Petani Majalengka Hemat Biaya Irigasi 87,5 Persen Berkat LPG 3Kg di Tengah Kekeringan
Di balik ancaman kekeringan, inovasi sederhana justru menjadi penyelamat, membuktikan bahwa ketahanan pangan juga lahir dari kecerdikan di tingkat akar rumput.
MAJALENGKA – Di bawah langit kemarau yang kian keras, hamparan sawah di Kabupaten Majalengka menghadapi ancaman serius.
Debit air irigasi menyusut, tanah mulai mengering, dan bayang-bayang gagal panen menghantui ribuan petani. Namun, di tengah tekanan itu, muncul sebuah cara bertahan yang tak terduga, hemat, sederhana, dan efektif.
Para petani kini beralih dari bahan bakar Pertalite ke Gas LPG 3 kilogram untuk mengoperasikan pompa air. Langkah ini terbukti mampu memangkas biaya irigasi hingga 87,5 persen, menjadi solusi krusial di tengah musim kemarau 2026.
Kepala Dinas Ketahanan Pangan, Pertanian, dan Perikanan (DKP3) Kabupaten Majalengka, Gatot Sulaeman, mengungkapkan bahwa pemerintah daerah terus memantau wilayah terdampak kekeringan, terutama di Kecamatan Kertajati.
Dari total luas tanaman padi mencapai 39.550,94 hektare, sekitar 5.258 hektare di Kertajati menjadi salah satu yang paling rentan, dengan usia tanaman antara 45 hingga 75 hari setelah tanam (HST).
"Kondisi air yang terus menurun menuntut langkah cepat dan efisien. Kami fokus melakukan pendampingan agar petani tetap mampu mempertahankan produktivitas di tengah ancaman kekeringan," ujar Gatot, Senin (27/7/2026).
Di lapangan, strategi itu terbukti nyata. Engkus Kusnadi, petani di Kertajati, menjadi salah satu yang merasakan langsung perubahan signifikan tersebut.
Sebelum beralih ke LPG, pompa air berdiameter 3 inci miliknya menghabiskan sekitar 1,1 liter Pertalite per jam. Jika dioperasikan hampir 24 jam, kebutuhan bahan bakar mencapai 26,4 liter atau setara Rp264.000 per hari.
Kini, dengan LPG 3 kilogram, satu tabung mampu digunakan hingga sekitar 18 jam. Dalam sehari, kebutuhan hanya sekitar 1,5 tabung dengan total biaya sekitar Rp33.000. Selisihnya mencolok penghematan mencapai Rp231.000 per hari.
"Perbedaannya sangat terasa. Kalau masih pakai Pertalite, biaya bisa sampai Rp264 ribu per hari. Sekarang hanya sekitar Rp33 ribu. Ini sangat membantu kami," kata Engkus.
Efisiensi tersebut menjadi penopang utama keberlangsungan pertanian di tengah keterbatasan air. Pompa tetap bisa beroperasi hampir tanpa henti, menjaga sawah tetap teraliri, dan mencegah tanaman padi dari risiko puso.
"Kalau biaya bahan bakar mahal, petani pasti kesulitan. Dengan gas, kami masih bisa bertahan dan tetap merawat tanaman," tambahnya.
Meski demikian, para petani berharap ketersediaan LPG tetap terjaga, mengingat tingginya ketergantungan terhadap pasokan tersebut selama musim kemarau.
Pemerintah Kabupaten Majalengka melalui DKP3 juga mengimbau petani untuk terus berkoordinasi dengan penyuluh pertanian, menerapkan sistem pengairan bergilir, serta memaksimalkan sumber air yang ada.
Langkah-langkah adaptif ini menjadi kunci agar produksi padi tetap terjaga di tengah tekanan perubahan iklim yang semakin nyata.
Di balik ancaman kekeringan, inovasi sederhana justru menjadi penyelamat, membuktikan bahwa ketahanan pangan juga lahir dari kecerdikan di tingkat akar rumput. (*)
Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu! Klik 👉 Channel TIMES Indonesia. Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.
Berita ini juga tayang di portal nasional
Baca versi lengkapnya di jaringan nasional kami.

