Hajat Bumi Lintas Perbatasan di Banjar, Budayawan Dieng hingga Yogya Meriahkan Tiga Hari
Generasi muda diajak tidak buta sejarah lewat Hajat Bumi ketiga di Banjar. Panitia hadirkan seni lintas perbatasan dengan tujuan melestarikan warisan leluhur dan memperkuat identitas budaya di tengah arus modernisasi.
BANJAR – BANJAR – Lingkungan RT 03 RW 22 Lembur Sumanding Wetan kembali berdenyut dengan nuansa budaya yang kental. Untuk ketiga kalinya, warga setempat menggelar tradisi Hajat Bumi. Namun, ada yang berbeda pada perhelatan kali ini. Panitia mengemas acara dengan lebih meriah melalui konsep "Seni Lintas Perbatasan."
Ketua Panitia Hajat Bumi, Romo Sarif, mengungkapkan bahwa esensi kegiatan ini adalah bentuk syukur atas segala berkah yang diterima masyarakat dari bumi tempat mereka berpijak. "Apa yang kita pijak selama hidup kita, apa yang kita makan selama hidup kita berada di tanah pertiwi ini, ya kita harus disyukuri," ujar Romo Sarif, Sabtu (4/7/2026).
Jalin Silaturahmi Lewat Seni Lintas Perbatasan
Berbeda dengan dua gelaran sebelumnya, Hajat Bumi ketiga dibuat lebih meriah dengan mengundang budayawan dari Dieng, Magelang, hingga Yogyakarta. Tujuan utama kehadiran seniman lintas daerah adalah mempererat silaturahmi antarbudayawan sekaligus mengenalkan kekayaan seni budaya kepada masyarakat Banjar.
Rangkaian Acara Tiga Hari Berturut-turut
-
Malam Pembukaan: Tari Jaipong, Pencak Silat, dan Orkestra Sang Manara.
-
Hari Kedua (Pagi-Siang): Pencak Silat PSSI Kota Banjar hingga pukul 11.00 WIB. Pukul 13.00-17.00 WIB, Seni Angguk dari Dieng, dilanjutkan Debus, tarian anak-anak, dan Kesenian Ronggeng.
-
Hari Ketiga (Minggu Sore): Penutup dengan Ebeg Kuda Lumping.
Harapan Regenerasi dan Pesan Leluhur
Romo Sarif menegaskan tempat ini dipilih karena mereka adalah warga asli yang memiliki tanggung jawab moral menjaga tanah kelahiran. Ia berharap kegiatan ini menjadi jembatan bagi generasi muda agar tidak melupakan akar sejarah dan budaya.
"Harapannya generasi penerus supaya tidak buta dengan sejarah, tidak buta dengan budaya, dan tidak buta dengan apa yang diwariskan oleh leluhur kita," tegasnya.
Ia menutup dengan pesan filosofis dalam bahasa Sunda: sudah menjadi kewajiban generasi sekarang untuk merawat, mengembangkan, dan memahami makna tradisi yang ditinggalkan para leluhur. (*)
Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu! Klik 👉 Channel TIMES Indonesia. Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.
Berita ini juga tayang di portal nasional
Baca versi lengkapnya di jaringan nasional kami.

