Kota Banjar Akan Punya PLTS Raksasa, Investasi Besar Demi Manfaat Besar
Proyek besar ini bertujuan untuk menyediakan energi bersih, membuka lapangan kerja bagi masyarakat lokal dan mendukung kebutuhan listrik Kota Banjar serta jaringan Jawa-Bali.
BANJAR – PLN Indonesia Power sebagai anak perusahaan PT PLN akan membangun Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) berkapasitas 100 Megawatt (MW) di Kota Banjar, Jawa Barat.
Disampaikan Imam Tri Sulistyo selaku divisi pengembangan bisnis Indonesia Power bahwa proyek besar ini bertujuan untuk menyediakan energi bersih, membuka lapangan kerja bagi masyarakat lokal, dan mendukung kebutuhan listrik di Banjar serta jaringan Jawa-Bali.
Lokasi dan Kapasitas PLTS Banjar
Diwawancarai usai pertemuan dengan Wali Kota Banjar, Ir H Sudarsono di Pendopo, Senin (23/2/2026), Tri Sulistyo menyebut bahwa PLTS ini akan dibangun di Kecamatan Pataruman, Kota Banjar, di atas lahan perkebunan milik PTPN seluas sekitar 130 hektare.
Lokasi ini dipilih karena strategis, dekat dengan Gardu Induk (GI) Banjar, sekitar 8 kilometer. Kapasitas 100 MW menjadikan PLTS ini salah satu proyek energi terbarukan yang signifikan di wilayah tersebut," katanya.
Imam menjelaskan bahwa pemilihan Kota Banjar didasari oleh beberapa hal. Pertama, hasil studi kelayakan (Feasibility Study) yang dilakukan sejak tahun 2023 menunjukkan bahwa Kota Banjar merupakan lokasi yang ideal.
"Kedua, proyek ini sejalan dengan Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) nasional yang mengalokasikan kuota pembangkit PLTS di Jawa Barat. Ketiga, ketersediaan lahan dari PTPN melalui sinergi BUMN juga menjadi faktor penting," paparnya.
Manfaat untuk Kota Banjar dan Lingkungan
Imam juga menjabarkan beberapa keuntungan dari proyek PLTS Banjar, diantaramya:
1. Energi Bersih Tanpa Emisi
Berbeda dengan pembangkit listrik tenaga batubara yang menghasilkan asap, PLTS ini tidak akan mengeluarkan emisi karbon sama sekali, sehingga sangat ramah lingkungan dan mendukung program energi bersih.
2. Penyediaan Listrik Lokal
Listrik yang dihasilkan akan diprioritaskan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat Kota Banjar melalui Gardu Induk Banjar. Jika ada kelebihan, listrik akan disalurkan ke jaringan Jawa-Bali.
3. Penciptaan Lapangan Kerja
Proyek ini akan membuka lapangan kerja dimana saat masa konstruksi (sekitar 1 hingga 1,5 tahun), diperkirakan 300 hingga 500 pekerja akan terlibat, dengan 60 hingga 70 persen di antaranya diutamakan dari masyarakat lokal.
Saat operasional selama 25 tahun, meski jumlah pekerja lebih sedikit atau di bawah 100 orang akan ada peluang kerja bagi tenaga ahli lokal di bidang kelistrikan, keuangan, dan sumber daya manusia.
Tahapan Pembangunan dan Perizinan
Saat ini, studi kelayakan dan penentuan lokasi telah selesai.
Tahap selanjutnya adalah pengurusan perizinan, dimulai dari Kesesuaian Kegiatan Pemanfaatan Ruang (KKPR), dilanjutkan dengan Izin Lingkungan dan Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL).
"Proses AMDAL akan melibatkan sosialisasi dan konsultasi publik untuk mendapatkan masukan dari masyarakat sekitar yang terdampak," jelasnya.
Ramah Lingkungan, Tak Mengubah Fungsi Lahan
Imam Tri Sulistyo menegaskan bahwa PLTS tidak menghasilkan limbah kimiawi. Detail mengenai pengelolaan lingkungan akan dijelaskan lebih lanjut dalam kajian AMDAL.
Lahan perkebunan PTPN yang digunakan juga tidak akan diubah fungsinya secara permanen. Panel surya akan dipasang sedemikian rupa sehingga tanaman di bawahnya masih bisa tumbuh.
"Setelah masa operasi proyek berakhir, lahan dapat dikembalikan ke kondisi semula tanpa sisa beton atau konstruksi sipil yang permanen," katanya.
Pemerintah Kota Banjar, melalui Wali Kota Sudarsono, telah bertemu dengan PLN Indonesia Power untuk membahas rencana besar pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) di Kota Banjar.
"Proyek ini diharapkan membawa banyak keuntungan bagi daerah," katanya.
PLTS ini rencananya akan dibangun di daerah Mandalare dimana pembangunan PLTS ini, membutuhkan lahan seluas sekitar 128 hektare.
Wali Kota memastikan bahwa penggunaan lahan ini tidak akan mengganggu perkebunan warga atau lahan milik penduduk setempat.
Nilai Investasi dan Jadwal Pembangunan
Wali Kota menyebutkan proyek PLTS ini diperkirakan bernilai sangat besar, yaitu antara Rp1,4 hingga Rp1,5 triliun.
Proses teknis pengerjaan diharapkan bisa dimulai pada tahun 2028. Namun, perlu diingat bahwa ada banyak persiapan yang harus dilakukan sebelumnya, seperti pengurusan izin dan kajian lingkungan, yang memerlukan waktu tidak sebentar.
"PLN Indonesia Power sendiri sudah mulai melakukan studi terkait proyek ini sejak tahun 2023," jelasnya.
Manfaat untuk Kota Banjar
Kehadiran PLTS ini diharapkan memberikan banyak dampak positif, di antaranya:
- Meningkatkan Investasi di Kota Banjar dan diharapkan akan semakin menarik bagi investor lain.
- Menciptakan Lapangan Kerja. Banyak tenaga kerja lokal yang akan terserap dalam pembangunan dan operasional PLTS.
- Potensi Wisata Baru: PLTS ini juga berpotensi menjadi destinasi wisata baru di masa depan.
"Pihak pemerintah kota menjamin tidak ada masalah atau kendala serius terkait proyek ini, dan semua persiapan berjalan lancar," tutup Wali Kota Sudarsono. (*)
Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu! Klik 👉 Channel TIMES Indonesia. Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.




