Penjualan Parcel di Kota Tasikmalaya Menurun, Perajin Ungkap Penyebabnya
TIMES Jabar/Awang (46) menata parcel di Ramayana Parcel, Jalan Tentara Pelajar, Jumat (13/3/2026) (FOTO: Harniwan Obech/TIMES Indonesia)

Penjualan Parcel di Kota Tasikmalaya Menurun, Perajin Ungkap Penyebabnya

Pengusaha parcel mengungkapkan bahwa penjualan tahun ini mengalami penurunan cukup signifikan, terutama dari pesanan perusahaan.

TIMES Jabar,Jumat 13 Maret 2026, 10:50 WIB
207
H
Harniwan Obech

TASIKMALAYAMenjelang momen hari raya, penjualan parcel lebaran yang biasanya mengalami lonjakan justru menunjukkan tren penurunan di Kota Tasikmalaya

Para perajin parcel mengaku mengalami penurunan omzet dibandingkan tahun sebelumnya.

Salah satu perajin parcel yang merasakan kondisi tersebut adalah Ina Tina, pemilik usaha parcel yang berlokasi di kawasan Jalan Tentara Kita.

Tina mengungkapkan bahwa penjualan parcel tahun ini mengalami penurunan cukup signifikan, terutama dari pesanan perusahaan.

article
Sejumlah pekerja saat menyusun parcel di Ramayana Parcel, Jalan Tentara Pelajar, Jumat (13/3/2026) (FOTO: Harniwan Obech/TIMES Indonesia)

Usaha yang sudah ia jalankan sejak tahun 2000 itu biasanya ramai menerima pesanan parcel dalam jumlah besar menjelang hari raya. Namun pada tahun ini, jumlah pesanan dari perusahaan terlihat berkurang.

“Terjadi penurunan omzet untuk order pesanan dari beberapa perusahaan sekitar 20 persen,” ungkap Tina saat ditemui TIMES Indonesia di rumah produksinya, Jumat (13/3/2025).

Menurut Tina, menurunnya penjualan parcel kemungkinan besar dipengaruhi kondisi ekonomi yang sedang lesu. Situasi tersebut berdampak langsung terhadap daya beli masyarakat maupun perusahaan yang biasanya menjadi pelanggan utama parcel.

Ia menilai, banyak perusahaan yang mulai mengurangi pengeluaran untuk kebutuhan parcel bagi karyawan atau relasi bisnis. “Mungkin secara umum ekonomi lagi tidak bagus ya, lagi sulit,” tandas Tina.

Selain faktor ekonomi, Tina juga menduga kondisi tersebut berkaitan dengan belum cairnya Tunjangan Hari Raya (THR) bagi sebagian pekerja.  Hal ini membuat masyarakat cenderung menahan pengeluaran, termasuk untuk membeli parcel.

Tidak hanya faktor ekonomi, Tina juga melihat adanya perubahan tren dalam pemberian hadiah menjelang hari raya. 

Jika sebelumnya parcel berisi makanan atau produk kebutuhan rumah tangga sangat diminati, kini sebagian masyarakat mulai beralih ke produk religi seperti mukena dan sarung.

article

Fenomena ini, menurut Tina, cukup terasa dalam beberapa tahun terakhir. “Ayeuna mah teu ku parcel tapi mungkin ku mukena,” ujarnya

Perubahan tren tersebut membuat permintaan parcel tradisional menjadi tidak sebesar sebelumnya. Meski demikian, parcel tetap memiliki pasar tersendiri terutama untuk kebutuhan silaturahmi atau bingkisan perusahaan.

Tina juga menjelaskan, pola pembelian parcel mengalami perubahan, khususnya dari segi harga. Jika sebelumnya banyak pelanggan memilih parcel dengan nilai tinggi, kini sebagian besar konsumen lebih memilih parcel dengan harga lebih terjangkau.

Menurutnya, parcel dengan harga di bawah Rp100 ribu menjadi yang paling banyak diminati. “Harga parcel sekarang banyak yang under Rp100 ribu,” jelas Tina.

Namun menariknya, meski pesanan dari perusahaan menurun, pembelian secara eceran justru mengalami peningkatan dibandingkan tahun lalu.

Kondisi tersebut membuat pola pelayanan di rumah produksinya ikut berubah. Jika sebelumnya sebagian besar pesanan datang dalam jumlah besar dari perusahaan, kini Tina harus melayani lebih banyak konsumen individu.

“Tapi eceran mah banyak lebih dibanding tahun lalu. Makanya sekarang agak repot pelayanannya harus lebih banyak, beda dengan konsumen dari perusahaan,” tambahnya.

Sebagai perajin yang telah menjalankan usaha selama lebih dari dua dekade, Tina mengaku sudah beberapa kali menghadapi dinamika pasar yang berubah.

Meski penjualan tahun ini menurun, ia tetap berupaya bertahan dengan menyesuaikan jenis parcel, variasi isi, serta harga agar tetap terjangkau oleh masyarakat.

Ia juga terus mempertahankan kualitas dan tampilan parcel agar tetap menarik bagi pelanggan. Bagi Tina, usaha parcel tidak hanya sekadar bisnis musiman, tetapi juga bagian dari tradisi masyarakat dalam berbagi kebahagiaan saat hari raya.

“Yang penting tetap usaha, mudah-mudahan ekonomi membaik dan pesanan juga bisa kembali meningkat,” pungkasnya. (*)

Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu! Klik 👉 Channel TIMES Indonesia. Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.

Penulis:Harniwan Obech
|
Editor:Ronny Wicaksono

News Logo

Media Online No 1 Pembangun Ketahanan Informasi di Jawa Barat, Menyajikan Berita Terkini Seputar Berita Politik, Bisnis, Olahraga, Artis, Hukum, yang membangun, menginspirasi, dan berpositif thinking berdasarkan jurnalisme positif.

Kanal Utama

    Kontak Kami

    • Jl. Besar Ijen No.90, Oro-oro Dowo, Kec. Klojen, Kota Malang, Jawa Timur 65116
    • (0341) 563566
    • [email protected]

    Berlangganan

    Dapatkan berita terbaru langsung di inbox Anda

    Member Of

    Logo WANIFRALogo AMSILogo Dewan PersLogo Trusted

    SUPPORTED BY

    Logo Varnion
    © 2025 TIMES Indonesia. All rights reserved.