Kudapan Tradisional Imlek di Tasikmalaya, Kue Jawadah Korang Terjaga Sejak 1950
TIMES Jabar/Sejumlah Kue Jawadah Korang di etalase toko Man Sen Jalan Selakaso, Cihideung, Kota Tasikmalaya, Jawa Barat. Jumat (13/2/2026) (FOTO: Harniwan Obech/TIMES Indonesia)

Kudapan Tradisional Imlek di Tasikmalaya, Kue Jawadah Korang Terjaga Sejak 1950

Jelang Imlek, dapur milik Man Sen (61) tampak lebih sibuk dari hari-hari biasa. Di rumah inilah, kue Jawadah Korang, salah satu kudapan khas Imlek, diproduksi turun-temurun sejak 1950.

TIMES Jabar,Jumat 13 Februari 2026, 15:03 WIB
2.5K
H
Harniwan Obech

TASIKMALAYAAroma manis gula yang berpadu dengan tepung ketan putih kembali menguar dari sebuah rumah sederhana di Jalan Selakaso, Kecamatan Cihideung, Kota Tasikmalaya. 

Menjelang perayaan Tahun Baru Imlek 2026, dapur milik Man Sen (61) tampak lebih sibuk dari hari-hari biasa. Tungku menyala sejak pagi, adonan diaduk tanpa henti, dan cetakan kue tersusun rapi menunggu giliran diisi.

Di rumah inilah, kue keranjang atau kue Jawadah Korang, salah satu kudapan khas Imlek, diproduksi secara turun-temurun sejak 1950. 

Lebih dari tujuh dekade, tradisi ini terus dijaga oleh keluarga Hom Sen, menjadi denyut kecil namun bermakna dalam perayaan Tahun Baru Imlek di Kota Tasikmalaya.

Bagi Man Sen dan keluarganya, membuat kue keranjang bukan sekadar aktivitas ekonomi musiman. Proses panjang di dapur ini adalah ritual menjaga warisan budaya leluhur, sebuah ikhtiar merawat identitas dan nilai-nilai tradisi di tengah arus modernisasi yang kian cepat.

“Setiap jelang Tahun Baru Imlek, kami selalu memproduksi kue keranjang. Ini sudah menjadi tradisi keluarga sejak orang tua dan nenek moyang kami. Bukan hanya untuk dijual, tapi juga untuk menjaga warisan budaya,” ujar Man Sen saat ditemui TIMES Indonesia, Jumat (13/2/2026).

Setiap tahun, tanpa pernah terlewat, keluarga Man Sen tetap menyalakan tungku, mengaduk adonan, dan mencetak kue yang juga dikenal sebagai dodol Cina tersebut.

Aktivitas ini menjadi penanda datangnya Imlek, bukan hanya bagi keluarga Tionghoa, tetapi juga bagi masyarakat sekitar yang telah akrab dengan tradisi ini.

Imlek Tiba, Peminat Makin Luas

Pesanan kue Jawadah Korang biasanya mulai berdatangan beberapa pekan sebelum Imlek. Tidak hanya dari wilayah Kota Tasikmalaya, permintaan juga datang dari berbagai daerah di Jawa Barat, bahkan dari luar kota.

Menariknya, pelanggan kue keranjang buatan Man Sen tidak hanya berasal dari kalangan masyarakat Tionghoa. Banyak warga non-Tionghoa yang telah menjadi pelanggan setia karena menyukai cita rasa manis legit dan tekstur kenyal yang khas.

“Sekarang yang pesan bukan hanya dari etnis Tionghoa saja. Banyak juga dari masyarakat umum yang suka dodol dan kue keranjang,” katanya.

Pada Imlek tahun ini, Man Sen tetap mempertahankan pola produksi seperti tahun-tahun sebelumnya.

Dengan melibatkan lima orang pekerja, keluarganya mengolah sekitar 1.000 kilogram atau satu ton tepung beras ketan putih yang dipadukan dengan gula pasir berkualitas.

Proses pembuatan kue Jawadah Korang menuntut ketelatenan dan kesabaran tinggi. Adonan harus diaduk dalam waktu lama dengan tenaga besar hingga mencapai tekstur yang tepat—lengket, padat, dan kenyal—mirip dengan proses pembuatan dodol tradisional.

“Pembuatan kue Jawadah ini sama seperti membuat dodol, perlu tenaga dan waktu. Tapi tradisi ini selalu kami pertahankan setiap Imlek,” jelas Man Sen.

Tidak ada mesin modern yang menggantikan peran tangan manusia sepenuhnya. Resep lama, takaran bahan yang presisi, dan pengalaman bertahun-tahun menjadi kunci utama menjaga kualitas rasa.

Tantangan Tak Menyurutkan Semangat

Tahun ini, tantangan terbesar datang dari melonjaknya harga bahan baku. Tepung beras ketan putih mengalami kenaikan hingga Rp25 ribu per kilogram, sementara harga gula pasir mencapai Rp17.500 per kilogram.

