TIMES JABAR, TASIKMALAYA – Di era ketika teknologi digital berbasis audio seperti screen reader, audiobook, hingga asisten suara semakin canggih dan mudah diakses, huruf Braille justru tetap menunjukkan eksistensinya.
Bagi penyandang tunanetra, Braille bukan sekadar alat bantu membaca, melainkan fondasi utama literasi, kemandirian, dan kesetaraan hak dalam pendidikan maupun kehidupan sehari-hari.
Braille merupakan sistem tulisan berbasis titik-titik timbul yang dibaca melalui sentuhan jari. Sistem ini memungkinkan penyandang disabilitas netra untuk membaca, menulis, serta memahami struktur bahasa secara utuh, mulai dari ejaan, tanda baca, hingga tata bahasa.
Kemampuan ini menjadikan Braille berbeda secara mendasar dengan teknologi audio yang hanya menyampaikan informasi secara lisan.
Penyandang disabilitas netra sekaligus pemerhati pendidikan inklusif di Priangan Timur, Mamat Rahmat, menegaskan bahwa perkembangan teknologi audio tidak bisa sepenuhnya menggantikan peran Braille.
Pemerhati Braile serta pendidikan inklusif di Priangan Timur, Mamat Rahmat saat memberikan keterangan kepDi Era Digital, Huruf Braille Tetap Jadi Pilar Literasi Penyandang Tunanetra di Tasikmalayaada TIMES Indonesia. Minggu (25/1/2026) (FOTO: Harniwan Obech/TIMES Indonesia)
“Audio hanya menyampaikan informasi secara lisan, sementara Braille melatih kemampuan membaca dan menulis secara aktif,” ungkap Mamat saat ditemui TIMES Indonesia di Majelis Taklim Tuna Netra Al Hikmah Tasikmalaya, Minggu (25/1/2026).
Menurutnya, perbedaan ini sangat krusial, terutama dalam dunia pendidikan. Anak-anak tunanetra yang berada pada fase pembentukan kemampuan literasi membutuhkan pengalaman membaca dan menulis secara langsung, bukan hanya mendengar.
“Braille adalah kunci literasi. Tanpa Braille, tunanetra berisiko mengalami keterbatasan dalam membaca dan menulis, meskipun mereka bisa mendengar informasi,” ujarnya.
Dalam konteks pendidikan inklusif, Braille memegang peranan vital. Literasi bukan hanya tentang memahami isi informasi, tetapi juga tentang kemampuan mengolah bahasa, menyusun kalimat, dan menuangkan gagasan secara tertulis.
Semua itu hanya bisa dicapai melalui penguasaan sistem baca-tulis, yang bagi tunanetra diwujudkan melalui Braille. Ketergantungan penuh pada teknologi audio dikhawatirkan akan membuat tunanetra kehilangan kemampuan dasar literasi.
Mereka memang dapat mengakses informasi, tetapi tidak memiliki kendali penuh dalam membaca, menulis, dan mengeja secara mandiri.
Peran Braille tidak berhenti di ruang kelas. Dalam kehidupan sehari-hari, Braille menjadi sarana penting untuk meningkatkan kemandirian penyandang tunanetra.
Keberadaan tulisan Braille dapat ditemukan pada berbagai fasilitas publik, seperti label obat, tombol lift, rambu-rambu fasilitas umum, hingga peralatan rumah tangga.
Keberadaan Braille memungkinkan tunanetra menjalani aktivitas secara mandiri tanpa harus selalu bergantung pada bantuan orang lain.
Dari membaca dosis obat hingga menentukan lantai tujuan di lift, titik-titik timbul itu menjadi penanda penting dalam menjaga keselamatan dan kenyamanan mereka.
Keunggulan lain dari Braille adalah sifatnya yang tidak bergantung pada listrik, jaringan internet, maupun perangkat elektronik.
Dalam kondisi darurat, keterbatasan teknologi, atau gangguan jaringan, Braille tetap dapat digunakan secara optimal.
Hal ini menjadikan Braille sebagai sistem literasi yang tangguh dan berkelanjutan, terutama bagi wilayah atau situasi yang belum sepenuhnya terjangkau teknologi digital.
Dalam dunia kerja, penguasaan Braille juga berkaitan erat dengan peluang karier penyandang tunanetra. Mereka yang memiliki kemampuan literasi Braille dinilai lebih siap menghadapi tantangan pekerjaan, khususnya di bidang administrasi, pendidikan, dan komunikasi tertulis.
Fajar siswa SLBN Tamansari saat menulis huruf braile di Majelis Taklim Tuna Netra Al Hikmah, Tasikmalaya. Minggu (25/1/2026) (FOTO: Harniwan Obech/TIMES Indonesia)
Kemampuan membaca dan menulis secara mandiri membuka akses yang lebih luas bagi tunanetra untuk berkompetisi secara setara di dunia profesional.
Seiring perkembangan zaman, Braille tidak tertinggal oleh kemajuan teknologi. Saat ini, Braille telah terintegrasi dengan perangkat digital melalui display Braille elektronik, printer Braille, serta berbagai aplikasi pendukung pada komputer dan ponsel pintar.
Integrasi ini justru memperkuat posisi Braille sebagai sistem literasi modern yang adaptif, bukan sistem lama yang ditinggalkan zaman. Braille dan teknologi audio kini berjalan beriringan, saling melengkapi, bukan saling menggantikan.
Bagi Irfan Hilmi (19), seorang pelajar tunanetra sekaligus siswa SLBN Tamansari, Braille bukan sekadar alat bantu. Braille adalah pintu menuju dunia literasi. Sejak duduk di bangku sekolah dasar, Irfan mulai mengenal titik-titik timbul yang mengajarkannya membaca, menulis, dan memahami kata demi kata.
Pengalaman tersebut membentuk cara berpikir dan belajarnya hingga kini. “Kalau hanya dengar, saya bisa lupa. Tapi kalau baca Braille, saya benar-benar mengerti,” tuturnya.
Pengalaman Irfan menjadi bukti nyata bahwa Braille memiliki peran mendalam dalam proses belajar. Audio membantu mengakses informasi, tetapi Braille membangun pemahaman dan daya ingat yang lebih kuat.
Di tengah anggapan sebagian orang bahwa Braille mulai usang karena kemajuan teknologi audio, kenyataan di lapangan justru menunjukkan sebaliknya.
Braille tetap memiliki peran yang tidak tergantikan dalam membentuk literasi, kemandirian, dan kepercayaan diri penyandang tunanetra.
Para pemerhati disabilitas menegaskan bahwa Braille harus terus diajarkan dan dikembangkan, baik di lingkungan pendidikan maupun ruang publik. Braille bukan sekadar simbol aksesibilitas, melainkan wujud nyata dari kesetaraan hak dan kesempatan bagi penyandang disabilitas netra. (*)
| Pewarta | : Harniwan Obech |
| Editor | : Wahyu Nurdiyanto |