Dari Air Bersih hingga Kuliah, Warga Rasakan Manfaat Kepedulian PP Kota Malang
Tim Pemuda Pancasila Kota Malang saat membantu kebutuhan air bersih Ibu Timah.

Dari Air Bersih hingga Kuliah, Warga Rasakan Manfaat Kepedulian PP Kota Malang

Bagi Ibu Timah, bantuan tersebut berarti tersedianya akses air bersih setelah bertahun-tahun bergantung pada sambungan tetangga. Sementara bagi keluarga tukang cukur di Kacuk, bantuan pendidikan memberi kesempatan melangkah ke jenjang perguruan tinggi.

,Rabu 12 Agustus 2026, 19:33 WIB
547
H
Hainor Rahman

MALANGSelama bertahun-tahun, Ibu Timah hanya bisa mengandalkan sambungan air dari tetangga untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Perempuan lanjut usia yang tinggal seorang diri di Jalan Muharto Gang 5, Kota Malang, itu tidak memiliki sambungan air sendiri.

Kesehariannya diisi dengan berjualan kopi secara sederhana di kawasan Pasar Besar Malang. Di tengah keterbatasan ekonomi dan hidup tanpa keluarga yang mendampingi, kebutuhan air bersih menjadi salah satu persoalan yang harus ia hadapi.

Kondisi tersebut akhirnya mendapat perhatian melalui program kepedulian Pemuda Pancasila (PP) Kota Malang. Ketua PP Kota Malang Ripkianto membantu mengupayakan sambungan air PDAM untuk Ibu Timah. Kini, kebutuhan air bersih Ibu Timah tidak lagi sepenuhnya bergantung pada tetangga.

Kisah tersebut menjadi salah satu bentuk bantuan sosial yang dirasakan langsung masyarakat melalui kepedulian PP Kota Malang. Bantuan tidak hanya menyasar kebutuhan dasar, tetapi juga menyentuh sektor pendidikan.

Hal serupa dirasakan seorang anak dari keluarga kurang mampu di kawasan Kacuk, tepatnya Jalan Sunan Bonang, Kota Malang. Anak tersebut merupakan putra seorang tukang cukur rambut yang sehari-hari bekerja di sebuah kios kontrakan di kawasan Sawojajar, dekat Gang 21.

Keterbatasan penghasilan keluarga sempat menjadi persoalan ketika sang anak hendak melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi. Kondisi tersebut kemudian disampaikan kepada Ripkianto hingga akhirnya bantuan diberikan untuk membantu anak tersebut melanjutkan kuliah tanpa terbebani persoalan biaya.

Mahmudi, warga yang turut mengajukan bantuan kepada Ripkianto, mengatakan dirinya mengetahui langsung kondisi kedua penerima bantuan tersebut.

Ia menyebut bantuan kepada Ibu Timah sangat berarti karena menyentuh kebutuhan dasar yang selama ini menjadi persoalan.

“Dari dulu Ibu Timah tidak punya air. Beliau nyambung air ke tetangga. Alhamdulillah dapat bantuan PDAM dari Ripkianto,” ujar Mahmudi kepada TIMES Indonesia saat dihubungi via Watshhap.

Menurutnya, bantuan pendidikan juga menjadi bentuk kepedulian yang dirasakan keluarga kurang mampu. Anak seorang tukang cukur tersebut akhirnya memperoleh kesempatan untuk melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi.

“Saya teman Ripki dan kebetulan saya yang mengajukan bantuan ke Ripki,” katanya.

Bagi Mahmudi, dua bantuan tersebut menunjukkan bahwa persoalan masyarakat di tingkat bawah masih membutuhkan perhatian langsung. Kebutuhan setiap warga pun berbeda, mulai dari akses air bersih hingga kesempatan mendapatkan pendidikan.

Program kepedulian seperti itu kemudian menjadi salah satu bentuk kehadiran PP Kota Malang di tengah masyarakat. Bantuan diberikan berdasarkan persoalan yang ditemukan dan disampaikan oleh warga kepada organisasi.

Dalam kasus Ibu Timah, persoalannya adalah akses air bersih. Sementara bagi keluarga di Kacuk, persoalannya adalah keberlanjutan pendidikan anak.

Dua persoalan tersebut memiliki kebutuhan yang berbeda, tetapi sama-sama berkaitan dengan upaya memperkuat kualitas hidup masyarakat.

Kepedulian terhadap warga juga tidak selalu harus hadir dalam bentuk bantuan yang sama. Bagi warga lanjut usia yang hidup seorang diri, tersedianya air bersih dapat menjadi perubahan penting dalam kehidupan sehari-hari. Bagi keluarga dengan keterbatasan ekonomi, bantuan biaya pendidikan dapat menjadi jalan agar anak tetap memiliki kesempatan melanjutkan pendidikan.

Melalui berbagai bentuk kepedulian tersebut, manfaat program sosial dapat dirasakan langsung oleh masyarakat yang membutuhkan.

Kehadiran organisasi di tengah masyarakat pun tidak hanya diukur dari kegiatan yang digelar, tetapi juga dari sejauh mana persoalan warga dapat didengar dan dibantu sesuai kebutuhan.

Bagi Ibu Timah, bantuan tersebut berarti tersedianya akses air bersih setelah bertahun-tahun bergantung pada sambungan tetangga. Sementara bagi keluarga tukang cukur di Kacuk, bantuan pendidikan memberi kesempatan bagi anak mereka untuk melangkah ke jenjang perguruan tinggi.

Dua cerita itu menjadi gambaran kecil tentang bagaimana persoalan warga dapat direspons melalui kepedulian sosial yang menyentuh kebutuhan nyata masyarakat.(*)

Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu! Klik 👉 Channel TIMES Indonesia. Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.

Berita ini juga tayang di portal nasional

Baca versi lengkapnya di jaringan nasional kami.

Baca di sini
Penulis:Hainor Rahman
|
Editor:Hainor Rahman