BPBD Kota Tasikmalaya Distribusikan 1,03 Juta Liter Air Imbas Krisis Air Bersih
Sejumlah petugas BPBD saat mendistribusikan air bersih di Kelurahan Sukajaya, Kota Tasikmalaya. (FOTO: Harniwan Obech/TIMES Indonesia)

BPBD Kota Tasikmalaya Distribusikan 1,03 Juta Liter Air Imbas Krisis Air Bersih

Air bersih tersebut tidak hanya dikirim sekali atau dua kali. BPBD Kota Tasikmalaya telah melakukan 231 kali rit pengiriman ke 123 titik lokasi yang membutuhkan pasokan air.

TIMES Jabar,Kamis 10 September 2026, 17:16 WIB
269
H
Harniwan Obech

TASIKMALAYAKemarau yang berlangsung dalam beberapa bulan terakhir mulai menunjukkan dampak semakin serius di Kota Tasikmalaya, Jawa Barat.

Persediaan air bersih di sejumlah wilayah terus menipis, sementara kebutuhan masyarakat terhadap air untuk kebutuhan sehari-hari semakin meningkat.

Kondisi tersebut tergambar dari data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Tasikmalaya hingga 9 September 2026.

Sebanyak 1.033.000 liter air bersih telah disalurkan kepada masyarakat di berbagai wilayah yang terdampak kekeringan.

Air bersih tersebut tidak hanya dikirim sekali atau dua kali. BPBD Kota Tasikmalaya telah melakukan 231 kali rit pengiriman ke 123 titik lokasi yang membutuhkan pasokan air.

Bantuan tersebut telah menjangkau 15.670 kepala keluarga (KK) atau 50.673 jiwa yang merasakan dampak kekeringan.

Angka itu sekaligus memperlihatkan bahwa persoalan kekeringan di Kota Tasikmalaya bukan lagi persoalan yang terjadi secara sporadis di satu atau dua wilayah. Hampir seluruh kecamatan kini menghadapi persoalan yang sama.

Kepala BPBD Kota Tasikmalaya, Budi Martanova, mengatakan permintaan pasokan air bersih dari masyarakat masih terus berdatangan.

Menurut dia, kondisi tersebut menjadi perhatian BPBD karena musim kemarau masih memberikan tekanan terhadap ketersediaan sumber air masyarakat.

"Penyaluran dilakukan sebanyak 231 kali/rit pengiriman di 123 titik lokasi. Total volume air yang sudah didistribusikan mencapai 1.033.000 liter," kata Budi, Kamis (10/9/2026)

Berdasarkan pemetaan BPBD, kekeringan kini telah menjangkau seluruh kecamatan yang ada di Kota Tasikmalaya.

Dari 69 kelurahan, sebanyak 37 kelurahan telah merasakan dampak musim kemarau dan membutuhkan pasokan air bersih.

Jika dihitung berdasarkan jumlah kelurahan terdampak, maka cakupan kekeringan telah mencapai sekitar 53,6 persen wilayah kelurahan di Kota Tasikmalaya.

"Artinya, jika dipersentasekan kekeringan di Kota Tasik sudah tembus sekitar 53,6 persen wilayah," ujar Budi.

Angka tersebut menunjukkan bagaimana kemarau perlahan mengubah persoalan air bersih menjadi kebutuhan kemanusiaan yang harus ditangani secara bersama-sama.

Bagi masyarakat di wilayah terdampak, air bukan sekadar kebutuhan tambahan. Air menjadi kebutuhan dasar yang harus tersedia setiap hari untuk minum, memasak, mandi, mencuci dan berbagai aktivitas rumah tangga lainnya.

Dari data distribusi BPBD Kota Tasikmalaya, Kecamatan Kawalu menjadi wilayah dengan jumlah penyaluran air bersih terbanyak.

Sebanyak 55 rit air bersih telah dikirim ke 7 kelurahan dengan total 32 titik lokasi.

