FEB UNSIL Bekali Mahasiswa Hadapi Dunia Kerja dengan LEAP 2.0
Ini merupakan upaya Jurusan Manajemen FEB UNSIL memangkas jarak antara kurikulum akademis dengan kebutuhan industri melalui berbagai program pengembangan mahasiswa.
TASIKMALAYA – Kampus kini tak lagi cukup menjadi ruang bagi mahasiswa untuk mengasah teori dan menyelesaikan tugas akademik.
Di tengah perubahan dunia kerja yang bergerak cepat, perguruan tinggi dituntut mampu menjadi jembatan yang mengantarkan mahasiswa dari ruang kelas menuju realitas profesional.
Semangat itulah yang terus dibangun Jurusan Manajemen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Siliwangi (FEB UNSIL) melalui kolaborasi strategis dengan dunia usaha dan dunia industri (DUDI).
Jurusan Manajemen FEB UNSIL berupaya memangkas jarak antara kurikulum akademis dengan kebutuhan industri melalui berbagai program pengembangan mahasiswa.
Salah satunya diwujudkan melalui Learning and Employability Acceleration Program (LEAP) 2.0 yang digelar pada 28 Agustus 2026.
Program tersebut merupakan bagian dari Management Career and Community Engagement (M-Care), sebuah payung program pengembangan karier sekaligus pengabdian masyarakat yang dikembangkan Jurusan Manajemen FEB UNSIL.
Pada pelaksanaan LEAP 2.0 kali ini, Jurusan Manajemen FEB UNSIL menggandeng PT Reliance Sekuritas Indonesia Tbk. dengan mengusung tema 'From Campus to Career, Building Financial Confidence and Career Readiness'.
Tema tersebut dinilai relevan dengan tantangan generasi muda yang akan memasuki dunia profesional.
Sebab, kesiapan karier tidak hanya berkaitan dengan kemampuan akademik dan keterampilan teknis, tetapi juga menyangkut kemampuan mahasiswa dalam mengelola kehidupan finansial sejak dini.
Literasi keuangan dan kesiapan karier dalam program ini ditempatkan sebagai dua fondasi yang saling berkaitan.
Mahasiswa yang memahami pengelolaan keuangan sejak masa kuliah diharapkan tidak hanya mampu mengambil keputusan finansial secara lebih bijak, tetapi juga memiliki kematangan dalam menentukan arah karier.
Dengan demikian, mahasiswa tidak sekadar menjadi pencari kerja yang menunggu tawaran pekerjaan pertama setelah lulus, tetapi mampu menjadi individu yang memiliki perencanaan, kepercayaan diri, kapasitas, dan kontrol terhadap perjalanan profesionalnya.
LEAP 2.0 dirancang dengan pendekatan yang lebih aplikatif. Peserta tidak hanya menerima materi umum mengenai dunia kerja, tetapi diarahkan berdasarkan konsentrasi keilmuan yang mereka tempuh.
Tiga konsentrasi dalam Jurusan Manajemen, yakni Manajemen Keuangan, Manajemen Sumber Daya Manusia (SDM), dan Manajemen Pemasaran, mendapatkan perspektif langsung dari praktisi industri.
Pada konsentrasi Manajemen Keuangan, mahasiswa mendapatkan materi 'Personal Finance and Investment Habit' yang disampaikan Direktur PT Reliance Sekuritas Indonesia Tbk., Reza Priyambada.
Materi tersebut menyoroti pentingnya membangun kebiasaan mengelola keuangan dan berinvestasi sejak masa studi.
Menurut perspektif industri, kebiasaan finansial yang dibangun sejak mahasiswa dapat menjadi modal penting ketika seseorang memasuki dunia kerja.
Pengelolaan pendapatan, pengeluaran, tabungan, hingga investasi membutuhkan kedisiplinan dan pola pikir jangka panjang.
Sementara pada konsentrasi Manajemen Sumber Daya Manusia, mahasiswa mendapatkan materi 'Membangun Mindset Agile untuk Sukses di Dunia Kerja Modern' yang disampaikan Shekha Mahdalia, Human Resource & General Affair Manager PT Reliance Sekuritas Indonesia Tbk.
Materi tersebut mengajak mahasiswa memahami bahwa dunia kerja modern menuntut kemampuan beradaptasi.
Perubahan teknologi, pola kerja, kebutuhan organisasi, serta dinamika bisnis membuat seorang profesional tidak bisa hanya mengandalkan kemampuan yang dimiliki saat pertama kali masuk perusahaan.
Kemampuan untuk belajar kembali, menerima perubahan, berkomunikasi, bekerja dalam tim, dan merespons persoalan secara cepat menjadi bagian penting dari kompetensi profesional.
