TIMES JABAR, MAJALENGKA – Bupati Majalengka H. Eman Suherman menegaskan komitmennya terhadap keterbukaan dan integritas dalam pelaksanaan Program Makanan Bergizi Gratis (MBG) di wilayah kota Angin.
Ia menyatakan tidak keberatan apabila para siswa memotret makanan MBG yang diterima, khususnya jika porsi atau nilainya tidak sesuai dengan harga yang telah ditetapkan, lalu mengunggahnya ke media sosial.
Menurut Bupati Eman Suherman, langkah tersebut justru mencerminkan transparansi serta menjadi bentuk kontrol bersama terhadap kualitas pelaksanaan program MBG di lapangan.
"Saya senang kalau anak-anak memfoto dan mengunggahnya di media sosial. Ini terbuka. Kalau ada yang kurang dari standar, silakan difoto rame-rame, tidak apa-apa. Itu lebih baik daripada ada orientasi keuntungan yang berlebihan," ujar Bupati Eman kepada TIMES Indonesia, Senin (5/1/2026).
Ia mengingatkan seluruh pihak yang terlibat dalam program MBG agar tidak terlena dengan potensi keuntungan besar, mengingat negara telah memberikan fasilitas dan dukungan yang signifikan demi menyukseskan program tersebut.
"Jangan sampai sudah diberi porsi luar biasa, biaya sewa sekian, tapi masih mengejar keuntungan berlebihan. Program ini harus kembali ke tujuan utamanya, yaitu untuk anak-anak," tegasnya.
Lebih lanjut, Bupati Majalengka H. Eman Suherman menekankan pentingnya integritas, keikhlasan, serta orientasi kemanusiaan dalam pelaksanaan Program Makanan Bergizi Gratis.
Ia berharap program strategis nasional ini benar-benar dijalankan demi kepentingan anak-anak, bukan semata-mata menjadi ladang keuntungan bagi pihak tertentu.
Bupati Eman juga menyampaikan harapan agar Program MBG dapat berjalan optimal, meskipun hingga kini masih menghadapi sejumlah tantangan. Menurutnya, keberlanjutan dan kualitas MBG ke depan sangat bergantung pada tanggung jawab para pengelola serta mitra pelaksana di lapangan.
"MBG ini mudah-mudahan bisa berjalan dengan baik. Kita juga belum tahu ke depan seperti apa, tapi saya berharap tahun 2026 program ini betul-betul dijalankan dengan penuh tanggung jawab," ujarnya.
Ia menegaskan agar para pelaksana MBG tidak melakukan manipulasi, baik dalam hal porsi maupun kualitas makanan. Program MBG, kata dia, tidak boleh berorientasi pada pencarian keuntungan semata, melainkan harus fokus pada pemenuhan hak dasar anak-anak untuk memperoleh asupan gizi yang layak.
"Saya berharap MBG ini jangan berorientasi cari keuntungan. Fokuslah pada anak-anak. Jangan ada itung-itungan yang merugikan mereka. Kalau seharusnya nilainya 10 ribu, jangan dikurangi. Anak-anak kita jangan dikorbankan, hak mereka jangan dikebiri," tegas Bupati Eman.
Ia juga mengingatkan bahwa para pengelola sejatinya telah memiliki ruang keuntungan yang wajar. Oleh karena itu, tidak ada alasan untuk mengurangi porsi maupun kualitas makanan yang disajikan kepada para siswa.
Lebih jauh, Bupati Eman menekankan bahwa Program MBG seharusnya dilandasi niat yang ikhlas. Menurutnya, terdapat nilai kebanggaan tersendiri bagi pengelola dapur atau FPPG yang mampu berkontribusi langsung dalam memenuhi kebutuhan gizi anak-anak, tanpa memandang latar belakang keluarga mereka.
"Bayangkan betapa bangganya ketika makanan yang disiapkan bisa menghidupi dan menyehatkan anak-anak yang kita bahkan tidak kenal siapa orang tuanya. Mereka bisa menikmati makanan bergizi dan menyehatkan, itu nilai kemanusiaannya," pungkasnya. (*)
| Pewarta | : Jaja Sumarja |
| Editor | : Ronny Wicaksono |