Kondisi ini membuat para perajin kue tradisional harus berhitung lebih cermat agar usaha tetap bertahan.

Meski demikian, Man Sen memilih untuk tidak menghentikan produksi. Baginya, Imlek memiliki nilai budaya yang jauh lebih besar daripada sekadar hitung-hitungan keuntungan.

“Harga bahan baku memang naik, tapi produksi kue Jawadah tetap kami pertahankan. Ini sudah jadi tradisi setiap tahun,” ujarnya.

Kue Jawadah Korang dijual dengan harga Rp40 ribu per kilogram, tanpa dijual satuan. Harga tersebut dinilai masih terjangkau bagi konsumen sekaligus menjaga keberlangsungan usaha keluarga.

Bagi keluarga Man Sen, usaha kue keranjang ini menjadi tambahan penghasilan yang sangat berarti menjelang Tahun Baru Imlek. Namun lebih dari itu, usaha ini adalah simbol eksistensi warisan nenek moyang yang terus hidup di tengah perubahan zaman.

“Usaha ini kami jaga supaya tetap ada. Ini bukan hanya soal jualan, tapi menjaga peninggalan leluhur,” katanya.

Di tengah munculnya perajin kue keranjang baru dengan metode produksi modern, Man Sen tetap optimistis. Ia percaya bahwa resep asli warisan leluhur, penggunaan bahan alami, serta proses pembuatan tradisional menjadi nilai lebih yang tidak tergantikan.

“Kami masih pakai resep lama, dari tepung beras ketan putih dan gula pasir. Itu yang membuat rasa tetap khas,” paparnya.

Sarat Makna Filosofis

Kue keranjang dikenal dengan nama Nian Gao dalam bahasa Mandarin atau Ti Kwe dalam dialek Hokkian. Kue ini merupakan hidangan wajib saat perayaan Tahun Baru Imlek bagi masyarakat Tionghoa dan sarat dengan makna filosofis.

Wo Tjong Hoa, seorang warga keturunan Tionghoa yang tinggal di Jalan Tamansari Gobras, Tasikmalaya menjelaskan bahwa setiap unsur kue keranjang mengandung simbol kehidupan.

Menurutnya, tepung ketan putih melambangkan kesucian dan persaudaraan. Tekstur lengket mencerminkan ikatan keluarga yang erat dan tidak mudah terpisahkan. Rasa manis melambangkan kebahagiaan, suka cita, serta harapan hidup yang manis di tahun yang baru.

Sementara itu, bentuk kue yang padat dan kenyal menjadi simbol kegigihan, ketahanan hidup, dan kesetiaan. Daya tahan kue keranjang yang lama juga mencerminkan harapan akan rezeki yang terus mengalir sepanjang tahun.

“Jadi dalam tradisi kami, menyajikan kue keranjang saat Imlek dipercaya membawa keberuntungan, kemakmuran, dan hubungan keluarga yang harmonis di tahun yang baru,” terang Wo Tjong Hoa.

Wujud Pelestarian Tradisi

Lebih dari tujuh dekade sejak pertama kali dirintis pada 1950, kue Jawadah Korang tetap menjadi bagian penting dari denyut budaya Imlek di Kota Tasikmalaya. 

Di tangan Hom Sen dan keluarganya, kue keranjang bukan sekadar panganan musiman, melainkan simbol ketekunan, kesetiaan, dan keberlanjutan tradisi.

Di tengah perubahan zaman, naik-turunnya harga bahan baku, serta tantangan industri pangan modern, manisnya kue keranjang buatan Hom Sen terus mengikat kenangan, menyatukan keluarga dan mengalirkan harapan akan tahun yang lebih baik seperti makna yang terkandung di setiap gigitan kue keranjang itu sendiri. (*) 

Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu! Klik 👉 Channel TIMES Indonesia. Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.

Penulis:Harniwan Obech
|
Editor:Ronny Wicaksono

News Logo

Media Online No 1 Pembangun Ketahanan Informasi di Jawa Barat, Menyajikan Berita Terkini Seputar Berita Politik, Bisnis, Olahraga, Artis, Hukum, yang membangun, menginspirasi, dan berpositif thinking berdasarkan jurnalisme positif.

Kanal Utama

    Kontak Kami

    • Jl. Besar Ijen No.90, Oro-oro Dowo, Kec. Klojen, Kota Malang, Jawa Timur 65116
    • (0341) 563566
    • [email protected]

    Berlangganan

    Dapatkan berita terbaru langsung di inbox Anda

    Member Of

    Logo WANIFRALogo AMSILogo Dewan PersLogo Trusted

    SUPPORTED BY

    Logo Varnion
    © 2025 TIMES Indonesia. All rights reserved.