https://jabar.times.co.id/
Pendidikan

IAIT Pacitan Tegaskan Komitmen Global Usai Hadiri Konferensi Internasional Peradaban Muslim di UINSA

Minggu, 30 November 2025 - 17:29
IAIT Pacitan Tegaskan Komitmen Global Usai Hadiri Konferensi Internasional Peradaban Muslim di UINSA Dekan FEBI IAIT Pacitan Domi Cahyo Damai saat menghadiri konferensi internasional di UINSA. (FOTO: Domi for TIMES Indonesia)

TIMES JABAR, PACITAN – Institut Agama Islam Attarmasi Pacitan (IAIT Pacitan) menegaskan komitmennya untuk berperan aktif dalam penguatan peradaban Islam Nusantara dan jejaring akademik global usai menghadiri konferensi internasional yang digelar UIN Sunan Ampel Surabaya (UINSA), Rabu (26/11/2025).

Kehadiran IAIT Pacitan dalam forum internasional bertajuk “Why Indonesia as a New Center of Muslim Civilization? Reassessing the Role of Indonesian Islam in Shaping the World Future in a Post-War Era” tersebut diwakili Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam (FEBI), Domi Cahyo Damai, M.E.

Ia hadir dalam konferensi yang berlangsung di Gedung Sport Center & Multipurpose UINSA Kampus A. Yani Surabaya tersebut bersama para rektor dan ketua Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Swasta (PTKIS) se-Kopertais Wilayah IV Jawa Timur atas undangan resmi UINSA.

Dekan-FEBI-IAIT-Pacitan-2.jpg

Acara itu menjadi ruang strategis bagi para akademisi, pimpinan perguruan tinggi, dan pemangku kebijakan untuk membahas posisi Indonesia sebagai calon pusat peradaban Islam dunia di tengah dinamika geopolitik global pascaperang, terutama konflik yang masih berlangsung di Palestina serta perang Rusia–Ukraina.

Partisipasi aktif IAI Attarmasi Pacitan dalam pertemuan berskala internasional tersebut menjadi bagian dari komitmen institusi untuk terus berkontribusi dalam wacana intelektual Islam, pengembangan keilmuan berbasis pesantren, serta penguatan jaringan akademik regional dan internasional.

Kampus di Pacitan itu menilai, kehadiran dalam forum global semacam ini menjadi pintu strategis untuk memperluas kolaborasi riset, pertukaran akademik, hingga penguatan peran sosial-keagamaan di tingkat nasional dan global.

Pesantren sebagai Fondasi Peradaban Muslim Nusantara

Salah satu tema penting yang mengemuka dalam konferensi ini adalah posisi pesantren sebagai fondasi utama peradaban Muslim Nusantara.

Para narasumber menegaskan bahwa kekuatan Islam Indonesia terletak pada warisan pesantren, khususnya di Jawa Timur, yang selama ini menjadi pusat pendidikan Islam, moderasi beragama, pluralisme, serta ketahanan etika sosial.

Model pendidikan pesantren dinilai berhasil memadukan nilai religius, tradisi lokal, dan tuntutan modernitas, termasuk kewirausahaan, kesadaran lingkungan, hingga isu kesetaraan. Pesantren tak hanya mencetak santri yang memiliki kedalaman spiritual, tetapi juga kapasitas sosial dan ekonomi yang berdaya saing.

Indonesia memiliki peluang besar menjadi rujukan peradaban Muslim dunia karena keberhasilan mempraktikkan Islam yang damai, adaptif, dan inklusif dan sebagai bentuk dukungan peran yang ditunjukkan Presiden RI Prabowo Subianto dalam upaya perdamaian dunia dari perang yang terus berkecamuk di Palestina dan Rusia-Ukraina. 

Dorong Peran FEBI di Jaringan Global

Sebagai pimpinan fakultas, Domi Cahyo Damai menilai konferensi tersebut menjadi momentum penting bagi IAI Attarmasi Pacitan, khususnya FEBI, untuk memperkuat peran dalam jaringan keilmuan Islam global.

Menurutnya, tantangan dunia saat ini menuntut perguruan tinggi Islam tidak hanya kuat secara normatif, tetapi juga adaptif terhadap perubahan global yang cepat.

“Kegiatan ini membuka wawasan tentang bagaimana kampus, khususnya FEBI, dapat mengambil peran strategis dalam membangun model keilmuan Islam yang memadukan tradisi keilmuan pesantren dengan tantangan global,” ungkap Domi dalam kesempatan terpisah, Minggu (30/11/2025). 

