Ilustrasi LGBT (FOTO: istimewa)

Disorot Publik, Ribuan Anggota Grup LGBT di Majalengka Jadi Perhatian

Keberadaan grup LGBT di Facebook ini masih dapat ditemukan melalui fitur pencarian. Berdasarkan penelusuran, grup itu telah eksis sejak 9 Juli 2022 dan hingga kini tercatat memiliki 4.389 anggota.

TIMES Jabar,Jumat 17 Juli 2026, 16:33 WIB
95
J
Jaja Sumarja

MAJALENGKADinamika ruang digital kembali menjadi perhatian publik di Kabupaten Majalengka, Jawa Barat.

Sebuah grup tertutup di platform Facebook yang mengatasnamakan 'Kaum Pelangi Majalengka' terpantau memiliki ribuan anggota, memicu respons dari sejumlah elemen masyarakat, termasuk organisasi keagamaan.

Meski berstatus privat, keberadaan grup tersebut masih dapat ditemukan melalui fitur pencarian. Berdasarkan penelusuran, grup itu telah eksis sejak 9 Juli 2022 dan hingga kini tercatat memiliki 4.389 anggota.

Dalam deskripsinya, pengelola menuliskan tujuan pembentukan sebagai ruang interaksi sosial dengan pesan untuk 'memperbanyak teman sesama agar tidak merasa kesepian'.

Temuan ini mendapat tanggapan dari Dewan Pimpinan Daerah Persatuan Umat Islam (DPD PUI) Kabupaten Majalengka.

Ketua DPD PUI Majalengka, KH Asep Zaki Mulyatno, menyampaikan keprihatinannya atas fenomena tersebut, sekaligus menekankan pentingnya pendekatan edukatif di tengah masyarakat.

"Keberadaan grup dengan jumlah anggota yang cukup besar tentu menjadi perhatian kami. Hal ini perlu disikapi melalui langkah-langkah penyadaran yang melibatkan berbagai unsur," ujarnya, Jumat (17/7/2026).

Menurutnya, organisasi yang dipimpinnya akan memperkuat upaya edukasi melalui kegiatan keagamaan dan jalur pendidikan.

PUI, yang menaungi ratusan lembaga pendidikan di Majalengka, berencana mengoptimalkan peran tenaga pendidik dalam menyampaikan nilai-nilai sosial dan keagamaan di lingkungan sekolah.

Selain itu, isu tersebut juga telah menjadi bagian dari pembahasan dalam forum Musyawarah Gerakan Persatuan Organisasi Islam Lawan Maksiat (GEMMA) yang digelar belum lama ini.

Ke depan, materi penyadaran disebut akan diintegrasikan dalam kegiatan Masa Orientasi Sekolah (MOS) sebagai langkah preventif di kalangan pelajar.

Zaki menegaskan, penanganan fenomena sosial di era digital tidak dapat dilakukan secara parsial. Diperlukan keterlibatan aktif dari berbagai pihak, mulai dari keluarga, lingkungan, lembaga pendidikan, hingga organisasi kemasyarakatan.

"Ini harus menjadi gerakan bersama. Peran keluarga dan lingkungan sangat penting dalam membentuk kesadaran dan karakter masyarakat," tegasnya.

Fenomena ini menjadi cerminan bagaimana ruang digital terus berkembang sebagai medium interaksi sosial, sekaligus menghadirkan tantangan baru yang menuntut respons kolektif, bijak, dan berkelanjutan dari seluruh elemen masyarakat. (*)

Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu! Klik 👉 Channel TIMES Indonesia. Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.

Berita ini juga tayang di portal nasional

Baca versi lengkapnya di jaringan nasional kami.

Baca di sini
Penulis:Jaja Sumarja
|
Editor:Ronny Wicaksono

News Logo

Media Online No 1 Pembangun Ketahanan Informasi di Jawa Barat, Menyajikan Berita Terkini Seputar Berita Politik, Bisnis, Olahraga, Artis, Hukum, yang membangun, menginspirasi, dan berpositif thinking berdasarkan jurnalisme positif.

Kanal Utama

    Kontak Kami

    • Jl. Besar Ijen No.90, Oro-oro Dowo, Kec. Klojen, Kota Malang, Jawa Timur 65116
    • (0341) 563566
    • [email protected]

    Berlangganan

    Dapatkan berita terbaru langsung di inbox Anda

    Member Of

    Logo WANIFRALogo AMSILogo Dewan PersLogo Trusted

    SUPPORTED BY

    Logo Varnion
    © 2025 TIMES Indonesia. All rights reserved.