Ekonomi Tumbuh Positif, Wali Kota Bandung Tekankan Fiskal Sehat dan Pariwisata
Wali Kota Bandung, Muhammad Farhan, menyampaikan bahwa stabilitas ekonomi kota tidak hanya tercermin dari pertumbuhan yang konsisten, tetapi juga dari inflasi yang terkendali.
BANDUNG – Kota Bandung mengawali tahun 2026 dengan catatan kinerja ekonomi yang dinilai solid. Pertumbuhan ekonomi daerah tercatat berada di atas 5 persen, sejalan dengan tren positif yang juga dialami Provinsi Jawa Barat.
Di tengah dinamika global dan nasional, capaian ini memperlihatkan ketahanan ekonomi kota serta efektivitas pengelolaan fiskal pemerintah daerah.
Wali Kota Bandung, Muhammad Farhan, menyampaikan bahwa stabilitas ekonomi kota tidak hanya tercermin dari pertumbuhan yang konsisten, tetapi juga dari inflasi yang terkendali.
“Pertumbuhan ekonomi sekarang luar biasa. Itu pasti di atas 5 persen. Inflasi juga terkendali, di bawah 3 persen terus,” ujar Farhan di Balai Kota Bandung, Kamis (19/2/2026).
Selain pertumbuhan ekonomi, indikator kesejahteraan masyarakat turut menunjukkan perbaikan. Angka kemiskinan ekstrem di Kota Bandung dilaporkan menurun.
Namun demikian, pemerintah kota tetap mencermati dinamika sosial yang muncul, khususnya bagi warga yang mengalami perubahan status ekonomi.
Sejumlah warga yang naik ke kelompok pendapatan lebih tinggi berpotensi tidak lagi menerima bantuan iuran BPJS Kesehatan, sehingga memerlukan penyesuaian dalam skema perlindungan sosial.
Farhan menegaskan, Pemkot Bandung telah menyiapkan sistem administrasi yang lebih tertata untuk mengantisipasi kondisi tersebut.
Warga yang masih berada di kelompok ekonomi rentan tetapi belum terdaftar sebagai penerima bantuan akan diupayakan masuk dalam skema yang tersedia, termasuk melalui program Universal Health Coverage (UHC).
Langkah ini menjadi bagian dari upaya menjaga keseimbangan antara pertumbuhan ekonomi dan perlindungan sosial.
Dari sisi fiskal, kondisi keuangan daerah dinilai sangat sehat. Pendapatan Asli Daerah (PAD) mengalami peningkatan signifikan, bahkan melampaui 15 persen.
Sektor restoran menjadi salah satu penyumbang terbesar kenaikan tersebut, mencerminkan aktivitas ekonomi masyarakat yang terus bergerak.
Farhan mengapresiasi kepatuhan pelaku usaha dalam memenuhi kewajiban pajak daerah. “Saya ingin mengucapkan terima kasih kepada para pengelola restoran yang telah patuh membayar pajak 10 persen,” katanya.
Menariknya, meskipun tingkat hunian hotel mengalami penurunan akibat tren wisata singkat tanpa menginap, kontribusi PAD dari sektor perhotelan tetap meningkat.
Hal ini dipengaruhi oleh penyesuaian tarif kamar serta dominasi hotel berbintang yang mampu menjaga pendapatan sektor tersebut.
Ke depan, Pemerintah Kota Bandung berencana memperkuat ekosistem pariwisata melalui penyelenggaraan berbagai festival, pertunjukan seni, hingga event olahraga.
Kota Bandung juga diproyeksikan menjadi tuan rumah sejumlah ajang olahraga daerah, termasuk Pekan Paralimpik Daerah dan dukungan untuk Pekan Olahraga Provinsi.
Agenda-agenda tersebut diyakini dapat mendorong perputaran ekonomi di berbagai sektor, mulai dari kuliner, perhotelan, hingga transportasi.
“Ekonomi itu berputar dari event-event. Persib ramai, Satria Muda ramai. Itu jadi motor ekonomi,” ujar Farhan.
Dengan pertumbuhan yang stabil, inflasi terkendali, serta peningkatan PAD yang konsisten, Pemerintah Kota Bandung optimistis fondasi ekonomi daerah semakin kuat.
Meski demikian, pemerintah tetap menekankan pentingnya kewaspadaan terhadap potensi ketimpangan sosial agar manfaat pertumbuhan dapat dirasakan secara merata oleh seluruh warga. (*)
Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu! Klik 👉 Channel TIMES Indonesia. Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.




