Tak Maju di Bursa Ketua Golkar Majalengka, Dasim Dipuji DPP: Utamakan Partai di Atas Ambisi Pribadi
Keputusan Dasim Raden Pamungkas untuk tidak melanjutkan langkahnya dalam bursa calon Ketua DPD Partai Golkar Kabupaten Majalengka mendapat apresiasi dari jajaran pengurus pusat.
MAJALENGKA – Keputusan Ketua Fraksi Partai Golkar DPRD Kabupaten Majalengka, Jawa Barat, Dasim Raden Pamungkas, untuk tidak melanjutkan langkahnya dalam bursa calon Ketua DPD Partai Golkar Kabupaten Majalengka mendapat apresiasi dari jajaran pengurus pusat.
Wakil Ketua Umum DPP Partai Golkar, Ahmad Doli Kurnia Tandjung, menilai keputusan tersebut mencerminkan sikap kedewasaan dalam berorganisasi. Dasim dinilai mampu menempatkan kepentingan partai di atas kepentingan pribadi.
"Saya memberikan apresiasi kepada saudara Dasim. Saudara Dasim dapat dijadikan contoh dan teladan, bagaimana cara berorganisasi yang baik dan mengedepankan kepentingan partai dibandingkan kepentingan pribadi-pribadi," kata Ahmad Doli, dalam keteragan resmi yang diterima Sabtu (29/8/2026).
Menurut Doli, sikap Dasim juga menunjukkan penghormatan terhadap rekam jejak kepemimpinan H. Asep Eka Mulyana selama memimpin Partai Golkar di Kabupaten Majalengka.
Dasim, kata Doli, memahami bahwa Asep Eka masih memiliki keinginan untuk kembali memimpin DPD Partai Golkar Majalengka untuk periode ketiga. Keinginan tersebut juga harus melalui mekanisme dan mendapatkan persetujuan dari DPP Partai Golkar.
"Dasim menghargai prestasi yang telah ditorehkan oleh Asep Eka Mulyana, serta menghormati Asep yang masih berkeinginan untuk maju kembali sebagai Ketua DPD Golkar Majalengka untuk periode ketiga, yang memang harus mendapatkan persetujuan dari DPP," ujarnya.
Doli menuturkan, keputusan Dasim bukan semata-mata soal tidak maju dalam kontestasi internal partai. Lebih dari itu, sikap tersebut dinilai sebagai bentuk pemahaman terhadap mekanisme organisasi sekaligus upaya menjaga soliditas kader.
Dalam aturan organisasi Partai Golkar, Dasim yang ingin maju sebagai calon ketua juga perlu menempuh mekanisme diskresi dari Ketua Umum DPP Partai Golkar.
Namun, Dasim memilih tidak mengajukan permohonan diskresi tersebut. Keputusan itu diambil dengan mempertimbangkan penghormatan terhadap prestasi dan senioritas, sekaligus menjaga keutuhan organisasi.
"Dasim juga paham aturan organisasi, yang dia juga memerlukan diskresi dari Ketua Umum bila berkeinginan maju sebagai calon Ketua. Namun demi menghormati prestasi, senioritas, dan menjaga soliditas partai, Dasim urung mengajukan permohonan diskresi," kata Doli.
Doli menilai sikap tersebut menjadi gambaran kualitas seorang kader dalam menjalankan kehidupan berorganisasi. Menurutnya, kepentingan partai harus menjadi orientasi utama setiap kader, terutama ketika berhadapan dengan dinamika internal.
Ia berharap Partai Golkar semakin banyak memiliki kader yang mampu mengambil keputusan dengan mempertimbangkan kepentingan organisasi secara lebih luas.
"Kita perlu kader-kader dan pimpinan partai berkualitas seperti Dasim untuk terus membesarkan partai," tuturnya.
Doli juga berharap sikap Dasim tidak berhenti sebagai cerita dalam dinamika Musyawarah Daerah Partai Golkar di Majalengka. Ia ingin keputusan tersebut menjadi contoh bagi kader Golkar di berbagai daerah dalam menyikapi proses regenerasi dan pergantian kepemimpinan.
"Mudah-mudahan cerita ini menjadi teladan bagi kita semua keluarga besar Partai Golkar seluruh Indonesia," pungkasnya. (*)
Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu! Klik 👉 Channel TIMES Indonesia. Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.
Berita ini juga tayang di portal nasional
Baca versi lengkapnya di jaringan nasional kami.

