Konsep Edu Wisata Konservasi, Bangun Harapan Baru untuk Penyu Batu Hiu Pangandaran
Di balik keindahan panorama laut selatan, tersimpan kekhawatiran besar mengenai masa depan salah satu satwa laut paling penting bagi keseimbangan ekosistem yakni penyu.
TASIKMALAYA – Deburan ombak di pesisir selatan Pantai Batu Hiu, Kabupaten Pangandaran masih terdengar tenang seperti biasa.
Angin laut berhembus lembut menerpa kawasan wisata Pantai Batu Hiu yang selama ini dikenal sebagai salah satu destinasi favorit wisatawan di Jawa Barat.
Namun di balik keindahan panorama laut selatan itu, tersimpan kekhawatiran besar mengenai masa depan salah satu satwa laut paling penting bagi keseimbangan ekosistem, yakni penyu.
Populasi penyu yang telah hidup sejak jutaan tahun lalu tersebut di kawasan pesisir selatan terus menghadapi ancaman serius.
Faktor mulai perburuan liar, perdagangan telur dan daging penyu, kerusakan habitat bertelur hingga rendahnya kesadaran mengenai pentingnya konservasi menjadi penyebab utama makin berkurangnya keberadaan satwa ini.
Padahal, keberadaan penyu memiliki peranan yang sangat penting bagi kehidupan laut.
Penyu membantu menjaga keseimbangan rantai makanan laut serta mempertahankan kesehatan padang lamun dan terumbu karang yang menjadi rumah bagi berbagai biota laut lainnya.
Ketika populasi penyu terus menurun, maka dampaknya tidak hanya dirasakan oleh ekosistem laut, tetapi juga akan memengaruhi keberlangsungan sektor pariwisata bahari yang selama ini menjadi kekuatan utama kawasan pesisir selatan Jawa Barat.
Kondisi inilah yang kemudian menggugah kepedulian sejumlah pihak, termasuk pelaku industri pariwisata.
Salah satunya datang dari Katara Tour, agen perjalanan asal Kota Tasikmalaya yang mulai mengembangkan konsep wisata edukasi konservasi penyu sebagai bagian dari gerakan pariwisata berkelanjutan.
Di tengah berkembangnya tren wisata alam dan ecotourism, wisatawan saat ini tidak lagi hanya mencari tempat indah untuk berfoto atau bersantai.
Banyak wisatawan, terutama generasi muda dan wisatawan asing, mulai mencari pengalaman perjalanan yang memiliki makna lebih dalam.
Fenomena itu ditangkap oleh Founder Katara Tour, Ervan Kurniawan. Pria berkacamata berusia 46 tahun tersebut melihat bahwa pariwisata harus mampu memberikan dampak positif bagi lingkungan dan masyarakat sekitar.
Sebagai alumni National Hotel Institute Bandung tahun 2001, Ervan memahami bahwa industri pariwisata memiliki hubungan yang sangat erat dengan kelestarian alam.
Tanpa lingkungan yang sehat, sektor wisata tidak akan mampu bertahan dalam jangka panjang.
Saat ditemui TIMES Indonesia, Ervan mengungkapkan bahwa edukasi konservasi terhadap wisatawan menjadi salah satu langkah penting yang harus dilakukan para pelaku usaha wisata saat ini.
“Katara berkomitmen untuk pariwisata berkelanjutan, dan mengajak semua komponen termasuk wisatawan yang menggunakan jasa Katara untuk menjadi wisatawan yang bertanggung jawab dengan cara memasukkan aktivitas yang berkaitan dengan konservasi,” ungkap Ervan, Kamis (14/5/2026).
Wisata Sekaligus Edukasi Konservasi

Menurutnya, konsep wisata masa depan bukan hanya menjual destinasi, melainkan juga membangun kesadaran dan kepedulian wisatawan terhadap lingkungan.
Karena itulah, dalam sejumlah paket wisata yang diselenggarakan menuju Pangandaran, Katara Tour secara khusus memasukkan agenda kunjungan ke penangkaran penyu di kawasan Batu Hiu Pangandaran.
Di lokasi konservasi tersebut, wisatawan tidak hanya diajak melihat penyu dari kejauhan.
Mereka diberikan pemahaman mengenai pentingnya keberadaan penyu dalam menjaga ekosistem laut, mengenal ancaman yang dihadapi satwa, hingga memahami bagaimana proses konservasi dilakun para aktivis lingkungan.
Bagi sebagian wisatawan, pengalaman ini menjadi sesuatu yang berbeda dari perjalanan wisata pada umumnya. Ada nilai emosional yang muncul ketika mereka melihat tukik-tukik kecil berjalan perlahan menuju lautan lepas.
Tidak sedikit wisatawan yang mengaku tersentuh ketika mengetahui bahwa hanya sebagian kecil tukik yang mampu bertahan hidup hingga dewasa akibat ancaman predator maupun aktivitas manusia.
