Ashmansyah saat berakting di pagelaran monolog Resta di di Jalan Pemuda Nomor 1, Kota Tasikmalaya, Minggu (26/7/2026) malam. (FOTO: Harniwan Obech/TIMES Indonesia)

Menguliti Krisis Manusia di Tengah Arus Perubahan Lewar Monolog RESTA

Berbeda dengan pertunjukan monolog konvensional, RESTA dikemas sebagai kolaborasi lintas disiplin seni. Elemen musik hidup mengiringi hampir seluruh adegan.

TIMES Jabar,Senin 27 Juli 2026, 02:29 WIB
53
H
Harniwan Obech

TASIKMALAYALampu ruang pertunjukan perlahan diredupkan. Suasana hening menyelimuti Buleud Art Gallery & Studio di Jalan Pemuda Nomor 1, Kota Tasikmalaya, Minggu (26/7/2026) malam.

Ratusan pasang mata tertuju ke panggung sederhana. Tidak ada kemewahan tata panggung. Hanya ruang, cahaya, bunyi, dan tubuh seorang aktor yang bersiap mengajak penonton memasuki perenungan tentang kehidupan.

Pertunjukan monolog bertajuk RESTA (Respon Realita) menjadi ruang dialog antara seni dan kenyataan.

Aktor sekaligus budayawan Kota Tasikmalaya, Ashmansyah Timutiah, tampil sebagai pemeran utama yang membawa penonton menelusuri kegelisahan manusia di tengah perubahan zaman yang bergerak begitu cepat.

Monolog itu tidak sekadar menghadirkan cerita. Ia menawarkan refleksi mengenai bagaimana manusia menghadapi perubahan sosial, politik, budaya, hingga relasi dengan alam.

Dalam narasi yang dibangun, perubahan digambarkan sebagai arus deras yang menyeret manusia ke dalam kehidupan yang semakin individualistis. 

Kepentingan pribadi ditempatkan sebagai pusat segala sesuatu, bahkan diposisikan layaknya "tuhan" yang menentukan arah kehidupan.

Melalui bahasa tubuh, permainan vokal, hingga simbol-simbol visual, pertunjukan itu menghadirkan kritik terhadap kondisi masyarakat yang dinilai semakin dikuasai kepentingan kuasa dan harta.

"Menyikapi perubahan, merespon realitas. Warna, suara, bahasa, melebur gerak," menjadi benang merah pertunjukan yang berlangsung sekitar satu jam tersebut.

Ashmansyah mengajak penonton mempertanyakan kembali berbagai janji kemajuan yang selama ini digaungkan dalam politik, hukum, sosial, budaya, hingga ilmu pengetahuan.

Di atas panggung, ia menyampaikan kegelisahan bahwa berbagai bidang kehidupan justru kerap menghasilkan retorika tanpa makna.

"Kita terperangkap dalam arus deras perubahan. Pribadi menjadi raja, bahkan berubah menjadi tuhan. Kuasa dan harta menjadi panglima. Politik, hukum, sosial, budaya, dan ilmu-ilmu lainnya menciptakan omong kosong tentang perbaikan hidup, menjadi sampah," demikian salah satu penggalan naskah yang dibawakan.

Kalimat-kalimat itu tidak hanya menjadi dialog, melainkan kritik sosial yang dilontarkan kepada masyarakat modern.

Tema 'sampah' kemudian menjadi metafora utama dalam pertunjukan. Sampah tidak lagi dimaknai sebagai limbah fisik, tetapi juga sebagai tumpukan ego, kebohongan, keserakahan, dan kerusakan moral yang memenuhi ruang batin manusia.

"Sampah di mana-mana, di hati, di pikiran, di semesta raya. Sepi diri. Alam menjadi korban. Merana," ucap Ashmansyah dalam salah satu adegan yang disambut keheningan penonton.

Keheningan justru menjadi bagian penting dari pertunjukan. Tidak sedikit penonton yang larut dalam suasana reflektif ketika monolog memasuki bagian yang membahas kerusakan lingkungan sebagai konsekuensi dari kerakusan manusia.

Berbeda dengan pertunjukan monolog konvensional, RESTA dikemas sebagai kolaborasi lintas disiplin seni. Elemen musik hidup mengiringi hampir seluruh adegan. 

Permainan bunyi yang dibawakan A. Ardiansyah dan Fakong Brader tidak berfungsi sebagai ilustrasi semata, melainkan menjadi 'lawan dialog' bagi aktor di atas panggung.

Nada-nada yang lahir dari instrumen musik membangun ketegangan, mempertegas emosi, sekaligus menciptakan ruang tafsir baru terhadap setiap adegan.

Sementara itu, tata artistik yang digarap Leo Si Panatap Bulan bersama Ripki Sangu menghadirkan komposisi visual yang sederhana namun sarat makna.

Permainan cahaya yang minim justru memperkuat kesan sunyi dan keterasingan, sejalan dengan pesan yang hendak disampaikan dalam pertunjukan.

Kolaborasi antar seniman tersebut membuat panggung menjadi ruang dialog yang hidup. Musik, cahaya, bahasa, dan gerak tubuh saling merespons, membentuk satu kesatuan artistik yang utuh.

Di penghujung pertunjukan, tepuk tangan panjang memenuhi ruang galeri. Penonton tidak hanya menyaksikan sebuah monolog, tetapi juga diajak merefleksikan kondisi masyarakat yang sedang menghadapi berbagai persoalan kemanusiaan.

Melalui RESTA, Ashmansyah Timutiah menghadirkan seni sebagai medium kritik sosial sekaligus ruang kontemplasi. 

Di tengah derasnya arus modernitas, pertunjukan itu mengingatkan bahwa perubahan tidak selalu identik dengan kemajuan apabila manusia kehilangan empati, akal sehat, dan kepedulian terhadap sesama maupun alam. (*)

Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu! Klik 👉 Channel TIMES Indonesia. Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.

Berita ini juga tayang di portal nasional

Baca versi lengkapnya di jaringan nasional kami.

Baca di sini
Penulis:Harniwan Obech
|
Editor:Ronny Wicaksono

News Logo

Media Online No 1 Pembangun Ketahanan Informasi di Jawa Barat, Menyajikan Berita Terkini Seputar Berita Politik, Bisnis, Olahraga, Artis, Hukum, yang membangun, menginspirasi, dan berpositif thinking berdasarkan jurnalisme positif.

Kanal Utama

    Kontak Kami

    • Jl. Besar Ijen No.90, Oro-oro Dowo, Kec. Klojen, Kota Malang, Jawa Timur 65116
    • (0341) 563566
    • [email protected]

    Berlangganan

    Dapatkan berita terbaru langsung di inbox Anda

    Member Of

    Logo WANIFRALogo AMSILogo Dewan PersLogo Trusted

    SUPPORTED BY

    Logo Varnion
    © 2025 TIMES Indonesia. All rights reserved.