Dijadikan Tanaman Hias, Warga Pangandaran Sukses Pasarkan Tumbuhan Lokal Kadaka ke Jepang
Tanaman lokal kadaka, yang selama ini banyak dijumpai tumbuh menempel pada batang pohon kelapa kini berhasil dikembangkan menjadi tanaman hias bernilai ekonomi.
PANGANDARAN – Kreativitas warga Kabupaten Pangandaran dalam memanfaatkan potensi tanaman lokal kadaka kembali membuahkan hasil.
Tanaman kadaka, yang selama ini banyak dijumpai tumbuh menempel pada batang pohon kelapa kini berhasil dikembangkan menjadi tanaman hias bernilai ekonomi dan dipasarkan hingga ke Jepang.
Warga Pangandaran Yahya Saepul Uyun mengatakan, tanaman kadaka yang kerap dianggap sebagai tumbuhan liar ternyata memiliki daya tarik bagi penghobi tanaman hias.
"Kreativitas ini saya tekuni sejak tahun 2019 dengan nama merk Ri-Ya Greenhouse," kata Yahya Senin (24/8/2026).
Berasal dari Dusun Masawah RT 03/01 Desa Masawah Kecamatan Cimerak, Kabupaten Pangandaran keuletan Yahya berhasil memproduksi 500 pcs sampai 1000 pcs setiap bulan.
Untuk pendapatan per bulan dari produksi tanaman hias kadaka, rata-rata mendapat omset Rp.10.000.000.
"Dalam pelaksanaan pengembangan tanaman hias ini saya merekrut tenaga kerja 4 orang yang sudah memiliki talenta pengembangan tanaman hias," tambah Yahya.
Dalam pemasaran produk, Yahya juga memanfaatkan media sosial sehingga jangkauan dan lingkupnya berhasil terpublikasi ke luar negeri. "Termasuk yang dari Jepang pun dia bisa sampai kesini dari media sosial yang saya miliki," tegasnya.
Yahya juga pernah mengikuti Finalis WMP Jabar pada tahun 2022 dan mengharumkan Kabupaten Pangandaran.
Kepala Bidang Koperasi dan UMKM Dinas Koperasi UMKM Perdagangan dan Perindustrian Pangandaran Tina Maryana mengatakan, tanaman kadaka memiliki karakter daunnya yang khas, rimbun, serta karakter pertumbuhannya yang unik.
Kadaka memiliki nilai estetika ketika dikembangkan dan dirawat secara khusus.
Berasal dari kreativitas membuka peluang warga Pangandaran untuk berinovasi dan pengembangan tanaman kadaka secara lebih serius.
"Tanaman yang diperoleh dari lingkungan sekitar kemudian dipelihara, diperbanyak dan disiapkan menjadi tanaman hias yang memiliki nilai jual," kata Tina.
Keberhasilan menembus pasar Jepang menjadi bukti bahwa potensi ekonomi tidak selalu harus berasal dari komoditas pertanian yang sudah populer.
"Tanaman yang selama ini tumbuh secara alami di sekitar rumah dan perkebunan pun dapat menjadi sumber penghasilan apabila dikelola dengan kreativitas, ketekunan dan pemahaman terhadap kebutuhan pasar," terang Tina.
Pemasaran hingga ke Jepang juga menunjukkan adanya peluang pasar internasional terhadap tanaman hias dari Indonesia.
"Pangandaran yang dikenal sebagai daerah wisata dan memiliki kekayaan alam ternyata menyimpan potensi lain melalui pengembangan tanaman hias berbasis sumber daya lokal," tegasnya.
Pengembangan kadaka tersebut sekaligus membuka peluang ekonomi baru bagi masyarakat.
Tidak hanya bagi pembudidaya, tetapi juga bagi masyarakat yang terlibat dalam proses pencarian bahan tanaman, perawatan, pembibitan, pengemasan, hingga pemasaran.
Kisah ini menjadi contoh bahwa sesuatu yang sederhana dan selama ini dianggap biasa dapat memiliki nilai ekonomi tinggi ketika mendapatkan sentuhan inovasi.
Pohon kelapa yang selama ini identik dengan komoditas perkebunan ternyata juga dapat menjadi tempat tumbuh tanaman yang kemudian bernilai sebagai komoditas tanaman hias.
Dengan menjaga kualitas tanaman, memperkuat teknik budidaya, memperhatikan standar pengiriman, serta membangun jaringan pemasaran yang lebih luas, tanaman kadaka berpotensi menjadi salah satu produk unggulan tanaman hias dari Pangandaran.
Keberhasilan memasuki pasar Jepang bukan sekadar cerita tentang tanaman hias, tetapi juga tentang bagaimana masyarakat mampu melihat peluang dari lingkungan sekitar.
Dari tanaman yang tumbuh di batang pohon kelapa, muncul sebuah peluang usaha yang mampu menjangkau pasar hingga ke luar negeri.
Potensi tersebut tentu masih dapat dikembangkan lebih jauh dengan pendampingan, inovasi dan promosi yang konsisten, bukan tidak mungkin tanaman kadaka Pangandaran semakin dikenal oleh pasar tanaman hias nasional maupun internasional.
"Harga jual untuk di lokal tanaman kadaka tembus di harga Rp.75.000 dan ketika dipasarkan di Jepang tembus di harga Rp.120.000," pungkas Tina. (*)
Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu! Klik 👉 Channel TIMES Indonesia. Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.
Berita ini juga tayang di portal nasional
Baca versi lengkapnya di jaringan nasional kami.