Melalui kegiatan tersebut, wisatawan juga diajak ikut berkontribusi secara langsung dalam upaya pelestarian penyu.
Bentuk kontribusi itu dilakukan melalui donasi kepada pengelola konservasi hingga mengikuti kegiatan pelepasan tukik ke laut.
Menurut Ervan, konsep wisata edukasi konservasi tidak hanya memberikan pengalaman unik bagi wisatawan, tetapi juga membantu keberlangsungan gerakan konservasi itu sendiri.
“Selain mendapat wawasan tentang penyu itu sendiri dan pentingnya keberadaan ekosistem penyu ini di lautan, Katara juga mengajak wisatawan untuk berkontribusi dalam pelestarian itu secara langsung, sehingga menjadi nilai ekonomi untuk para aktivisnya supaya pergerakan pelestariannya berkelanjutan,” jelasnya.
Ia menilai, gerakan konservasi tidak bisa hanya dibebankan kepada pemerintah atau komunitas lingkungan semata. Industri pariwisata juga harus hadir menjadi bagian dari solusi.
Kesadaran akan pentingnya tanggung jawab lingkungan juga dirasakan oleh para tour leader yang mendampingi perjalanan wisata.
Kepedulian Pelaku Wisata

Salah satu tour leader Katara Tour, Barirosdi Amrulloh, mengakui bahwa aktivitas wisata sebenarnya tidak bisa dilepaskan dari potensi kerusakan lingkungan.
Semakin banyak wisatawan datang ke sebuah destinasi, maka semakin besar pula tekanan terhadap alam.
Karena itu, menurut pria berusia 29 tahun tersebut, pelaku bisnis pariwisata harus memiliki kepedulian nyata terhadap keberlangsungan lingkungan.
“Program edukasi wisata konservasi ini salah satu bentuk tanggung jawab para pengusaha atau pelaku bisnis pariwisata untuk ikut andil dalam pelestarian penyu. Karena ini untuk menjaga keberlangsungan ekosistem laut,” ujar Barirosdi.
Ia menjelaskan, kegiatan pelepasan penyu bersama wisatawan bukan sekadar aktivitas simbolis untuk dokumentasi perjalanan.
Lebih dari itu, kegiatan tersebut menjadi pengingat bahwa manusia memiliki tanggung jawab terhadap alam yang mereka nikmati.
Menurut Barirosdi, setiap tukik yang dilepas ke laut membawa harapan besar mengenai masa depan ekosistem laut Indonesia.
“Release penyu ini dilakukan dengan wisatawan itu sebagai simbol untuk komitmen kita dengan klien dan perusahaan menjaga keberlangsungan ekosistem. Harapannya penyu-penyu yang di-release ini akan terus berkembang sebagaimana perusahaan yang kita jalani juga ikut berkembang,” katanya.
Ia pun mengaku bangga dapat terlibat dalam konsep wisata yang menurutnya tidak hanya mengejar keuntungan bisnis, tetapi juga memiliki nilai sosial dan lingkungan.
“Konsep Kang Ervan bagus. Kita sebagai TL tidak perlu terlalu memikirkan konsep karena saat di lapangan selalu ada inovasi yang memiliki nilai bagi pariwisata di Indonesia, khususnya di Priangan Timur,” tandas Bari.
Sambutan Wisatawan
Program wisata edukasi konservasi penyu ternyata mendapat respons positif dari para wisatawan yang mengikutinya.
Salah satunya diungkapkan oleh Lingga Ikaditia, warga Kota Tasikmalaya yang sempat mengikuti program wisata edukasi konservasi penyu di Pantai Batu Hiu Pangandaran.
Lingga mengaku awalnya hanya mengira perjalanan tersebut merupakan wisata biasa seperti kebanyakan paket tour lainnya. Namun setelah mengikuti seluruh rangkaian kegiatan, ia merasakan pengalaman yang jauh lebih bermakna.
Menurutnya, konsep wisata edukasi konservasi seperti ini masih sangat jarang ditemukan di dunia pariwisata Indonesia.
“Saya sangat senang dengan konsep wisata edukasi ini, dan yang sangat saya apresiasi konsep ini jarang sekali saya temukan. Ini adalah sebuah konsep yang menarik yang memiliki value untuk kelanjutan pariwisata Indonesia,” ungkap Lingga.
Ia mengatakan, pengalaman melepaskan tukik ke laut memberikan kesan emosional tersendiri. Bagi dirinya, kegiatan tersebut bukan hanya menyenangkan, tetapi juga menumbuhkan rasa tanggung jawab terhadap lingkungan.
Lingga berharap konsep wisata berbasis konservasi dapat semakin berkembang dan diterapkan lebih luas oleh pelaku wisata lainnya di Indonesia.
