Masihkah Mahasiswa Betah Membaca Buku? Fenomena Hari Kunjung Perpustakaan di Era TikTok
Seorang pengunjung saat mencari beberapa buku di salah satu perpustakaan sekolah. Senin (14/9/2026) (FOTO: Harniwan Obech/TIMES Indonesia )

Masihkah Mahasiswa Betah Membaca Buku? Fenomena Hari Kunjung Perpustakaan di Era TikTok

Hari Kunjung Perpustakaan tidak cukup dimaknai sebagai ajakan agar masyarakat datang ke perpustakaan. Momentum ini bisa menjadi ruang refleksi tentang bagaimana budaya membaca harus bertahan di tengah perubahan zaman.

TIMES Jabar,Senin 14 September 2026, 13:02 WIB
125
H
Harniwan Obech

TASIKMALAYALayar ponsel menyala hampir sepanjang waktu. Jempol bergerak cepat menggulir video demi video. Dalam hitungan detik, satu informasi berganti dengan informasi lainnya.

TikTok, Instagram, YouTube dan berbagai platform digital telah menjadi bagian dari keseharian generasi muda. Namun, di tengah derasnya arus teknologi digital itu, rak-rak buku di perpustakaan ternyata belum kehilangan pembacanya.

Setidaknya gambaran itu terlihat di Perpustakaan Universitas Siliwangi (Unsil) Kota Tasikmalaya.

Di saat sebagian orang beranggapan generasi muda mulai meninggalkan buku karena lebih tertarik pada gawai dan media sosial, aktivitas di perpustakaan justru menunjukkan cerita berbeda.

Kepala UPA Perpustakaan Universitas Siliwangi, Budi Riswandi, mengungkapkan adanya peningkatan signifikan pada data kunjungan maupun peminjaman buku di Perpustakaan Unsil.

Menurutnya, perkembangan teknologi tidak serta-merta membuat mahasiswa meninggalkan perpustakaan.

Justru, ketika perpustakaan mampu beradaptasi dengan perkembangan teknologi dan menghadirkan ruang yang nyaman, fasilitas memadai serta bahan referensi yang dibutuhkan, minat mahasiswa untuk datang tetap tinggi.

"Melihat fakta di perpustakaan Universitas Siliwangi, data kunjungan dan peminjam signifikan naik di Perpustakaan Unsil," ujar Budi Riswandi saat dihubungi TIMES Indonesia melalui telepon selulernya. Senin (14/9/2026).

Budi menjelaskan, pengelolaan perpustakaan Unsil saat ini telah menggunakan sistem digital melalui SLiMS (Senayan Library Management System).

Sistem tersebut membantu perpustakaan dalam mengelola berbagai layanan dan data kepustakaan secara lebih terintegrasi. "Kita sudah berbasis SLiMS (Senayan Library Management System)," katanya.

Menurut Budi, perkembangan kunjungan perpustakaan dapat dipantau melalui statistik yang tersedia. Bahkan, setiap bulan terdapat perubahan angka kunjungan yang menunjukkan kecenderungan peningkatan.

"Setiap bulan selalu ada statistik kenaikannya," ungkapnya.

Yang menarik, tingginya angka kunjungan tersebut tidak hanya terjadi ketika aktivitas perkuliahan berlangsung penuh.

Budi menyebut, pada Agustus, ketika mahasiswa masih berada dalam masa libur dan kegiatan akademik belum efektif sepenuhnya, jumlah kunjungan sudah menunjukkan angka yang tinggi.

"Di Agustus, masa di mana mahasiswa masih libur, belum efektif. Bulan September pasti naik signifikan," tandasnya.

Bagi Budi, kondisi tersebut menjadi indikator bahwa keberadaan perpustakaan masih dibutuhkan mahasiswa. "Di masa libur saja angkanya tinggi," katanya.

Fenomena di Perpustakaan Unsil tersebut menjadi menarik jika ditempatkan dalam konteks perubahan kebiasaan membaca generasi muda.

Hari ini, membaca tidak lagi hanya dilakukan melalui buku. Anak muda membaca pesan WhatsApp, artikel berita, unggahan media sosial, jurnal digital, e-book hingga berbagai informasi yang muncul melalui mesin pencari.

