremonial, tapi juga tercermin dalam sikap dan perilaku warga sehari-hari,” ungkap Wawan.

Suara Pengunjung: Bangga dan Terinspirasi

Acara ini mendapat sambutan hangat dari warga dan wisatawan yang hadir. Salah satu pengunjung, Ratri (28), warga Umbulharjo, mengaku bangga dengan konsep pameran yang menghadirkan penanda keistimewaan secara nyata.

“Saya baru tahu kalau rumah Ki Hajar Dewantara juga ada di Umbulharjo. Rasanya bangga sekali karena wilayah tempat tinggal saya punya sejarah yang luar biasa,” ucapnya.

Senada, Budi Santoso (45), wisatawan asal Semarang, menilai kegiatan ini mampu memberikan edukasi budaya yang ringan namun menarik.

“Kalau biasanya sejarah itu hanya saya baca di buku, di sini saya bisa langsung melihat bukti nyata. Ini bagus sekali untuk anak-anak muda biar lebih paham budaya,” ujarnya.

Warisan yang Harus Terus Dilestarikan

Babad Siti Kemantren bukan sekadar ajang pameran budaya, tetapi juga menjadi pengingat bahwa keistimewaan Yogyakarta adalah warisan yang harus terus dijaga.

Melalui sinergi pemerintah, Kraton, dan masyarakat, diharapkan nilai-nilai budaya tidak hanya diperingati setiap tahun, tetapi benar-benar hidup dalam keseharian warga.

Dengan menonjolkan warisan budaya yang tersebar di tiap kemantren, Babad Siti Kemantren 2025 menjadi bukti bahwa Yogyakarta bukan hanya istimewa karena Keraton, melainkan karena seluruh masyarakatnya yang ikut menjaga sejarah dan kebudayaan. (*)

Pewarta : A Riyadi
Editor : Ronny Wicaksono
Tags

Berita Terbaru

icon TIMES Jabar just now

Welcome to TIMES Jabar

TIMES Jabar is a PWA ready Mobile UI Kit Template. Great way to start your mobile websites and pwa projects.