Warga Desa Padasari Tegal Bangkit di Huntara, Air Bersih Masih Membayangi Kehidupan
Bupati, Wakil Bupati, dan Kepala Dinas Sosial Kabupaten Tegal usai penyerahan kunci hunian sementara (Foto: Cahyo Nugroho for TIMES Indonesia)

Warga Desa Padasari Tegal Bangkit di Huntara, Air Bersih Masih Membayangi Kehidupan

Warga Desa Padasari bangkit pascabencana pergerakan tanah. Tinggal di huntara dengan fasilitas terbatas, mereka masih krisis air bersih sambil menunggu hunian tetap dibangun.

TIMES Jabar,Rabu 29 April 2026, 19:01 WIB
611
C
Cahyo Nugroho

TEGALRatusan warga Desa Padasari, Kecamatan Jatinegara, Kabupaten Tegal, kini perlahan mencoba bangkit setelah bencana pergerakan tanah memaksa mereka meninggalkan rumah masing-masing. 

Di hunian sementara (Huntara) yang dibangun pemerintah, kehidupan baru mulai dirajut kembali, meski berbagai keterbatasan masih membayangi, terutama soal ketersediaan air bersih.

Di desa yang dulu tenang itu, tanda-tanda bencana sebenarnya muncul perlahan. Retakan kecil di tanah sempat dianggap hal biasa. 

Namun dalam hitungan waktu, garis-garis itu melebar, merambat ke halaman rumah, hingga akhirnya merusak bangunan warga. Dinding retak, lantai bergeser, dan suara tanah yang bergerak di bawah permukiman membuat warga tak lagi merasa aman untuk bertahan.

Situasi tersebut memaksa ratusan kepala keluarga mengungsi. Mereka meninggalkan rumah bukan karena pilihan, tetapi karena ancaman yang semakin nyata. 

Pemerintah Kabupaten Tegal kemudian bekerjasama dengan provinsi Jateng dan Kementerian Pekerjaan Umum menyiapkan hunian sementara sebagai tempat tinggal darurat bagi para warga terdampak.

Deretan bangunan huntara berukuran sekitar 3 x 6 meter kini menjadi rumah baru bagi mereka. Sederhana, dengan fasilitas terbatas, namun cukup untuk memberi rasa aman di tengah ketidakpastian.

article

Suasana di huntara perlahan mulai hidup. Anak-anak menjadi yang paling cepat beradaptasi. Mereka kembali berlarian di antara bangunan, bermain tanpa beban, seolah berusaha menghapus ingatan tentang rumah yang hilang. 

Tawa mereka menjadi pemandangan yang kontras dengan situasi beberapa waktu sebelumnya, ketika kepanikan dan ketakutan mendominasi kehidupan desa.

Namun bagi orang dewasa, tantangan belum mereda. Selain harus menata ulang kehidupan dari nol, mereka juga  harus berhadapan dengan keterbatasan fasilitas dasar. 

Masalah paling krusial saat ini adalah air bersih. Warga hanya mengandalkan distribusi air menggunakan tangki yang datang secara berkala.

Setiap kali truk tangki air tiba, suasana huntara langsung berubah. Para Warga bergegas membawa ember, jeriken, dan wadah seadanya untuk mengisi persediaan air. 

Mereka harus mengatur penggunaan dengan sangat hemat agar cukup hingga pengiriman berikutnya. Kondisi tersebut  membuat aktivitas harian benar-benar disesuaikan dengan ketersediaan air.

Di sisi lain, pemerintah Kabupaten Tegal bersama Kementerian Pekerjaan Umum telah menyalurkan berbagai bantuan darurat. 

Selain pembangunan Huntara, warga juga menerima bantuan sembako, fasilitas sanitasi, serta dukungan biaya hidup sementara sekitar Rp15 ribu per orang per hari selama masa transisi 90 hari.

Bupati Tegal Ischak Maulana Rohman, didampingi Wakil Bupati dan Sekda Pemkab Tegal menyampaikan bahwa pemerintah daerah saat ini tengah menyiapkan pembangunan  hunian tetap bagi warga terdampak. 

Hunian tersebut direncanakan dibangun di lokasi yang lebih aman dan stabil, dengan mempertimbangkan kondisi geologis wilayah perbukitan yang rawan pergerakan tanah.

"Selain rumah, pemerintah juga berencana membangun fasilitas umum lainnya seperti sekolah dasar, balai desa, serta ruang terbuka untuk aktivitas warga." jelas Bupati usai penyerahan Kunci rumah Huntara.

Meski demikian, menurut Ischak bahwa  proses pemulihan tidak bisa dilakukan cepat. Kajian teknis akan menjadi tahapan penting yang harus dilakukan sebelum pembangunan hunian tetap dimulai. 

Sementara menurut Afi Triato Kepala Satuan Kerja Pelaksaanaa Prasarana Srartegis Jawa Tengah menjelaskan bahwa kondisi tanah yang tidak stabil membuat setiap keputusan mempertimbangkan aspek keselamatan jangka panjang.

" Kami memang mengalami kendala karena lahan perbukitan sehingga harus ada kajian teknis agar Huntara atau Huntap dapat lebih nyaman di huni oleh warga" terang Afi Triato, pada Rabu (29/4/2026)

Di tengah segala keterbatasan itu, warga Padasari tetap berusaha bertahan. Hidup di huntara memang jauh kata ideal, namun menjadi ruang sementara yang memberi mereka kesempatan untuk memulai lagi. 

Bagi warga Desa Padasari Kecamatan Jatinegara  , rumah mungkin telah hilang ditelan pergeseran tanah, tetapi kehidupan tidak berhenti di situ pasalnya mereka harus terus menjaga harapan untuk  kembali hidup lebih aman dan layak di masa depan. (*)

Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu! Klik 👉 Channel TIMES Indonesia. Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.

Berita ini juga tayang di portal nasional

Baca versi lengkapnya di jaringan nasional kami.

Baca di sini
Penulis:Cahyo Nugroho
|
Editor:Hendarmono Al Sidarto

News Logo

Media Online No 1 Pembangun Ketahanan Informasi di Jawa Barat, Menyajikan Berita Terkini Seputar Berita Politik, Bisnis, Olahraga, Artis, Hukum, yang membangun, menginspirasi, dan berpositif thinking berdasarkan jurnalisme positif.

Kanal Utama

    Kontak Kami

    • Jl. Besar Ijen No.90, Oro-oro Dowo, Kec. Klojen, Kota Malang, Jawa Timur 65116
    • (0341) 563566
    • [email protected]

    Berlangganan

    Dapatkan berita terbaru langsung di inbox Anda

    Member Of

    Logo WANIFRALogo AMSILogo Dewan PersLogo Trusted

    SUPPORTED BY

    Logo Varnion
    © 2025 TIMES Indonesia. All rights reserved.