Namun, kemudahan mendapatkan informasi melalui internet menghadirkan tantangan baru.Informasi menjadi cepat diperoleh, tetapi belum tentu mendalam.

Video berdurasi pendek dapat menjelaskan sebuah topik dalam hitungan detik. Namun, memahami sebuah persoalan secara utuh terkadang membutuhkan waktu lebih panjang, membaca berbagai referensi dan membandingkan informasi.

Di sinilah perpustakaan tetap memiliki posisi penting. Perpustakaan bukan hanya tempat mengambil buku dari rak perpustakaan menjadi ruang untuk memperdalam informasi.

"Indikator pendukungnya ya kenyamanan tempat, fasilitas, dan ketersediaan bahan referensi," kata Budi.

Hal tersebut menunjukkan bahwa keberadaan buku saja tidak cukup. Generasi muda membutuhkan pengalaman ketika datang ke perpustakaan.

Mereka membutuhkan tempat yang nyaman untuk membaca, berdiskusi, mengerjakan tugas, melakukan penelitian maupun sekadar mencari ruang untuk belajar.

Perpustakaan Unsil sendiri telah bergerak menuju ekosistem layanan digital. Situs resmi perpustakaan menyebut pengelolaan perpustakaan telah menggunakan SLiMS dan mengembangkan layanan berbasis digital. 

Perpustakaan juga memiliki koleksi cetak dan noncetak, termasuk e-book, repositori dan jurnal internasional.

Bahkan, sebelumnya Perpustakaan Unsil juga telah meluncurkan Siliwangi Digital Pustaka (SIGITA) sebagai layanan buku elektronik yang dapat diakses pemustaka dari lingkungan kampus maupun masyarakat di luar kampus.

Artinya, perpustakaan tidak sedang berdiri berhadap-hadapan dengan teknologi. Perpustakaan justru memanfaatkan teknologi sebagai bagian dari transformasi layanan.

Ini menjadi penting karena generasi muda sudah terbiasa dengan kecepatan dan kemudahan teknologi dan terbiasa mencari informasi melalui mesin pencari serta membuka katalog secara digital dengan mengakses buku elektronik dan terbiasa berkomunikasi melalui platform digital.

Maka, perpustakaan yang ingin tetap menjadi ruang pengetahuan bagi generasi muda harus mampu mengikuti perubahan tersebut.

Anggapan bahwa perpustakaan semakin ditinggalkan generasi muda juga perlu dilihat secara lebih hati-hati. Dokumen layanan Perpustakaan Unsil mencatat jumlah kunjungan pemustaka mengalami perubahan signifikan. 

Dikutip dari laman resmi https://unsil.ac.id/, kunjungan ke perpustakaan UPA Unsil pada 2018 tercatat 11.493 kunjungan, lalu meningkat menjadi 24.124 pada 2019.

Setelah mengalami penurunan pada masa pandemi, kunjungan kembali meningkat menjadi 34.051 pada 2022 dan mencapai 147.844 kunjungan pada 2023.

Angka tersebut setidaknya memberikan gambaran bahwa perpustakaan perguruan tinggi masih mempunyai daya tarik bagi mahasiswa.

Terlebih, Perpustakaan Unsil tidak hanya mengandalkan koleksi buku cetak. Layanan yang tersedia mencakup layanan baca di tempat, sirkulasi, referensi, penelusuran informasi, multimedia dan literasi informasi.

Perpustakaan juga memosisikan diri sebagai ruang publik yang bersahabat dan penyedia akses informasi kepustakaan yang kontekstual. Dengan kata lain, perpustakaan berusaha menyesuaikan diri dengan kebutuhan penggunanya.

Generasi muda hari ini mungkin lebih cepat berpindah dari satu konten ke konten lainnya. Tetapi bukan berarti mereka kehilangan kebutuhan terhadap pengetahuan yang mendalam.

Seorang mahasiswa yang menemukan informasi awal melalui TikTok tetap membutuhkan referensi ketika harus membuat tugas. Seorang mahasiswa yang menemukan gagasan melalui Instagram tetap membutuhkan jurnal ketika melakukan penelitian.

Seorang anak muda yang menonton video mengenai suatu persoalan tetap membutuhkan buku ketika ingin memahami persoalan tersebut secara lebih utuh.

Di sinilah media sosial dan perpustakaan sebenarnya dapat saling melengkapi.

