TIMES JABAR, CIANJUR – Kabupaten Cianjur kini memiliki ikon sejarah baru di bidang medis melalui penetapan Gedung A Rumah Sakit Paru Cianjur sebagai salah satu bangunan cagar budaya pada 2025 kemarin.
Diketahui gedung A Rumah Sakit Paru Cianjur ini beralamat lengkap di Jalan Siliwangi, Nomor 19, seberang Bale Rancage, Kelurahan Pamoyanan, Kecamatan Cianjur, Kabupaten Cianjur, Provinsi Jawa Barat.
TIMES Indonesia melansir dari akun media sosial Instagram @disbudpar.cianjur bahwa struktur ikonik ini merupakan saksi bisu perjalanan panjang layanan kesehatan masyarakat di wilayah tersebut sejak era pascakemerdekaan.
Berdiri kokoh sejak 15 Maret 1958, bangunan ini awalnya dikenal dengan nama Balai Besar Kesehatan Paru Masyarakat atau BBKPM sebelum akhirnya bertransformasi menjadi Klinik Utama Dr. H. A. Rotinsulu Cianjur.
Keistimewaan utama dari bangunan ini terletak pada gaya arsitekturnya yang mengusung konsep jengki, sebuah tren rancang bangun yang populer di tanah air sekitar tahun 1950-an.
Gaya arsitektur ini bukan sekadar urusan estetika, melainkan simbol perlawanan dan rasa nasionalisme masyarakat Indonesia yang ingin melepaskan diri dari pengaruh gaya kolonial Barat setelah merdeka.
Bentuknya yang asimetris dan unik mencerminkan semangat kebebasan serta menjadi jejak perkembangan fasilitas medis di daerah yang masih terawat dengan sangat baik hingga saat ini.
Secara fungsional, Gedung A memegang peranan vital sebagai pusat administrasi sekaligus pintu masuk utama menuju kompleks rumah sakit tersebut.
Diterangkan pula bahwa di dalamnya terdapat ribuan cerita tentang upaya pemulihan pasien paru yang berjuang untuk kembali sehat dari masa ke masa.
Dengan statusnya sebagai cagar budaya, bangunan ini diharapkan tidak hanya menjadi tempat pelayanan medis, tetapi juga wahana edukasi bagi masyarakat mengenai nilai historis dan sosiologis di Cianjur.
Disbudpar Cianjur menjelaskan bahwa keberadaan gedung ini adalah potret nyata bagaimana sistem kesehatan di Cianjur berevolusi. Selain itu juga, penggunaan gaya jengki yang masih bertahan hingga sekarang menjadikannya contoh penting bagi studi arsitektur nasional.
Lebih jauh melalui pemeliharaan yang konsisten, gedung ini tetap berfungsi sebagai ruang pengabdian bagi tenaga medis dalam melayani masyarakat. Hal tersebut membuktikan bahwa warisan masa lalu tetap bisa berjalan selaras dengan kebutuhan modernitas di sektor kesehatan publik. (*)
Artikel ini sebelumnya sudah tayang di TIMES Indonesia dengan judul: Gedung A Rumah Sakit Paru Cianjur, Jejak Arsitektur Jengki yang Jadi Cagar Budaya
| Pewarta | : Wandi Ruswannur |
| Editor | : Ronny Wicaksono |