Ketum KONI Pusat Dukung Penuh Campus League sebagai Wadah Pembinaan Atlet Mahasiswa
Ketua Umum KONI Pusat dukung penuh Campus League, liga olahraga antarkampus berkelanjutan untuk pembinaan atlet mahasiswa berbasis tiga pilar: akademik, atletisisme, dan pengabdian sosial.
JAKARTA – Ketua Umum Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Pusat, Marciano Norman, menyatakan dukungan penuh terhadap gagasan Campus League, sebuah kompetisi olahraga antarperguruan tinggi yang dirancang untuk memperkuat sistem pembinaan atlet mahasiswa secara berkelanjutan di Indonesia.
Dukungan tersebut disampaikan Marciano Norman saat menerima tim penggagas Campus League dalam pertemuan yang berlangsung pada Selasa (10/3/2026).
Dalam kesempatan itu, ia menilai konsep yang dibangun dalam Campus League memiliki perencanaan yang matang, komprehensif, serta berorientasi jangka panjang dalam pengembangan olahraga nasional.
“Sangat menarik Campus League ini, perencanaan sangat komprehensif dan jangka panjang. Ini luar biasa,” ujar Marciano.
Menurutnya, keberadaan kompetisi yang terstruktur dan berkelanjutan sangat penting dalam sistem pembinaan atlet.
Dengan adanya liga yang rutin dan pengelolaan profesional, proses pembinaan atlet dapat berjalan lebih sistematis sehingga mampu melahirkan atlet-atlet berprestasi yang siap bersaing di tingkat nasional maupun internasional.
“KONI pasti mendukung, karena dengan pengelolaan dan liga yang teratur, pembinaan atlet berjalan dengan lebih baik,” lanjutnya.
Campus League dirancang sebagai sebuah ekosistem kompetisi olahraga mahasiswa yang melibatkan berbagai universitas dari sejumlah kota di Indonesia.
Kompetisi ini menjadi wadah pembinaan atlet usia muda, khususnya kelompok umur belasan tahun hingga awal usia 20-an, yang merupakan fase krusial dalam pembentukan prestasi atlet.
Marciano menegaskan bahwa konsep tersebut tidak hanya fokus pada prestasi olahraga semata, tetapi juga mengintegrasikan pendidikan karakter dan akademik mahasiswa.
“Campus League ini merupakan bagian dari character building bangsa Indonesia di kampus,” katanya.
Dengan pendekatan tersebut, para atlet mahasiswa diharapkan tidak hanya berkembang secara fisik dan prestasi olahraga, tetapi juga memiliki integritas, kepemimpinan, serta tanggung jawab sosial.
Tim penyelenggara Campus League sebelumnya juga menjadi bagian dari penyelenggaraan PON Bela Diri I 2025 Kudus yang dinilai sukses dan mendapat apresiasi dari berbagai pihak.
Keberhasilan event tersebut menjadi bukti bahwa tim penggagas Campus League memiliki pengalaman dan kapasitas dalam mengelola kompetisi olahraga berskala besar secara profesional.
Dalam kesempatan tersebut, Marciano juga menyampaikan apresiasi atas kesuksesan penyelenggaraan ajang tersebut.
“Sekali lagi mengucapkan terima kasih dan penghargaan yang setinggi-tingginya kepada kawan-kawan sekalian sehingga PON Bela Diri I/2026 Kudus berjalan baik,” ujarnya.
Sementara itu, pimpinan tim Campus League, Ryan Ghozali, menjelaskan bahwa kompetisi olahraga merupakan salah satu instrumen penting untuk mendorong kemajuan ekosistem olahraga nasional.
Menurutnya, keberadaan liga yang konsisten dapat menciptakan insentif bagi atlet, pelatih, universitas, hingga sponsor untuk bersama-sama membangun sistem olahraga yang berkelanjutan.
“Kompetisi adalah jalan yang memberikan insentif bagi ekosistem olahraga Indonesia untuk berkembang menuju kelas dunia,” kata Ryan.
Ia menambahkan bahwa tujuan utama Campus League adalah mengangkat derajat atlet mahasiswa sekaligus memastikan masa depan mereka lebih terjamin, baik dalam karier olahraga maupun pendidikan.
Dalam implementasinya, Campus League dibangun di atas tiga pilar utama yang menjadi fondasi pembinaan atlet mahasiswa.
1. Akademik
Para atlet yang mengikuti Campus League diwajibkan tetap menjaga prestasi akademik dengan Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) minimal 2,25. Ketentuan ini bertujuan memastikan bahwa atlet mahasiswa tetap fokus pada pendidikan.
2. Atletisisme
Campus League juga menargetkan pembentukan tim nasional berbasis kampus yang dapat menjadi jalur pembinaan atlet menuju level profesional maupun tim nasional.
3. Affinity atau Pengabdian Sosial
Selain prestasi olahraga dan akademik, atlet juga didorong untuk melakukan kegiatan pengabdian kepada masyarakat sebagai bentuk kontribusi sosial.
Pendekatan ini diharapkan mampu menciptakan atlet yang tidak hanya unggul secara fisik, tetapi juga memiliki kepedulian sosial dan karakter kuat.
Dengan dukungan dari KONI Pusat, Campus League diharapkan mampu menjadi salah satu model pembinaan olahraga berbasis perguruan tinggi yang terstruktur dan berkelanjutan di Indonesia.
Jika berjalan sesuai rencana, kompetisi ini dapat menjadi jembatan antara olahraga pendidikan, olahraga prestasi, dan pembinaan atlet profesional, sekaligus memperkuat sistem regenerasi atlet nasional.
Ke depan, Campus League juga diharapkan mampu memperluas jangkauan partisipasi universitas di berbagai daerah sehingga semakin banyak mahasiswa yang memiliki kesempatan mengembangkan bakat olahraga secara profesional tanpa meninggalkan dunia akademik.(*)
Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu! Klik 👉 Channel TIMES Indonesia. Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.



