Ripkianto: PP Kota Malang Harus Berdikari dan Bermanfaat
Ripkianto ingin membangun wajah PP Kota Malang yang lebih berdikari, berkompetensi dan bermanfaat. Organisasi bukan hanya tentang jumlah anggota dan struktur, tetapi tentang seberapa jauh keberadaannya mampu memberi arti bagi masyarakat.
MALANG – Pemuda Pancasila (PP) Kota Malang di bawah kepemimpinan Ripkianto, terus diarahkan menjadi organisasi kemasyarakatan yang tidak hanya kuat secara struktur, tetapi juga mampu berdiri di atas kemampuan anggotanya dan memberi manfaat nyata bagi masyarakat.
Bagi Ripkianto, ukuran keberhasilan organisasi bukan semata-mata banyaknya anggota atau besarnya struktur kepengurusan. Lebih dari itu, PP harus mampu melahirkan anggota yang memiliki kompetensi, mandiri, mampu berinovasi, serta hadir ketika masyarakat membutuhkan.
“Bagaimana kita bisa menghidupkan organisasi yang tidak dibayar. Hanya dengan modal pikiran dan tenaga,” kata Ripkianto.
Gagasan tersebut menjadi bagian dari upayanya membawa PP Kota Malang keluar dari stigma negatif yang selama ini melekat pada organisasi. Ia ingin PP dikenal sebagai organisasi pemuda yang berdikari dan bergerak di bidang sosial kemasyarakatan.
“Bagaimana tidak dipandang lagi sebagai pemuda preman. Benar-benar PP pemuda berdikari. Yang diutamakan sosial kemasyarakatan. Bagaimana kita bisa hidup berdampingan. Sesuai tujuan Bhinneka Tunggal Ika,” ujarnya.
Mengubah Stigma dengan Kerja Nyata
Menurut Ripkianto, mengubah pandangan masyarakat tidak cukup dilakukan dengan narasi. Organisasi harus membuktikannya melalui kerja yang dapat dirasakan langsung.
Selama memimpin PP Kota Malang periode 2023–2027, ia mendorong berbagai kegiatan sosial. Salah satunya membantu warga di kawasan Jodipan yang selama puluhan tahun mengalami persoalan akses air bersih dengan memasangkan jaringan air PDAM.
PP Kota Malang juga membantu sejumlah anak dari keluarga kurang mampu agar tetap dapat bersekolah, termasuk menyediakan seragam bagi anak yang sempat enggan sekolah karena kondisi pakaian yang lusuh. Selain itu, organisasi turut membantu renovasi rumah warga yang membutuhkan.
Program Jumat Berkah bertajuk “Indahnya Berbagi” juga terus dijalankan. Bagi Ripkianto, kegiatan tersebut bukan sekadar agenda rutin, tetapi bagian dari upaya menghadirkan organisasi di tengah kehidupan masyarakat.
“Ini murni kita lakukan untuk bisa memberikan kemanfaatan,” katanya.
Orientasi sosial itu sekaligus menjadi cara Ripkianto menerjemahkan nilai-nilai Pancasila dalam kerja organisasi.
Ia menyebut, sila pertama diterapkan antara lain melalui kegiatan membersihkan masjid dan musala serta memberikan parfum di masjid. Sila kedua diwujudkan melalui kepedulian terhadap masyarakat, terutama mereka yang membutuhkan bantuan.
Sementara sila ketiga diterjemahkan melalui keberagaman anggota PP. Organisasi tersebut, kata dia, terbuka bagi berbagai latar belakang masyarakat, mulai dari pengangguran, tukang becak hingga pejabat.
“Beragam, majemuk yang ada di PP. Kami menerima siapapun yang ingin masuk ke organisasi,” ujarnya.
Anggota Harus Punya Kompetensi
Selain membangun gerakan sosial, Ripkianto menilai organisasi harus mampu meningkatkan kualitas sumber daya manusia. Karena itu, kaderisasi menjadi salah satu perhatian penting.
PP Kota Malang kini mengembangkan Satuan Pelajar dan Mahasiswa (Satma) sebagai ruang tumbuh bagi generasi muda sekaligus calon penerus organisasi.
Sejumlah komisariat Satma telah dibentuk di beberapa kampus, di antaranya Universitas Islam Malang (Unisma), Institut Teknologi Nasional (ITN) Malang, dan Universitas Brawijaya. Dalam waktu dekat, pembentukan komisariat juga ditargetkan berlangsung di Universitas Merdeka (Unmer) Malang dan Universitas Widyagama.