Respons Pengelola Konservasi
Pengelola konservasi penyu Raksa Bintana, Kurdy (48), menyambut baik konsep wisata edukasi yang dikembangkan Katara Tour Tasikmalaya.
Menurut Kurdy, keterlibatan pelaku industri wisata dalam kegiatan konservasi menjadi hal penting untuk membantu meningkatkan kesadaran masyarakat mengenai pelestarian lingkungan.
“Kami sangat menyambut baik konsep wisata edukasi yang dilakukan Katara Tour. Ini bagus karena wisatawan bukan hanya datang untuk berlibur, tetapi juga belajar tentang pentingnya menjaga penyu dan ekosistem laut,” ujar Kurdy kepada TIMES Indonesia.
Ia mengatakan, sejak tahun 2013 rumah konservasi penyu miliknya sejak awal memang dibangun sebagai tempat edukasi terbuka bagi masyarakat umum.
Karena itu, pihaknya tidak pernah memasang tarif masuk khusus kepada pengunjung yang datang.
“Kami dibayar para pengunjung secara sukarelawan, istilahnya mereka berdonasi untuk kami,” kata Kurdy.
Menurutnya, dukungan dari wisatawan melalui donasi sangat membantu operasional konservasi, mulai perawatan penyu, pemeliharaan kolam, hingga penyelamatan telur penyu dari ancaman predator maupun aktivitas manusia.
Kurdy menjelaskan, konservasi penyu bukan pekerjaan mudah. Dibutuhkan kesabaran, ketelatenan, serta biaya yang tidak sedikit untuk menjaga keberlangsungan hidup penyu hingga akhirnya bisa dilepas kembali ke habitat alaminya.
Selain menjadi tempat wisata edukasi menurut Kurdy, rumah konservasi penyu Raksa Bintana juga sering dijadikan lokasi penelitian oleh mahasiswa dan akademisi dari berbagai daerah di Indonesia.
Menurut Kurdy, banyak mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) maupun peneliti kampus yang datang untuk mempelajari kehidupan penyu dan ekosistem pesisir.
“Kami banyak kehadiran mahasiswa ataupun peneliti dari sejumlah kampus perikanan di Indonesia. Dari Palembang, Sumatera dan Sulawesi pernah ke sini untuk meneliti penyu tersebut,” ucapnya.
Kehadiran para mahasiswa dan peneliti tersebut menurutnya menjadi bukti bahwa konservasi penyu memiliki nilai penting tidak hanya dari sisi lingkungan, tetapi juga dari aspek pendidikan dan ilmu pengetahuan.
Ia berharap semakin banyak generasi muda yang peduli terhadap pelestarian penyu agar keberadaan satwa laut tersebut tetap terjaga di masa mendatang.
Bagi para wisatawan yang mengikuti program wisata edukasi bersama Katara Tour, kegiatan pelepasan tukik menjadi salah satu momen paling berkesan.
Penyu dan Masa Depan Ekosistem Laut Indonesia
Penyu bukan hanya satwa laut biasa. Dalam rantai kehidupan laut, penyu memiliki fungsi ekologis yang sangat besar.
Penyu hijau (Chelonia mydas) misalnya, membantu menjaga kesehatan padang lamun dengan memakan lamun tua sehingga pertumbuhannya tetap terjaga.
Sementara jenis penyu lainnya membantu mengontrol populasi ubur-ubur dan menjaga keseimbangan rantai makanan.
Jika populasi penyu terus mengalami penurunan, maka keseimbangan ekosistem laut juga akan terganggu.
Kerusakan ekosistem laut pada akhirnya akan berdampak pada kehidupan masyarakat pesisir yang menggantungkan hidup dari sektor perikanan maupun pariwisata.
Karena itulah, upaya konservasi penyu bukan hanya soal menyelamatkan satu spesies hewan, tetapi juga menjaga keberlangsungan kehidupan manusia di masa depan.
Konsep wisata edukasi konservasi yang dibangun Katara Tour menjadi salah satu contoh bagaimana industri pariwisata dapat bertransformasi menjadi gerakan yang lebih bertanggung jawab terhadap lingkungan.
Di tengah maraknya eksploitasi destinasi wisata demi keuntungan ekonomi, langkah kecil yang dilakukan Katara Tour menjadi pengingat bahwa pariwisata yang baik bukan hanya menghadirkan kebahagiaan bagi wisatawan, tetapi juga mampu menjaga alam tetap lestari.
Karena pada akhirnya, ketika laut tetap sehat, terumbu karang tetap hidup, dan penyu masih berenang bebas di samudera, maka harapan bagi masa depan pariwisata Indonesia pun akan tetap ada. (*)
Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu! Klik 👉 Channel TIMES Indonesia. Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.
Berita ini juga tayang di portal nasional
Baca versi lengkapnya di jaringan nasional kami.

