TIMES JABAR, CIANJUR – Balai Besar Taman Nasional Gunung Gede Pangrango bersama Direktorat PJL Kementerian Kehutanan kini meluncurkan terobosan teknologi demi keamanan para pecinta alam.
Langkah progresif ini diambil guna memastikan setiap individu yang melakukan aktivitas pendakian mendapatkan perlindungan yang lebih maksimal selama berada di kawasan konservasi tersebut.
"Melalui sistem ini, kami pengelola berharap angka kecelakaan atau pendaki hilang dapat ditekan seminimal mungkin," unggah akun resmi Instagram @ayoketamannasional dikutip TIMES Indonesia, pada Selasa (20/1/2026).
Salah satu fitur utama yang diperkenalkan adalah pemakaian gelang khusus yang telah dilengkapi dengan cip identitas frekuensi radio atau RFID.
Di mana setiap orang yang telah menyelesaikan proses pendaftaran naik gunung akan langsung dipasangkan gelang tersebut pada pergelangan tangan mereka.
"Alat ini memiliki peran vital untuk memonitor perpindahan posisi pendaki secara berkala di setiap lokasi pemeriksaan yang telah ditentukan," tambahnya.
Dengan adanya teknologi ini, pihak pengelola dapat menjamin bahwa seluruh data pergerakan pengunjung terekam dengan presisi sejak pertama kali mereka berangkat hingga kembali turun dari puncak.
Selain gelang pintar, lebih lanjut pihak taman nasional juga memasang fasilitas tombol darurat atau panic button di titik strategis sepanjang jalur pendakian.
Fasilitas ini dirancang sebagai sarana komunikasi cepat apabila seseorang mengalami situasi yang mengancam nyawa atau kondisi mendesak lainnya.
"Hanya dengan menekan satu tombol, sinyal bantuan akan terkirim secara otomatis ke pos pemantauan utama di bagian bawah sehingga petugas bisa segera bergerak memberikan pertolongan," tambahnya.
Saat ini lanjutnya, infrastruktur canggih tersebut mulai diuji coba pada jalur pendakian Gunung Putri, jalur Cibodas, serta area Surya Kencana, Kabupaten Cianjur.
Implementasi teknologi digital ini membawa perubahan besar pada sistem penyelamatan di gunung. Tim pencarian dan penyelamatan kini bisa bekerja dengan lebih sigap karena titik lokasi terakhir korban dapat dideteksi dengan tingkat akurasi yang jauh lebih tinggi.
Kemudian pengelola menjelaskan bahwa tujuan utama inovasi ini adalah efisiensi waktu dalam penanganan keadaan darurat agar proses evakuasi tidak memakan waktu lama.
"Meskipun pendakian merupakan hobi yang menantang, kami mengingatkan bahwa pulang dalam keadaan selamat tetap menjadi hukum yang wajib dipatuhi oleh semua pihak," tuturnya.
Kehadiran sistem baru ini sempat memicu diskusi hangat, terutama mengenai biaya tiket masuk. Menanggapi kekhawatiran masyarakat, pihak taman nasional menegaskan bahwa penambahan fasilitas keamanan ini sama sekali tidak memengaruhi harga karcis pendakian.
Masyarakat pun merespons positif penjelasan tersebut. Salah satunya dari pendaki bernama Adi Sumarna yang mengungkapkan bahwa ia menaruh harapan besar agar para pendaki turut memelihara fasilitas yang ada demi menghindari kerusakan oleh oknum yang tidak bertanggung jawab.
"Saya merespons positif dengan adanya sistem tersebut dan sangat berharap seluruh pendaki ikut menjaga fasilitas agar tidak dirusak oleh tangan-tangan jahil," tutur Adi Sumarna.
Diketahui penggunaan sistem serupa sebenarnya sudah diterapkan di jalur Selo Gunung Merbabu, namun kehadiran teknologi ini di Gede Pangrango tetap dianggap sebagai langkah besar bagi dunia pendakian Indonesia.(*)
Artikel ini sebelumnya sudah tayang di TIMES Indonesia dengan judul: Pendakian Gunung Gede Pangrango Kini Makin Aman dengan Teknologi RFID dan Tombol Darurat
| Pewarta | : Wandi Ruswannur |
| Editor | : Hendarmono Al Sidarto |