TIMES JABAR, TEGAL – Lebih dari 1.500 orang dari berbagai elemen, termasuk warga desa hutan, komunitas lingkungan, relawan, pejabat, dan Masyarakat Adat Reksa Wana Guci, melakukan aksi penanaman 2.000 batang pohon di kawasan hutan lindung lereng Gunung Slamet.
Aksi ini bertujuan menyelamatkan hutan seluas lebih dari 48 hektare yang telah mengalami degradasi akibat alih fungsi lahan dan pembukaan kebun di zona lindung.
Kerusakan hutan di radius sekitar 5,5 kilometer dari puncak ini tidak hanya mengancam ekosistem, tetapi juga warga di hilir yang semakin rentan terhadap bencana ekologis. Kesadaran akan ancaman tersebut mendorong tokoh-tokoh adat seperti Mbah Birin (Sobirin), H. Pambudi, Ali Burhan, Khanan, dan Romo Basuki untuk memimpin gerakan ini.
“Ini bukan sekadar menanam pohon. Ini soal masa depan,” tegas Mbah Birin, tokoh masyarakat Desa Guci, Rabu (14/1/2026).
Ia mengingatkan bahwa hutan berfungsi sebagai penyangga sumber air, ruang hidup satwa, dan pelindung dari longsor. Aksi ini dimungkinkan setelah para penggarap di Dukuh Sawangan sepakat meninggalkan lahan pertanian mereka demi keberlanjutan hutan.
Bagi Masyarakat Adat Reksa Wana Guci, penanaman adalah langkah awal. Mereka berencana membangun posko pemantauan dan shelter di titik-titik rawan, serta akan memantau pertumbuhan bibit secara berkala bersama warga untuk menumbuhkan kembali rasa memiliki.
Gerakan ini dinilai sebagai kritik terbuka terhadap pengelolaan hutan. “Hutan Gunung Slamet adalah penyangga kehidupan bagi banyak wilayah. Pemerintah harus hadir, bukan hanya saat bencana terjadi,” tegas Romo Basuki. (*)
| Pewarta | : Cahyo Nugroho |
| Editor | : Faizal R Arief |