Ingin Majukan Dunia Usaha Kopi, PaPIKI Satukan Ekosistem Kopi dari Hulu ke Hilir
PaPIKI lahir di Bandung sebagai wadah kolaborasi pelaku kopi dari hulu hingga hilir, fokus pada peningkatan kompetensi, sertifikasi, dan daya saing kopi Indonesia di pasar global.
BANDUNG – Industri kopi Indonesia terus tumbuh dan menjadi salah satu sektor yang paling dinamis dalam beberapa tahun terakhir. Di tengah geliat tersebut, lahir sebuah wadah baru yang berupaya merangkul seluruh pelaku kopi dari hulu hingga hilir yakni Perkumpulan Profesional Inovator Kopi Indonesia (PaPIKI).
Ketua PaPIKI, Steve Hidayat, menegaskan organisasi ini hadir untuk menyatukan kekuatan dan meningkatkan daya saing kopi nasional melalui kolaborasi dan peningkatan kompetensi.
PaPIKI mulai bergerak sejak awal Januari 2025. Menurut Steve, kehadiran organisasi ini didorong oleh kebutuhan akan sebuah wadah bersama bagi seluruh pemangku kepentingan kopi. “Kami merasa perlu ada ruang kolaborasi yang bisa mengakomodasi kondisi di lapangan sekaligus membangun masa depan kopi Indonesia yang lebih baik,” ujarnya dalam wawancara.
Organisasi ini mengusung konsep ekosistem. Anggotanya tidak hanya petani dan pengolah kopi, tetapi juga penyangrai, pemilik kedai, produsen kemasan, hingga penyedia mesin dan peralatan.
Dengan cakupan yang luas, PaPIKI ingin memastikan setiap mata rantai industri kopi terhubung dalam satu visi yang sama.
Sekretariat PaPIKI saat ini berada di Bandung. Kota ini dipilih sebagai titik awal karena Jawa Barat, khususnya wilayah Preanger, memiliki sejarah panjang dalam industri kopi.
Dari basis tersebut, PaPIKI mulai memperluas jaringan ke berbagai daerah. Anggotanya kini tersebar dari Aceh, Lampung, hingga Sulawesi, Bali, dan Papua. “Kami ingin mengakomodasi teman-teman dari seluruh Nusantara. Ini gerakan bersama,” kata Steve, Jumat (13/02/2026).
Salah satu fokus utama PaPIKI adalah peningkatan kompetensi profesional. Steve menekankan bahwa kualitas sumber daya manusia menjadi kunci agar kopi Indonesia mampu bersaing di pasar global. Program edukasi dan pelatihan pun menjadi prioritas, baik dalam bentuk peningkatan keterampilan teknis maupun penguatan soft skill.
PaPIKI mengacu pada standar kompetensi nasional yang ditetapkan Badan Nasional Sertifikasi Profesi (BNSP). Standar ini diterapkan bagi barista, penyangrai, hingga pemilik kedai. “Kami ingin semua profesional di sektor kopi memiliki kompetensi yang terukur dan diakui. Ini penting untuk mendorong inovasi dan daya saing produk,” ujar Steve.
Selain peningkatan kapasitas internal, PaPIKI juga menjalin komunikasi dengan berbagai kementerian. Dukungan pemerintah dinilai penting untuk memperkuat ekosistem dan membuka peluang pasar. Kerja sama dilakukan dengan Kementerian Ketenagakerjaan dan Kementerian Pendidikan dalam bidang pelatihan dan pendidikan. Sementara itu, promosi kopi ke luar negeri melibatkan Kementerian Perdagangan.
Dukungan juga datang dari sektor lain, seperti Kementerian Kebudayaan untuk inovasi serta Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan dalam aspek sosial dan keberlanjutan. Steve menyebut, sinergi dengan regulator menjadi kunci agar kebijakan yang dibuat pemerintah dapat langsung tersosialisasi kepada para pelaku usaha. “Kami menjalin hubungan agar kebijakan bisa segera diketahui dan dimanfaatkan oleh anggota,” katanya.
Di Jawa Barat saja, jumlah kedai kopi diperkirakan mencapai sekitar 2.700 unit. PaPIKI melihat potensi besar untuk merangkul para pelaku usaha tersebut. Organisasi ini membuka pintu bagi kedai dan pelaku usaha lain untuk bergabung. Menurut Steve, keterlibatan mereka penting agar PaPIKI memahami kondisi nyata di lapangan sekaligus merumuskan solusi yang relevan.
“Kami ingin merangkul semua. Dengan begitu, kami bisa melihat kondisi yang terjadi dan mencari alternatif solusi bersama,” ujarnya.
Kehadiran PaPIKI menjadi cerminan semangat kolaborasi di tengah industri kopi yang semakin kompetitif. Dengan pendekatan yang menyatukan pelaku dari berbagai lini, organisasi ini berupaya membangun ekosistem yang lebih kuat dan berkelanjutan.
Bagi Steve, masa depan kopi Indonesia tidak hanya ditentukan oleh kualitas biji, tetapi juga oleh kekuatan jejaring dan kompetensi para pelakunya. Melalui PaPIKI, ia berharap industri kopi nasional dapat melangkah lebih solid, inovatif, dan siap bersaing di tingkat global.(*)
Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu! Klik 👉 Channel TIMES Indonesia. Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.