Adapun mahasiswa konsentrasi Manajemen Pemasaran mendapatkan perspektif berbeda melalui materi 'The Real World of Social Media Marketing' yang disampaikan Devis Nurhalijah, Staff Social Media PT Reliance Sekuritas Indonesia Tbk.
Materi ini memberikan gambaran mengenai praktik pemasaran melalui media sosial berdasarkan pengalaman langsung di lapangan.
Mahasiswa diajak melihat bahwa media sosial bukan sekadar ruang untuk membuat konten, melainkan bagian dari strategi komunikasi dan pemasaran perusahaan yang membutuhkan perencanaan, kreativitas, pemahaman audiens, serta kemampuan membaca perkembangan tren.
Dekan FEB UNSIL, Apip Supriadi, yang membuka LEAP 2.0 secara resmi, menekankan pentingnya mempertemukan mahasiswa dengan pelaku industri.
Menurutnya, interaksi langsung antara sivitas akademika dan praktisi memberikan pengalaman yang tidak sepenuhnya dapat diperoleh melalui proses pembelajaran konvensional di dalam kelas.
"PT Reliance Sekuritas Indonesia Tbk. secara konsisten terus mendukung penguatan ekosistem akademis di FEB UNSIL. Kehadiran para praktisi memberikan wawasan yang sangat realistis mengenai standar, ritme, dan ekspektasi dunia profesional, hal yang sulit direplikasi hanya dari lembar buku teks," ujar Apip. Jumat (4/9/2026).
Ia menilai kolaborasi antara perguruan tinggi dan industri juga memberikan manfaat dua arah.
"Sinergi ini memberi nilai tambah dua arah: industri memberi masukan agar kurikulum tetap relevan, sementara mahasiswa mendapatkan kompas karier yang lebih terarah," lanjutnya.
Kolaborasi semacam ini menjadi penting karena kebutuhan industri dapat berubah lebih cepat dibandingkan perkembangan kurikulum jika tidak terus mendapatkan masukan dari dunia profesional.
Karena itu, keterlibatan praktisi tidak hanya dipandang sebagai kegiatan tambahan bagi mahasiswa, tetapi juga menjadi sumber informasi untuk memastikan proses pendidikan tetap relevan dengan kebutuhan zaman.
Ketua Jurusan Manajemen UNSIL, Lucky Radi Rinandiyana, menjelaskan bahwa M-Care tidak dirancang sebagai kegiatan satu kali.
Program tersebut diposisikan sebagai platform jangka panjang untuk mempertemukan dunia akademik dengan DUDI secara berkelanjutan.
Menurut Lucky, cakupan M-Care meliputi industry exposure, peningkatan kapasitas mahasiswa, hingga perluasan jaringan profesional.
"Kami memosisikan pengalaman dan perspektif praktisi sebagai learning resources penting. Kolaborasi ini bukan sekadar agenda seremonial menghadirkan pembicara, tetapi upaya membangun ekosistem pembelajaran yang menyatu dengan standar industri," jelas Lucky.
Menariknya, manfaat kolaborasi tersebut tidak berhenti pada mahasiswa.
Sehari setelah pelaksanaan LEAP 2.0, Jurusan Manajemen kembali menggelar Focus Group Discussion (FGD) bersama jajaran praktisi PT Reliance Sekuritas Indonesia Tbk. Forum tersebut menjadi ruang pertukaran perspektif antara akademisi dan praktisi.
Jika mahasiswa mendapatkan eksposur terhadap dunia industri melalui LEAP 2.0, para dosen memperoleh kesempatan menyerap pengalaman dan wawasan langsung mengenai perkembangan kebutuhan industri melalui FGD.
"M-Care menciptakan siklus pembelajaran dua arah. Mahasiswa mendapatkan eksposur industri, sedangkan para dosen menyerap industry insight mendalam melalui FGD. Masukan relevan ini menjadi bahan refleksi untuk memperbarui materi perkuliahan agar selalu adaptif dengan perkembangan zaman," kata Lucky.
Pola ini memperlihatkan bahwa hubungan kampus dan industri tidak berhenti pada kegiatan pembelajaran mahasiswa. Lebih jauh, kolaborasi dapat menjadi ruang evaluasi dan pengembangan proses pendidikan itu sendiri.
Ketua Pelaksana LEAP, Juniar Alisa, mengatakan LEAP kini memasuki tahun kedua. Program tersebut dirancang sebagai proses pembentukan kesiapan karier yang dilakukan secara bertahap dan progresif.
