Figur AKBP Muhammad Aldy Sulaiman: Ketegasan Humanis di Balik Kepemimpinan Polres Majalengka
Karier KBP Muhammad Aldy Sulaiman ditempa dari bawah, membentuk kepekaan terhadap dinamika lapangan. Oleh karenanya, ia tidak membaca Majalengka dari laporan semata. Ia mencermatinya dari jeda, dari hal-hal kecil yang kerap luput dicatat.
MAJALENGKA – Angin berembus pelan di atas hamparan sawah yang mulai menguning. Dari kejauhan, siluet perbukitan tampak tenang, seolah tak ada yang perlu dikhawatirkan. Namun, bagi AKBP Muhammad Aldy Sulaiman,S.I.K,.M.Si, ketenangan seperti itu justru menyimpan tanda tanya.
Ia tidak membaca Majalengka dari laporan semata. Ia mencermatinya dari jeda, dari hal-hal kecil yang kerap luput dicatat: obrolan warga di warung kopi, perubahan ritme kampung, hingga kegelisahan yang tak pernah benar-benar terucap.
"Keamanan itu bukan hanya soal ada atau tidaknya kejahatan, tetapi tentang rasa aman yang benar-benar dirasakan masyarakat," ujar sang Kapolres Majalengka, Selasa (4/8/2026)
Kalimat itu sederhana, namun lahir dari perjalanan panjang yang membentuknya sebagai perwira dengan perspektif utuh, tidak hanya melihat peristiwa, tetapi juga membaca pola.
Lahir di Medan, 5 September 1985, AKBP Aldy merupakan lulusan Akademi Kepolisian tahun 2006. Kariernya ditempa dari bawah, membentuk kepekaan terhadap dinamika lapangan.
Di Bengkulu, ia pernah menjabat sebagai Kanit Reskrim Muara Bangka Hulu dan Kapolsek Sukaraja, pengalaman yang mengajarkannya bahwa kejahatan selalu memiliki wajah lokal.
Perjalanan kariernya berlanjut ke Jawa Timur, wilayah dengan kompleksitas tinggi. Ia dipercaya sebagai Kasatreskrim di sejumlah daerah strategis seperti Malang, Pelabuhan Tanjung Perak, hingga Kediri.
Di fase ini, ia berhadapan dengan berbagai bentuk kejahatan, mulai dari kriminalitas jalanan hingga jaringan terorganisir seperti perjudian. Dari sana, instingnya terasah, tidak sekadar merespons kejadian, tetapi membaca pola sebelum peristiwa terjadi.
Kariernya kemudian berkembang ke ranah strategis di Baharkam Polri. Ia pernah menjadi staf hingga koordinator sekretariat pimpinan, memahami bagaimana kebijakan keamanan dirumuskan dan diterjemahkan ke lapangan.
Tahun 2023 menjadi titik penting ketika ia mengikuti pendidikan Sespimmen Polri, menandai transisi dari operator lapangan menjadi pemimpin strategis. Secara akademik, ia juga menyelesaikan pendidikan magister di Universitas Airlangga pada 2019.
Pengalaman tersebut semakin memperkuat perspektifnya bahwa keamanan tidak dapat dilihat dari satu sisi semata. Saat menjabat sebagai Kapolres Gowa pada 2025, AKBP Aldy menghadapi wilayah dengan dinamika sosial yang kompleks.
Pengalaman itu menjadi laboratorium kepemimpinan dalam mengelola konflik, menjaga stabilitas, hingga membongkar kasus tindak pidana korupsi dan sekaligus membangun kepercayaan publik.
Ketika dilantik sebagai Kapolres Majalengka pada 24 Juni 2026, ia datang dengan kesadaran bahwa setiap wilayah memiliki karakter unik. Majalengka, menurutnya, adalah daerah yang 'tenang, tetapi tidak sederhana'.
Alih-alih fokus pada kasus besar, ia justru memberi perhatian pada hal-hal kecil, pencurian ringan, gangguan ketertiban, hingga rasa tidak aman yang tumbuh perlahan di masyarakat. Pendekatannya ia sebut sebagai 'membaca sebelum terjadi'.
Dalam praktiknya, ia lebih banyak mendengar daripada berbicara. Ia membangun komunikasi dengan tokoh masyarakat, pemerintah daerah, hingga masyarakat di akar rumput. Baginya, informasi paling berharga bukan selalu yang formal, melainkan yang jujur.
"Sinergi itu bukan slogan. Tanpa kepercayaan, informasi tidak akan pernah sampai secara utuh," tegasnya.
Di internal Polres Majalengka, ia menekankan standar yang jelas: respons cepat, pelayanan humanis, dan kehadiran nyata di tengah masyarakat. Baginya, wajah kepolisian tidak ditentukan oleh kebijakan besar, tetapi oleh perilaku sehari-hari anggotanya.
Suatu ketika, laporan kecil tentang kehilangan berulang di pinggiran Majalengka sampai ke telinganya. Kasus itu tidak besar, namun cukup menjadi sinyal.
Alih-alih menggelar operasi besar, AKBP Aldy memilih pendekatan yang lebih sunyi: patroli dialogis, komunikasi warga, serta penguatan kehadiran polisi di titik rawan.
Pendekatan itu mungkin tidak dramatis. Namun perlahan, situasi berubah. Dan bagi AKBP Aldy, perubahan seperti itulah yang paling berarti.
Sejumlah penghargaan yang diraihnya, mulai dari Satyalancana Pengabdian hingga Pin Emas Kapolri, tidak ia jadikan simbol prestise. Baginya, penghargaan adalah pengingat bahwa kepercayaan dibangun melalui konsistensi.
"Dengan dukungan seluruh anggota, kami optimistis dapat menghadirkan pelayanan yang benar-benar dirasakan masyarakat," ungkapnya.
Di tengah julukan Majalengka sebagai Kota Angin, dengan dinamika pembangunan yang terus bergerak, AKBP Aldy menegaskan pentingnya menjaga keseimbangan antara pertumbuhan dan stabilitas keamanan.
Langkahnya jelas: menghadirkan kepolisian yang tidak hanya tegas dalam penindakan, tetapi juga kuat dalam pencegahan dan pelayanan.
Di bawah kepemimpinannya, Polres Majalengka diarahkan menjadi institusi yang hadir sebagai pelindung, pengayom, sekaligus mitra masyarakat.
Senja perlahan turun di langit Majalengka. Di tengah hembusan angin yang tak pernah benar-benar diam, AKBP Muhammad Aldy Sulaiman menjalankan perannya, bukan sekadar penegak hukum, melainkan penjaga rasa aman.
Ia tidak hanya melihat apa yang terjadi, tetapi memahami apa yang mungkin terjadi. Dan di situlah, ia menjaga hal paling rapuh dalam sebuah kota: kepercayaan. (*)
Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu! Klik 👉 Channel TIMES Indonesia. Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.
Berita ini juga tayang di portal nasional
Baca versi lengkapnya di jaringan nasional kami.

