IPB Kembangkan Konsep Sea Farming Berbasis Adat di Wakatobi
TIMES Jabar/IPB University mengembangkan konsep sea farming berbasis adat di Kabupaten Wakatobi, Sulawesi Tenggara. (FOTO: ANTARA/HO-IPB University)

IPB Kembangkan Konsep Sea Farming Berbasis Adat di Wakatobi

IPB University berkolaborasi dengan PT PELNI dan masyarakat adat Wakatobi kembangkan sea farming berbasis marikultur. Program ini memadukan teknologi KJA dengan kearifan lokal 'Parimparim' untuk ekonomi berkelanjutan.

TIMES Jabar,Minggu 15 Februari 2026, 08:48 WIB
640
A
Antara

bogorInstitut Pertanian Bogor (IPB) University resmi memperkenalkan konsep sea farming berbasis kearifan lokal di Kabupaten Wakatobi, Sulawesi Tenggara. Langkah inovatif ini bertujuan untuk memperkuat ketahanan ekonomi sekaligus menjaga keberlanjutan sumber daya laut bagi masyarakat pesisir melalui integrasi sains modern dan tradisi adat.

Kepala Science Techno Park PKSPL IPB University, Muhammad Qustam Sahibuddin, menekankan bahwa kunci keberhasilan program ini terletak pada pelibatan langsung masyarakat hukum adat. Menurutnya, hal ini sejalan dengan prinsip keberlanjutan sosial dan ekologis yang menjadi fondasi pembangunan wilayah pesisir.

“Pelibatan masyarakat hukum adat dalam implementasi konsep sea farming sangat relevan, karena konsep tersebut sejalan dengan semangat membangun masyarakat hukum adat di tengah perubahan yang tidak menentu,” ujar Qustam dalam keterangan resminya di Bogor, Sabtu (14/2/2026).

Kolaborasi Strategis dan Implementasi Lapangan

Program ini merupakan hasil kolaborasi antara IPB University, PT PELNI (Persero), dan Masyarakat Hukum Adat (MHA) Kadie Kapota di Kecamatan Wangi-Wangi Selatan.

Sebagai langkah awal, masyarakat Desa Kapota telah memulai pembangunan satu unit Karamba Jaring Apung (KJA) yang terdiri dari enam kotak pada Kamis (12/2). KJA ini nantinya akan difokuskan untuk budidaya ikan kerapu, yang menjadi inti dari kegiatan sea farming berbasis marikultur di wilayah tersebut.

Proses pendampingan teknis sepenuhnya dikawal oleh Lembaga Pengembangan Agromaritim dan Akselerasi Innopreneurship (LPA2I) bersama Pusat Kajian Sumberdaya Pesisir dan Lautan (PKSPL) IPB University.

Menyinergikan Sains dengan Tradisi 'Parimparim'

Qustam menjelaskan bahwa sea farming adalah sistem pemanfaatan ekosistem laut dangkal yang bertujuan meningkatkan stok ikan, mendukung konservasi, serta memicu potensi wisata bahari. Di Wakatobi, konsep ini menemukan mitra yang tepat dalam kearifan lokal masyarakat Kadie Kapota.

Masyarakat di Desa Kapota, Kapota Utara, Kabita, dan Kabita Togo memiliki tradisi Parimparim. Tradisi ini merupakan mekanisme "buka-tutup" kawasan perairan secara periodik guna mencegah eksploitasi berlebihan, terutama pada komoditas gurita. IPB menilai praktik ini adalah modal utama dalam mengelola sumber daya laut secara bijaksana.

Target Jangka Panjang

Inisiasi yang dimulai sejak akhir 2025 ini memiliki beberapa target utama, di antaranya:

Melalui model ini, IPB University berharap pengembangan sea farming di Wakatobi dapat menjadi percontohan nasional bagi pembangunan desa pesisir yang menyejahterakan warga tanpa menghilangkan identitas budaya mereka. (*)

Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu! Klik 👉 Channel TIMES Indonesia. Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.

Penulis:Antara
|
Editor:Deasy Mayasari

News Logo

Media Online No 1 Pembangun Ketahanan Informasi di Jawa Barat, Menyajikan Berita Terkini Seputar Berita Politik, Bisnis, Olahraga, Artis, Hukum, yang membangun, menginspirasi, dan berpositif thinking berdasarkan jurnalisme positif.

Kanal Utama

    Kontak Kami

    • Jl. Besar Ijen No.90, Oro-oro Dowo, Kec. Klojen, Kota Malang, Jawa Timur 65116
    • (0341) 563566
    • [email protected]

    Berlangganan

    Dapatkan berita terbaru langsung di inbox Anda

    Member Of

    Logo WANIFRALogo AMSILogo Dewan PersLogo Trusted

    SUPPORTED BY

    Logo Varnion
    © 2025 TIMES Indonesia. All rights reserved.