Media sosial dapat menjadi pintu masuk tetapi Perpustakaan dapat menjadi ruang pendalaman dan video pendek dapat membangkitkan rasa ingin tahu kemudian buku, jurnal dan sumber referensi yang akan  dapat membantu menjawab rasa ingin tahu tersebut.

Dengan pola seperti itu, teknologi tidak perlu dianggap sebagai musuh perpustakaan. Justru teknologi dapat menjadi jembatan yang menghubungkan generasi muda dengan sumber pengetahuan yang lebih luas.

Perubahan perilaku generasi muda juga menuntut perpustakaan mengubah cara pandangnya. Perpustakaan tidak cukup hanya menjadi tempat penyimpanan buku.

Perpustakaan harus menjadi ruang pengetahuan ruang diskusi, ruang kreativitas, ruang penelitian ruang bertemu bahkan, ruang untuk membangun komunitas dimana kenyamanan menjadi salah satu kunci dan fasilitas menjadi pendukung.

Ketersediaan referensi menjadi kebutuhan utama, sementara teknologi menjadi penghubung antara pemustaka dan sumber pengetahuan.

Perpustakaan Unsil sendiri memiliki visi menjadi ruang publik yang bersahabat sekaligus penyedia layanan akses informasi kepustakaan yang kontekstual.

Konsep tersebut relevan dengan kebutuhan generasi muda saat ini, mahasiswa  tidak hanya membutuhkan buku tetapi membutuhkan ekosistem belajar.

Hari Kunjung Perpustakaan pada akhirnya tidak cukup dimaknai sebagai ajakan agar masyarakat datang ke perpustakaan.

Momentum tersebut dapat menjadi ruang refleksi tentang bagaimana budaya membaca harus bertahan di tengah perubahan zaman.

Persoalannya bukan lagi apakah buku cetak akan kalah dengan smartphone. Bukan pula apakah TikTok akan mengalahkan perpustakaan.

Pertanyaan yang jauh lebih penting adalah: bagaimana semua teknologi tersebut dapat digunakan untuk memperkuat budaya literasi?

Sebab, banjir informasi tidak selalu berarti meningkatnya pengetahuan. Informasi yang cepat belum tentu informasi yang benar. Konten yang viral belum tentu memiliki kedalaman. Dan sesuatu yang banyak ditonton belum tentu layak dipercaya.

Generasi muda membutuhkan kemampuan untuk memilah, memeriksa, memahami dan mengkritisi informasi. Di sinilah perpustakaan memiliki peran strategis.

Kisah Perpustakaan Unsil memberikan gambaran menarik. Di tengah kekhawatiran bahwa teknologi digital akan membuat anak muda meninggalkan buku, angka kunjungan dan peminjaman justru menunjukkan tren yang menggembirakan, menurut Budi Riswandi.

Bahkan pada masa mahasiswa masih libur, aktivitas perpustakaan tetap tinggi. Ini menunjukkan bahwa persoalan perpustakaan bukan semata-mata tentang apakah anak muda masih membaca atau tidak.

Persoalannya adalah apakah perpustakaan mampu menyediakan alasan bagi mereka untuk datang yang ditunjang  dengan kenyamanan, fasilitas, referensi, teknologi dan pelayanan. (*)

Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu! Klik 👉 Channel TIMES Indonesia. Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.

Berita ini juga tayang di portal nasional

Baca versi lengkapnya di jaringan nasional kami.

Baca di sini
Penulis:Harniwan Obech
|
Editor:Ronny Wicaksono

News Logo

Media Online No 1 Pembangun Ketahanan Informasi di Jabar, Menyajikan Berita Terkini Seputar Berita Politik, Bisnis, Olahraga, Artis, Hukum, yang membangun, menginspirasi, dan berpositif thinking berdasarkan jurnalisme positif.

Kanal Utama

    Kontak Kami

    • Jl. Besar Ijen No.90, Oro-oro Dowo, Kec. Klojen, Kota Malang, Jawa Timur 65116
    • (0341) 563566
    • [email protected]

    Berlangganan

    Dapatkan berita terbaru langsung di inbox Anda

    Member Of

    Logo WANIFRALogo AMSILogo Dewan PersLogo Trusted

    SUPPORTED BY

    Logo Varnion
    © 2025 TIMES Indonesia. All rights reserved.