Pelaku UMKM Kota Banjar Terdampak Pemadaman Listrik, PLN Minta Maaf dan Jelaskan Penyebabnya
Pemadaman listrik dianggap sangat memukul sektor-sektor krusial UMKM, mulai dari kuliner, jasa dokumentasi, hingga manufaktur mikro.
BANJAR – Kebijakan pemadaman listrik bergilir yang terjadi belakangan ini memicu keluhan dari berbagai kalangan, terutama para pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) di Kota Banjar.
Kordinator Daerah (Korda) UMKM Naik Kelas Kota Banjar, Muhammad Eka Ersetya Kinding, SKep, Ners, MM, angkat bicara mengenai dampak nyata yang dirasakan oleh para pelaku usaha di lapangan.
Menurut Eka, pemadaman listrik ini sangat memukul sektor-sektor krusial UMKM, mulai dari kuliner, jasa dokumentasi, hingga manufaktur mikro.
Mayoritas pelaku UMKM dinilai belum siap menghadapi situasi ini karena keterbatasan alat penunjang mandiri seperti genset.
Kerugian Sektor Kuliner hingga Jasa Foto Studio
Eka membeberkan bahwa pelaku UMKM di sektor kuliner mengalami kendala berat, terutama mereka yang bergantung pada mesin pembeku (freezer).
Menurut Eka, ada keluhan dari beberapa pelaku usaha yang tidak dapat berdagang secara optimal. Khususnya untuk yang menggunakan bahan baku daging yang memerlukan treatment khusus.
"Mereka harus merogoh kocek ekstra agar daging tetap segar dan bisa diolah," ungkap Eka kepada TIMES Indonesia, Jumat (19/6/2026).
Tak hanya itu, pelaku usaha minuman kekinian yang menggunakan mesin sealer cup (penutup gelas otomatis) terpaksa harus membeli tutup gelas manual secara mendadak demi tetap bisa melayani pelanggan. Akibatnya, ada pembengkakan biaya produksi.
"Mungkin secara angka tidak fantastis, tapi mereka harus menambah biaya produksi sekitar 2 hingga 10 persen dari sebelumnya. Hal ini jelas memotong margin keuntungan yang biasa mereka dapatkan," tambahnya.
Dampak ekstrem juga dirasakan oleh sektor jasa dokumentasi dan foto studio. Pemadaman yang terjadi secara mendadak berpotensi merusak perangkat elektronik sensitif yang membutuhkan prosedur mematikan (shutdown) yang benar.
"Selain harus mengandalkan lampu rechargeable, beberapa studio bahkan terpaksa berhenti beroperasi total selama listrik padam," ungkapnya.
Harapan UMKM: Sosialisasi Masif dan Kompensasi
Sebagai perwakilan pelaku usaha, Eka berharap PT PLN (Persero) dapat memberikan informasi dan sosialisasi yang lebih masif jauh-jauh hari, tidak hanya melalui media sosial tetapi juga dibagikan langsung ke komunitas UMKM.
Ketepatan waktu pemadaman dan kecepatan penanganan juga menjadi poin krusial agar pelaku usaha bisa membuat estimasi persiapan.
"Kami juga berharap adanya kompensasi untuk pelaku usaha yang sangat terdampak. Bisa berupa keringanan pembayaran listrik atau bentuk kegiatan lain dari PLN yang dapat mendorong kembali roda perekonomian UMKM," harap Eka.
Tanggapan PLN: Manajemen Beban Demi Hindari Blackout Total
Merespons keluhan tersebut, Manager PLN ULP Banjar Kota, Fajar, menyampaikan permohonan maaf yang sebesar-besarnya atas ketidaknyamanan yang dialami masyarakat dan pelaku usaha di Kota Banjar.
Fajar menjelaskan bahwa pemadaman ini merupakan bagian dari kebijakan manajemen beban akibat belum optimalnya operasional beberapa pembangkit listrik karena terkendala teknis. Kebijakan ini tidak hanya terjadi di Banjar, melainkan merata di kota-kota lain.
Menurutnya, langkah ini bertujuan agar listrik tetap bisa digunakan secara bergantian dan menghindari pemadaman pada malam hari.
"Selain itu, manajemen beban ini menjaga pembangkit tetap beroperasi normal meskipun terbatas, jangan sampai terjadi blackout (putus total) yang penormalannya akan memakan waktu jauh lebih lama," jelas Fajar.
PLN Banjar Kota terus berkoordinasi dengan Pusat Pengatur Beban untuk memetakan wilayah pengurangan beban secara fluktuatif dan adil.
PLN juga memastikan bahwa fasilitas publik strategis, seperti sekolah-sekolah yang tengah menyelenggarakan Olimpiade Sains Nasional (OSN), diprioritaskan agar tidak terkena dampak pemadaman.
Terkait tuntutan kompensasi dan kepastian kapan kondisi akan kembali normal, Fajar menyatakan bahwa pihaknya masih memantau perkembangan di tingkat pusat.
"Untuk kompensasi, kami masih menunggu arahan dari pemerintah. Jika sudah ada informasi lebih lanjut, segera akan kami sampaikan," ucapnya.
"Kami juga terus memantau proses perbaikan ini melalui media nasional, karena isu pemenuhan operasional pembangkit ini sudah menjadi pembahasan di tingkat pusat dan Kementerian ESDM. Semoga semuanya bisa segera normal kembali," pungkas Fajar. (*)
Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu! Klik 👉 Channel TIMES Indonesia. Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.
Berita ini juga tayang di portal nasional
Baca versi lengkapnya di jaringan nasional kami.