"Kesiapan transisi dari dunia akademik ke dunia profesional tidak bisa dibentuk secara instan. Lewat LEAP, kami mengarahkan mahasiswa sesuai minat konsentrasinya agar memiliki pijakan yang kuat. Rangkaian M-Care tahun ini pun masih terus berlanjut dan akan kembali hadir pada November mendatang dengan terobosan yang berbeda," ungkap Juniar.
Pernyataan tersebut menggambarkan bahwa kesiapan kerja tidak cukup dibangun menjelang mahasiswa menyelesaikan studi.
Pengalaman, jejaring, keterampilan, portofolio, serta pemahaman terhadap dunia profesional perlu dibentuk sejak mahasiswa masih berada di bangku kuliah.
Dengan pendekatan bertahap, mahasiswa memiliki kesempatan lebih besar untuk mengevaluasi kemampuan, mengenali kekurangan, sekaligus menentukan kompetensi apa yang perlu diperkuat sebelum benar-benar masuk ke dunia kerja.
Pesan penting juga disampaikan Reza Priyambada pada akhir rangkaian sesi LEAP 2.0. Ia mendorong mahasiswa untuk tidak membatasi pengalaman mereka hanya pada kegiatan akademik.
Menurut Reza, dunia kerja membutuhkan bukti kemampuan yang lebih luas daripada sekadar ijazah.
"Memasuki dunia kerja butuh lebih dari sekadar lembar ijazah. Mahasiswa harus berani keluar dari zona nyaman. Manfaatkan masa kuliah untuk bereksplorasi, mengasah kapasitas, dan membangun portofolio riil. Di dunia profesional, yang dinilai bukan hanya apa yang Anda pelajari, tetapi apa yang telah berhasil Anda karyakan dan lakukan," tegas Reza.
Pesan tersebut menjadi salah satu benang merah LEAP 2.0. Mahasiswa didorong untuk memanfaatkan masa kuliah sebagai ruang eksperimen profesional. Organisasi, proyek, magang, kompetisi, kegiatan sosial, karya digital, hingga pengalaman bekerja dalam tim dapat menjadi bagian dari perjalanan membangun portofolio.
Dalam konteks persaingan kerja yang semakin kompetitif, portofolio menjadi bukti konkret mengenai kemampuan seseorang dalam menerapkan pengetahuan yang dimilikinya. LEAP 2.0 sekaligus memperlihatkan perubahan cara pandang terhadap pendidikan tinggi.
Kampus tidak lagi cukup hanya menghasilkan lulusan yang memiliki nilai akademik baik. Perguruan tinggi juga dituntut menghasilkan lulusan yang mampu membaca perubahan, beradaptasi, membangun jejaring, memiliki literasi finansial, serta memahami kebutuhan industri.
Melalui M-Care dan LEAP, Jurusan Manajemen FEB UNSIL berupaya menempatkan proses pembelajaran dalam konteks yang lebih luas.
Ruang kelas menjadi titik awal. Dunia industri menjadi salah satu ruang pembuktian. Kolaborasi dengan PT Reliance Sekuritas Indonesia Tbk. memperlihatkan bagaimana keterlibatan praktisi dapat memberikan warna berbeda dalam proses pendidikan.
Mahasiswa memperoleh gambaran mengenai realitas dunia kerja. Dosen mendapatkan perspektif baru dari industri. Sementara industri memiliki ruang untuk menyampaikan kebutuhan kompetensi yang relevan bagi calon tenaga profesional. Siklus tersebut menjadi penting untuk membangun pendidikan tinggi yang adaptif.
Pada akhirnya, keberhasilan pendidikan bukan hanya diukur dari berapa banyak mahasiswa yang berhasil menyelesaikan studi dan mengenakan toga wisuda.
Lebih jauh, tantangannya adalah bagaimana lulusan mampu berdiri di tengah perubahan dunia profesional, mengembangkan kompetensi, menghasilkan karya, serta menciptakan nilai bagi organisasi dan masyarakat.
Melalui integrasi M-Care dan LEAP, Jurusan Manajemen FEB UNSIL menegaskan komitmennya untuk tidak hanya mempersiapkan mahasiswa menuju wisuda.
Lebih dari itu, mahasiswa dipersiapkan untuk memasuki dunia profesional dengan kepercayaan diri, pengalaman industri, literasi keuangan, kemampuan adaptasi, jejaring, dan portofolio yang lebih kuat.
Sebab, perjalanan karier sejatinya tidak dimulai setelah ijazah berada di tangan. Perjalanan itu dimulai sejak mahasiswa berani membuka pintu ruang kelas dan melangkah mengenal dunia yang sesungguhnya. (*)
Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu! Klik 👉 Channel TIMES Indonesia. Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.

