IPB Kembangkan Konsep Sea Farming Berbasis Adat di Wakatobi
IPB University berkolaborasi dengan PT PELNI dan masyarakat adat Wakatobi kembangkan sea farming berbasis marikultur. Program ini memadukan teknologi KJA dengan kearifan lokal 'Parimparim' untuk ekonomi berkelanjutan.
bogor – Institut Pertanian Bogor (IPB) University resmi memperkenalkan konsep sea farming berbasis kearifan lokal di Kabupaten Wakatobi, Sulawesi Tenggara. Langkah inovatif ini bertujuan untuk memperkuat ketahanan ekonomi sekaligus menjaga keberlanjutan sumber daya laut bagi masyarakat pesisir melalui integrasi sains modern dan tradisi adat.
Kepala Science Techno Park PKSPL IPB University, Muhammad Qustam Sahibuddin, menekankan bahwa kunci keberhasilan program ini terletak pada pelibatan langsung masyarakat hukum adat. Menurutnya, hal ini sejalan dengan prinsip keberlanjutan sosial dan ekologis yang menjadi fondasi pembangunan wilayah pesisir.
“Pelibatan masyarakat hukum adat dalam implementasi konsep sea farming sangat relevan, karena konsep tersebut sejalan dengan semangat membangun masyarakat hukum adat di tengah perubahan yang tidak menentu,” ujar Qustam dalam keterangan resminya di Bogor, Sabtu (14/2/2026).
Kolaborasi Strategis dan Implementasi Lapangan
Program ini merupakan hasil kolaborasi antara IPB University, PT PELNI (Persero), dan Masyarakat Hukum Adat (MHA) Kadie Kapota di Kecamatan Wangi-Wangi Selatan.
Sebagai langkah awal, masyarakat Desa Kapota telah memulai pembangunan satu unit Karamba Jaring Apung (KJA) yang terdiri dari enam kotak pada Kamis (12/2). KJA ini nantinya akan difokuskan untuk budidaya ikan kerapu, yang menjadi inti dari kegiatan sea farming berbasis marikultur di wilayah tersebut.
Proses pendampingan teknis sepenuhnya dikawal oleh Lembaga Pengembangan Agromaritim dan Akselerasi Innopreneurship (LPA2I) bersama Pusat Kajian Sumberdaya Pesisir dan Lautan (PKSPL) IPB University.
Menyinergikan Sains dengan Tradisi 'Parimparim'
Qustam menjelaskan bahwa sea farming adalah sistem pemanfaatan ekosistem laut dangkal yang bertujuan meningkatkan stok ikan, mendukung konservasi, serta memicu potensi wisata bahari. Di Wakatobi, konsep ini menemukan mitra yang tepat dalam kearifan lokal masyarakat Kadie Kapota.
Masyarakat di Desa Kapota, Kapota Utara, Kabita, dan Kabita Togo memiliki tradisi Parimparim. Tradisi ini merupakan mekanisme "buka-tutup" kawasan perairan secara periodik guna mencegah eksploitasi berlebihan, terutama pada komoditas gurita. IPB menilai praktik ini adalah modal utama dalam mengelola sumber daya laut secara bijaksana.
Target Jangka Panjang
Inisiasi yang dimulai sejak akhir 2025 ini memiliki beberapa target utama, di antaranya:
-
Peningkatan kapasitas Sumber Daya Manusia (SDM).
-
Penguatan kelembagaan adat dan pemetaan sosial-ekonomi.
-
Diversifikasi ekonomi melalui budidaya laut berkelanjutan.
-
Peningkatan nilai ekonomi hasil perikanan masyarakat.
Melalui model ini, IPB University berharap pengembangan sea farming di Wakatobi dapat menjadi percontohan nasional bagi pembangunan desa pesisir yang menyejahterakan warga tanpa menghilangkan identitas budaya mereka. (*)
Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu! Klik 👉 Channel TIMES Indonesia. Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.



