KPA Kota Banjar Dorong Kolaborasi Media Perkuat Edukasi hingga Advokasi Kasus HIV-AIDS
Pertemuan KPA Kota Banjar dengan awak media guna mensosialisasikan pencegahan penularan Aids. (Foto: Susi/Times Indonesia)

KPA Kota Banjar Dorong Kolaborasi Media Perkuat Edukasi hingga Advokasi Kasus HIV-AIDS

Selain pemetaan kasus baru, KPA Kota Banjar juga menyoroti cakupan akses pengobatan Antiretroviral (ARV) bagi para ODHIV.

TIMES Jabar,Senin 31 Agustus 2026, 14:14 WIB
332
S
Sussie

BANJARKomisi Penanggulangan AIDS (KPA) Kota Banjar menekankan pentingnya sinergi lintas sektor dalam menekan angka penyebaran HIV/AIDS.

Penyakit ini dinilai bukan lagi sekadar isu kesehatan pribadi, melainkan persoalan sosial dan kemanusiaan yang membutuhkan langkah konkret dari seluruh elemen masyarakat.

Ketua Harian KPA Kota Banjar, Supriana, menegaskan bahwa peran lembaga penanggulangan tidak boleh berhenti pada fungsi edukasi dan informasi semata, melainkan harus menyentuh ranah advokasi serta pendampingan bagi para penderita. 

"HIV/AIDS ini menjadi ancaman bagi kita semua karena berdampak langsung pada kondisi sosial masyarakat," ujar Supriana saat menyampaikan pemaparan situasi HIV/AIDS Kota Banjar di Ruang Rapat Babakan, Senin (31/8/2026).

"Fungsi kita tidak hanya informatif dan edukatif, tetapi juga melakukan sosialisasi fakta dan data, hingga hadir mengadvokasi serta mendampingi para penderita agar penanganannya berjalan maksimal, imbuh Supriana yang juga Wakil Wali Kota Banjar.

Ia menambahkan, kunci utama dalam menekan penambahan kasus baru adalah kerja sama yang bersifat komplementer atau saling melengkapi, baik antara pemerintah, lembaga terkait, maupun media massa.

Media cetak, elektronik, hingga media sosial dinilai memiliki fungsi mulia dalam menyampaikan edukasi dan pembaruan data yang objektif kepada publik.

Tren Data Kasus Periode Januari–Juni 2026

Berdasarkan laporan kondisi objektif penanganan HIV/AIDS di Kota Banjar selama periode Januari hingga Juni 2026, tercatat penambahan Orang Dengan HIV (ODHIV) baru di sejumlah fasilitas kesehatan.

Beberapa titik penemuan kasus baru tersebut antara lain:

  • Rumah Sakit Umum (RSU): 7 kasus baru
  • RSU Banjar Patroman: 5 kasus baru
  • Puskesmas Banjar 3: 3 kasus baru
  • Puskesmas Langensari 2: 2 kasus baru
  • Fasilitas Kesehatan Lain (termasuk RS Asih Husada & Puskesmas lain): Terdeteksi beberapa kasus baru yang sedang dalam penanganan.

Secara keseluruhan, akumulasi data mencatat 22 kasus ODHIV baru yang terdeteksi di fasilitas kesehatan Kota Banjar hingga memasuki September 2026.

Didominasi Usia Produktif

Dari hasil analisis distribusi kasus berdasarkan kelompok umur, mayoritas penularan terdeteksi pada rentang usia produktif, yakni 25 hingga 49 tahun.

Supriana meyakini tingginya proporsi pada kelompok umur ini berkaitan erat dengan mobilitas dan aktivitas harian populasi produktif yang memiliki risiko penularan lebih tinggi, baik melalui hubungan seksual berisiko maupun penggunaan jarum suntik secara tidak steril.

"Kelompok usia 25–49 tahun ini adalah masa-masa puncak produktivitas seseorang. Hal ini menjadikan mereka kelompok yang sangat rawan, sehingga fokus pencegahan dan pengawasan harus diperketat pada rentang usia tersebut," jelasnya.

Tantangan Cakupan Pengobatan Antiretroviral (ARV)

Selain pemetaan kasus baru, KPA Kota Banjar juga menyoroti cakupan akses pengobatan Antiretroviral (ARV) bagi para ODHIV.

Pengobatan ARV sangat vital untuk menekan jumlah virus dalam tubuh penderita sekaligus meminimalisir risiko penularan baru di masyarakat.

Secara nasional dan daerah, tingkat keterhubungan penderita baru terhadap akses ARV masih menyisakan tantangan.

Dari total 22 kasus baru yang terdata, angka analisis menunjukkan tingkat gap pengobatan sekitar 27,3 persen. 

Artinya, kurang lebih 3 dari 10 kasus baru masih berisiko belum terhubung ke layanan pengobatan ARV hingga akhir periode pelaporan ini.

Menanggapi hal tersebut, pihak rumah sakit dan Puskesmas se-Kota Banjar terus melancarkan upaya intensif agar setiap temuan kasus baru bisa langsung terhubung ke layanan terapi ARV secara berkesinambungan.

"Semua upaya ini—mulai dari edukasi, advokasi, hingga pendampingan medis—hanya bisa terwujud manakala kita semua saling bergandengan tangan, berkolaborasi, dan bersinergi demi menurunkan angka kasus HIV di Kota Banjar," pungkas Supriana. (*)

Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu! Klik 👉 Channel TIMES Indonesia. Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.

Berita ini juga tayang di portal nasional

Baca versi lengkapnya di jaringan nasional kami.

Baca di sini
Penulis:Sussie
|
Editor:Ronny Wicaksono

News Logo

Media Online No 1 Pembangun Ketahanan Informasi di Jabar, Menyajikan Berita Terkini Seputar Berita Politik, Bisnis, Olahraga, Artis, Hukum, yang membangun, menginspirasi, dan berpositif thinking berdasarkan jurnalisme positif.

Kanal Utama

    Kontak Kami

    • Jl. Besar Ijen No.90, Oro-oro Dowo, Kec. Klojen, Kota Malang, Jawa Timur 65116
    • (0341) 563566
    • [email protected]

    Berlangganan

    Dapatkan berita terbaru langsung di inbox Anda

    Member Of

    Logo WANIFRALogo AMSILogo Dewan PersLogo Trusted

    SUPPORTED BY

    Logo Varnion
    © 2025 TIMES Indonesia. All rights reserved.