Dekan-FEBI-IAIT-Pacitan-3.jpg

Ia menyebut, FEBI IAIT Pacitan berkomitmen memperkuat tata kelola kelembagaan, meningkatkan kinerja akademik, serta memperluas jejaring kolaborasi regional maupun internasional. Langkah tersebut dilakukan agar lulusan tidak hanya unggul dalam penguasaan ilmu, tetapi juga memiliki daya saing di tingkat nasional dan global.

Orasi Menteri Agama dan Hadirnya Tokoh Internasional

Rangkaian acara konferensi dibuka dengan sambutan Rektor UINSA, Prof. Akh. Muzakki. Selanjutnya, orasi ilmiah disampaikan Menteri Agama RI, Prof. Dr. H. Nasaruddin Umar, MA.

Orasi tersebut menyoroti pentingnya peran strategis Indonesia dalam membangun wajah baru peradaban Islam dunia yang damai, berkeadilan, dan berorientasi pada kemanusiaan.

Sesi panel menghadirkan sejumlah tokoh nasional dan internasional, antara lain KH. Anwar Iskandar, Prof. Greg Barton, serta Prof. Dr. H. Imam Ghazali. Diskusi dipandu oleh moderator Prof. Abdul Kadir Riyadi, Ph.D.

Konferensi kemudian ditutup dengan pembacaan Surabaya Charter, sebuah deklarasi bersama tentang penguatan peran Indonesia dalam percaturan peradaban Muslim dunia.

Piagam ini menjadi penanda komitmen kolektif para akademisi dan pemimpin perguruan tinggi untuk terus mendorong Islam Indonesia sebagai model peradaban global yang moderat dan inklusif.

Dialog Strategis Bersama Menteri Agama

Usai rangkaian konferensi, acara dilanjutkan dengan dialog terbuka antara para akademisi, rektor, serta ketua PTKIS Kopertais Wilayah IV Jawa Timur dengan Menteri Agama RI. Dialog berlangsung hangat dan komunikatif, menjadi forum pembahasan strategis mengenai masa depan PTKIS dalam ekosistem pendidikan tinggi Islam Indonesia.

Dalam kesempatan tersebut, Menteri Agama memberikan sejumlah arahan penting yang mendapat perhatian serius seluruh pimpinan PTKIS. Salah satu pesan utama yang ditekankan adalah pentingnya keterbukaan institusi. “Jangan takut mengungkapkan masalah,” tegas Menteri Agama.

Ia menilai, keterbukaan menjadi kunci agar persoalan manajerial maupun akademik dapat ditangani secara tepat oleh Kementerian Agama.

Menag juga mengingatkan agar PTKIS tidak menghilangkan budaya-budaya baik yang sudah berjalan. “Jangan menghilangkan kebiasaan baik; tingkatkan dan kuatkan PTKIS,” pesannya.

Dalam konteks penguatan kelembagaan, ia menekankan pentingnya disiplin administrasi, peningkatan akreditasi, serta dorongan bagi PTKIS untuk mencapai standar mutu internasional, termasuk standar ISO sebagai bentuk penjaminan kualitas.

Menariknya, Menag juga menyebut bahwa PTKIS memiliki potensi untuk bergerak lebih cepat dibanding PTKIN. “PTKIS harus lebih hebat dan lincah dari PTKIN,” ujarnya, menyoroti keunggulan fleksibilitas yang dimiliki perguruan tinggi swasta.

Selain itu, Menag memastikan kemudahan dalam pengajuan jabatan akademik, khususnya lektor kepala dan guru besar. PTKIS pun didorong untuk lebih aktif melaporkan KUM, memperkuat karya ilmiah, serta membangun budaya publikasi.

Sebagai penutup, ia menegaskan pentingnya integritas moral dalam dunia pendidikan. “Kerja ikhlas,” pesan singkat namun tegas yang menurutnya harus menjadi energi utama dalam membangun pendidikan Islam Indonesia.

Perkuat Peran IAIT Pacitan

Bagi IAIT Pacitan, arah kebijakan dan arahan Menteri Agama tersebut menjadi motivasi penting untuk terus berbenah dengan memperkuat tata kelola kelembagaan, meningkatkan mutu akademik, serta mengembangkan kolaborasi lintas institusi, baik di tingkat nasional maupun internasional.

Dengan penguatan pendidikan, riset, dan kontribusi sosial-keagamaan yang berkelanjutan, IAIT Pacitan berharap dapat turut mengisi peran strategis Indonesia sebagai pusat baru peradaban Islam yang damai, moderat, dan berkeadilan di masa depan. (*)

Pewarta : Yusuf Arifai
Editor : Ronny Wicaksono
Tags

Berita Terbaru

icon TIMES Jabar just now

Welcome to TIMES Jabar

TIMES Jabar is a PWA ready Mobile UI Kit Template. Great way to start your mobile websites and pwa projects.