Kelurahan Karanganyar menjadi salah satu wilayah dengan kebutuhan paling tinggi. Di kelurahan tersebut, BPBD telah melakukan 23 kali pengiriman yang tersebar di 11 titik.

Tingginya jumlah pengiriman menggambarkan kebutuhan air bersih yang tidak bisa dipenuhi hanya melalui satu kali distribusi.

Setelah Kawalu, wilayah dengan jumlah pengiriman tinggi berikutnya adalah Kecamatan Purbaratu. BPBD mencatat sebanyak 53 kali pengiriman dilakukan ke 6 kelurahan di wilayah tersebut.

Kelurahan Singkup menjadi salah satu titik dengan kebutuhan distribusi paling tinggi. Sebanyak 24 rit air bersih dikirim ke 8 titik di kelurahan tersebut.

Kecamatan Mangkubumi juga menjadi wilayah yang mendapatkan perhatian karena sebaran titik terdampaknya cukup luas. Sebanyak 51 rit air bersih telah disalurkan ke 7 kelurahan dengan total 23 titik lokasi.

Kelurahan Karikil menjadi wilayah dengan distribusi terbesar di Kecamatan Mangkubumi. Sebanyak 22 rit air dikirim ke 8 titik. Sementara Kelurahan Cigantang mendapatkan 11 rit yang disalurkan ke 4 titik.

Data tersebut memperlihatkan bahwa persoalan kekeringan tidak hanya dilihat dari jumlah kelurahan yang terdampak. Sebaran titik yang membutuhkan air juga menjadi tantangan tersendiri dalam proses distribusi.

Semakin banyak titik yang harus dilayani, semakin besar pula kebutuhan koordinasi dan mobilisasi armada untuk memastikan bantuan air dapat sampai kepada masyarakat.

Kecamatan Tamansari juga termasuk wilayah yang mengalami tekanan cukup tinggi akibat musim kemarau. BPBD mencatat sebanyak 38 rit air bersih telah disalurkan ke 4 kelurahan.

Kelurahan Setiawargi menjadi salah satu titik dengan kebutuhan distribusi paling tinggi. Sebanyak 24 rit air telah dikirim ke 14 titik di wilayah tersebut.

Banyaknya titik pengiriman menunjukkan bahwa kebutuhan air bersih di Setiawargi tersebar pada sejumlah lokasi masyarakat.

Sementara itu, distribusi juga dilakukan di sejumlah kecamatan lain. Di Kecamatan Cipedes, BPBD melakukan 11 kali pengiriman ke 4 titik di Kelurahan Sukamanah.

Kemudian di Kecamatan Cibeureum, tercatat 10 kali pengiriman ke 4 kelurahan. Di Kecamatan Bungursari, sebanyak 5 rit air bersih disalurkan ke 3 kelurahan.

Selanjutnya, Kecamatan Indihiang mendapatkan 4 rit pengiriman yang menyasar 2 kelurahan. Untuk Kecamatan Cihideung, distribusi dilakukan sebanyak 3 rit ke 2 kelurahan.

Sedangkan Kecamatan Tawang tercatat mendapatkan 1 rit pengiriman ke Kelurahan Lengkongsari. Jika melihat jumlah penerima bantuan, persoalan kekeringan di Kota Tasikmalaya memiliki skala yang cukup besar.

Sebanyak 15.670 KK atau 50.673 jiwa telah mendapatkan manfaat dari distribusi air bersih.

Dengan kata lain, puluhan ribu warga harus menghadapi situasi ketika sumber air yang selama ini digunakan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari mengalami keterbatasan.

Bagi masyarakat yang tinggal di wilayah terdampak, kedatangan kendaraan pengangkut air menjadi momentum penting. Air yang didistribusikan kemudian digunakan masyarakat untuk berbagai kebutuhan dasar.

