Lokasi KDMP yang viral di Desa Cikaracak, Kecamatan Argapura, Kabupaten Majalengka. (FOTO: Jaja Sumarja/TIMES Indonesia)

KDMP di Majalengka Viral Karena Disebut Terpencil, Ternyata Berdiri di Jalur Vital Ekonomi Warga

Bangunan KDMP berdiri di tepi jalan kabupaten, jalur penghubung Argapura–Sindang yang setiap hari dilalui warga, kendaraan logistik, hingga wisatawan menuju kawasan Panyaweuyan dan Gunung Ciremai.

TIMES Jabar,Kamis 6 Agustus 2026, 08:06 WIB
260
J
Jaja Sumarja

MAJALENGKASebuah video berdurasi singkat mengubah lanskap persepsi publik terhadap Desa Cikaracak, Kecamatan Argapura, Kabupaten Majalengka, Jawa Barat, dalam hitungan jam,

Koperasi Desa Merah Putih (KDMP) yang berdiri di sana dicap 'terpencil', bahkan disebut berada di kaki Gunung Ciremai yang jauh dari aktivitas warga.

Namun, seperti banyak kasus viral lain, potongan gambar tak selalu menghadirkan keseluruhan cerita. Penelusuran di lapangan menunjukkan lokasi KDMP justru berada di titik yang strategis. 

Bangunan itu berdiri di tepi jalan kabupaten, jalur penghubung Argapura–Sindang yang setiap hari dilalui warga, kendaraan logistik, hingga wisatawan menuju kawasan Panyaweuyan dan Gunung Ciremai.

Jaraknya pun relatif dekat dari pusat desa. Dari Kantor Desa Cikaracak, hanya sekitar 900 meter. Dengan sepeda motor, perjalanan tak lebih dari empat menit. Fakta ini berbanding terbalik dengan narasi 'terisolasi' yang berkembang di media sosial.

Kepala Desa Cikaracak, Aon, menilai video yang beredar telah membingkai realitas secara parsial. Lanskap desa yang didominasi bambu dan kebun menjadi latar visual yang mudah disalahartikan sebagai kawasan hutan terpencil.

"Video itu tidak utuh. Padahal ini jalur kabupaten, jalur hidup masyarakat," kata Aon, Kamis (6/8/2026).

Secara geografis, Cikaracak memang berada di kawasan perbukitan. Vegetasi bambu yang lebat menjadi ciri khas wilayah ini. Namun, menyebutnya sebagai kawasan kaki Gunung Ciremai dalam arti terpencil dinilai berlebihan.

"Gunung Ciremai masih jauh di atas. Ini bukan kawasan terisolasi seperti yang dibayangkan," ujarnya.

Di balik polemik lokasi, terdapat agenda ekonomi yang jarang disorot. KDMP dirancang bukan sekadar bangunan koperasi, melainkan simpul distribusi kebutuhan pertanian. Desa Cikaracak, yang mayoritas warganya petani sayuran, selama ini bergantung pada pasar di luar wilayah.

Untuk membeli pupuk dan sarana produksi, warga harus menempuh jarak lebih dari 15 kilometer ke Pasar Maja atau Rajagaluh. Biaya transportasi dan waktu menjadi beban tambahan yang selama ini dianggap lumrah. KDMP hadir untuk memutus ketergantungan itu.

"Nantinya kebutuhan pertanian tersedia di sini. Hasil panen juga bisa ditampung," kata Aon.

Dengan skema tersebut, desa diharapkan tidak hanya menjadi lokasi produksi, tetapi juga pusat perputaran ekonomi. Sebuah konsep yang kerap digaungkan dalam program penguatan ekonomi desa, namun kerap terkendala akses distribusi.

Di sisi lain, viralitas video justru membuka ironi: perhatian publik lebih tersedot pada lokasi fisik bangunan, ketimbang fungsi ekonomi yang dibawanya.

Pemerintah desa memilih melihat viralitas ini dari sudut yang lebih konstruktif. Alih-alih mempermasalahkan, Aon menilai perhatian publik justru membawa dampak positif bagi eksistensi desanya.

"Terima kasih kepada yang sudah membuat videonya viral. Desa kami jadi dikenal luas. Hanya saja, akan lebih baik jika informasi disampaikan secara utuh agar tidak menimbulkan persepsi keliru," tuturnya.

Bagi sebagian warga, polemik ini tidak sepenuhnya negatif. Entis (52), warga yang telah puluhan tahun tinggal di Cikaracak, melihatnya sebagai momentum.

"Jalan ini ramai, jalur wisata. Bukan jalan sepi seperti yang dibilang," ujarnya.

Ia berharap perhatian publik beralih pada manfaat nyata koperasi bagi petani. "Kalau kebutuhan pertanian ada di sini, kami tidak perlu lagi keluar jauh. Itu yang penting," katanya.

Fenomena KDMP Cikaracak menunjukkan bagaimana realitas desa kerap dipersepsikan melalui potongan visual yang terbatas. Dalam ruang digital, lanskap hijau bisa dengan mudah diterjemahkan sebagai keterpencilan.

Padahal, di baliknya, terdapat denyut ekonomi yang terus bergerak. Dan di titik itulah, antara persepsi dan fakta, narasi tentang desa sering kali kehilangan konteksnya. (*)

Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu! Klik 👉 Channel TIMES Indonesia. Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.

Berita ini juga tayang di portal nasional

Baca versi lengkapnya di jaringan nasional kami.

Baca di sini
Penulis:Jaja Sumarja
|
Editor:Ronny Wicaksono

News Logo

Media Online No 1 Pembangun Ketahanan Informasi di Jawa Barat, Menyajikan Berita Terkini Seputar Berita Politik, Bisnis, Olahraga, Artis, Hukum, yang membangun, menginspirasi, dan berpositif thinking berdasarkan jurnalisme positif.

Kanal Utama

    Kontak Kami

    • Jl. Besar Ijen No.90, Oro-oro Dowo, Kec. Klojen, Kota Malang, Jawa Timur 65116
    • (0341) 563566
    • [email protected]

    Berlangganan

    Dapatkan berita terbaru langsung di inbox Anda

    Member Of

    Logo WANIFRALogo AMSILogo Dewan PersLogo Trusted

    SUPPORTED BY

    Logo Varnion
    © 2025 TIMES Indonesia. All rights reserved.