“Satma nantinya sebagai penerus MPC (Majelis Pimpinan Cabang) Kota Malang. Supaya PP bisa berkembang menjadi organisasi yang paham tentang organisasi,” jelas Ripkianto.
Menurutnya, keberadaan Satma tidak boleh hanya menjadi wadah berkumpul. Mahasiswa yang bergabung harus mendapatkan ruang untuk belajar, mengembangkan kemampuan, berinovasi dan membangun karier.
“Saya mendidik anggota saya harus punya keahlian dan mampu berinovasi, bukan seperti PP dalam stigma negatif,” tegasnya.
Ripkianto juga berupaya membuka ruang pekerjaan bagi anggota PP di berbagai bidang sesuai kemampuan masing-masing. Baginya, kemandirian anggota akan memperkuat kemandirian organisasi.
Saat ini, ia menyebut terdapat sekitar 6.700 anggota PP Kota Malang yang telah memiliki Kartu Tanda Anggota (KTA). Mereka tersebar melalui struktur organisasi hingga tingkat kecamatan dan ranting.
Struktur tersebut menjadi modal bagi PP Kota Malang untuk memantau kondisi masyarakat sekaligus memastikan program sosial dapat menjangkau lebih banyak warga.
Terlibat dalam Persoalan Pembangunan Kota Malang
Orientasi kebermanfaatan PP Kota Malang juga diwujudkan melalui kolaborasi dengan Pemerintah Kota Malang. Salah satu yang menjadi perhatian adalah persoalan lingkungan, khususnya sampah rumah tangga.
PP mendorong pemanfaatan limbah rumah tangga agar dapat didaur ulang menjadi barang yang memiliki nilai ekonomi. Selain itu, organisasi juga memberikan masukan mengenai persoalan banjir dan kemacetan yang selama ini menjadi persoalan di Kota Malang.
“PP Kota Malang berkolaborasi dengan Pemkot Malang dalam masalah yang berkaitan dengan lingkungan, salah satunya sampah. Bagaimana limbah rumah tangga kita daur ulang menjadi barang berharga,” ujarnya.
Menurut Ripkianto, keterlibatan organisasi masyarakat dalam persoalan kota merupakan bentuk tanggung jawab sosial. PP tidak harus selalu berada di ruang internal organisasi, tetapi juga harus mampu menjadi bagian dari solusi atas persoalan masyarakat.
Mimpi Rumah Sehat Lansia
Ke depan, Ripkianto ingin memperluas gerakan sosial PP Kota Malang. Salah satu gagasan yang ingin diwujudkan adalah membangun rumah sehat bagi lansia di setiap kelurahan.
Gagasan tersebut berangkat dari pandangannya bahwa masyarakat lanjut usia membutuhkan akses pelayanan kesehatan yang dekat dan mudah dijangkau. Rumah sehat diharapkan dapat menjadi tempat pelayanan kesehatan dasar dan pengobatan gratis.
“Impian saya bisa bangun rumah sakit atau klinik,” katanya.
Untuk mewujudkan berbagai agenda tersebut, Ripkianto menyadari PP tidak bisa berjalan sendiri. Kolaborasi dengan pemerintah, perguruan tinggi, dunia usaha, komunitas dan berbagai elemen masyarakat menjadi bagian penting dari pengembangan organisasi.
Baginya, keberadaan PP harus semakin dekat dengan masyarakat dan mampu menunjukkan bahwa organisasi kemasyarakatan dapat menjadi ruang pengabdian sekaligus tempat tumbuhnya generasi muda yang kompeten.
“Saya ada di PP ini karena ingin mengabdi,” ujarnya.
Ripkianto ingin membangun wajah PP Kota Malang yang lebih berdikari, berkompetensi dan bermanfaat. Organisasi bukan hanya tentang jumlah anggota dan struktur, tetapi tentang seberapa jauh keberadaannya mampu memberi arti bagi masyarakat.
“Awali dari niat, berusaha dan akhiri dengan ikhlas,” pungkasnya.(*)
Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu! Klik 👉 Channel TIMES Indonesia. Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.
Berita ini juga tayang di portal nasional
Baca versi lengkapnya di jaringan nasional kami.