Karena itu, setiap pengiriman menjadi bagian penting dalam menjaga agar aktivitas masyarakat tetap berjalan di tengah kondisi kemarau.

Di sisi lain, tingginya angka distribusi juga menjadi gambaran bahwa kebutuhan air bersih masih sangat mungkin bertambah apabila kondisi kemarau berlangsung lebih lama.

BPBD pun terus menerima permintaan dari masyarakat yang wilayahnya mulai mengalami kesulitan mendapatkan air.

Penanganan kekeringan di Kota Tasikmalaya tidak dilakukan BPBD seorang diri.

Dalam proses distribusi air bersih, BPBD mendapatkan dukungan dari berbagai pihak lintas sektor. Bantuan dan sinergi datang dari sejumlah instansi, perusahaan swasta hingga organisasi masyarakat.

Kolaborasi tersebut menjadi penting mengingat kebutuhan masyarakat tersebar di banyak titik.

Dengan 123 titik lokasi yang telah mendapatkan distribusi, diperlukan koordinasi agar bantuan dapat menjangkau masyarakat secara efektif.

Budi menyampaikan apresiasi kepada seluruh pihak yang ikut membantu proses penanganan dampak kekeringan.

"Kami sangat mengapresiasi dan menyampaikan banyak terima kasih, sehingga kita bisa terus bersinergi bahu-membahu membantu meringankan beban warga," pungkasnya.

Fenomena kekeringan yang terjadi di Kota Tasikmalaya menjadi pengingat bahwa ketersediaan air bersih merupakan bagian penting dari ketahanan masyarakat menghadapi perubahan kondisi musim.

Distribusi lebih dari satu juta liter air bersih dalam waktu penanganan yang berlangsung hingga September 2026 menunjukkan besarnya kebutuhan masyarakat terhadap sumber air alternatif.

Sebanyak 1.033.000 liter air, 231 rit pengiriman, 123 titik distribusi, serta 15.670 KK atau 50.673 jiwa penerima manfaat menjadi angka yang menggambarkan luasnya dampak kemarau di Kota Tasikmalaya.

Lebih dari separuh kelurahan yang ada di kota tersebut juga telah merasakan dampaknya.

Karena itu, penanganan kekeringan tidak hanya membutuhkan respons ketika warga mulai kesulitan mendapatkan air.

Dalam jangka panjang, persoalan tersebut juga membutuhkan penguatan ketahanan sumber air, pemeliharaan lingkungan, pengelolaan sumber daya air, serta kesiapsiagaan menghadapi musim kemarau.

Untuk sementara, distribusi air bersih menjadi salah satu cara paling nyata untuk membantu masyarakat bertahan.

Di tengah kemarau yang belum sepenuhnya berakhir, setiap liter air yang sampai ke rumah-rumah warga menjadi bagian dari upaya menjaga kebutuhan dasar masyarakat Kota Tasikmalaya tetap terpenuhi. (*)

Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu! Klik 👉 Channel TIMES Indonesia. Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.

Berita ini juga tayang di portal nasional

Baca versi lengkapnya di jaringan nasional kami.

Baca di sini
Penulis:Harniwan Obech
|
Editor:Ronny Wicaksono

News Logo

Media Online No 1 Pembangun Ketahanan Informasi di Jabar, Menyajikan Berita Terkini Seputar Berita Politik, Bisnis, Olahraga, Artis, Hukum, yang membangun, menginspirasi, dan berpositif thinking berdasarkan jurnalisme positif.

Kanal Utama

    Kontak Kami

    • Jl. Besar Ijen No.90, Oro-oro Dowo, Kec. Klojen, Kota Malang, Jawa Timur 65116
    • (0341) 563566
    • [email protected]

    Berlangganan

    Dapatkan berita terbaru langsung di inbox Anda

    Member Of

    Logo WANIFRALogo AMSILogo Dewan PersLogo Trusted

    SUPPORTED BY

    Logo Varnion
    © 2025 TIMES Indonesia. All rights reserved.