https://jabar.times.co.id/
Ekonomi

Ekonomi Kreatif Tumbuh dari Bambu: Kisah Perajin Depok Hadirkan Miniatur Kapal Pinisi

Selasa, 27 Januari 2026 - 09:25
Ekonomi Kreatif Tumbuh dari Bambu: Kisah Perajin Depok Hadirkan Miniatur Kapal Pinisi Atin (70) dan buah karyanya, miniatur kapal pinisi. Senin, (26/1/2025). (FOTO : Mutakim/TIMES Indonesia).

TIMES JABAR, DEPOK – Di sebuah sudut Kota Depok, tepatnya di kawasan Beji, Atin dengan sabar merangkai bilah-bilah bambu menjadi miniatur kapal pinisi. Pria kelahiran Sukabumi yang kini berusia 70 tahun itu dikenal sebagai perajin miniatur kapal pinisi yang mempertahankan teknik manual dan bahan alami.

Sejak era 1980-an, Pak Atin telah menekuni kerajinan ini, meski perjalanan panjangnya sempat terhenti sebelum akhirnya kembali aktif berkarya dalam beberapa tahun terakhir.

Pak Atin mengaku mulai mengenal kerajinan miniatur kapal sejak puluhan tahun lalu. Namun, keterbatasan kondisi dan kebutuhan hidup membuatnya sempat vakum cukup lama.

“Dulu saya mulai bikin sejak tahun 80-an. Sempat berhenti karena harus fokus kerja lain, tapi sekarang saya tekuni lagi karena ini memang sudah jadi hobi sekaligus pekerjaan,” ujar Pak Atin saat ditemui di kediamannya, Senin, (26/1/2026).

Miniatur-kapal-Pinisi.jpgMiniatur kapal Pinisi dalam berbagai ukuran karya Pak Atin, seorang perajin miniatur dari Depok. Senin, (26/1/2025). (FOTO: Mutakim/TIMES Indonesia).

Keunikan karya Pak Atin terletak pada penggunaan bahan baku yang sepenuhnya berasal dari bambu. Ia memilih bambu apus sebagai material utama karena mudah didapat dan cukup kuat.

Meski demikian, ia mengakui terdapat kualitas bambu yang lebih baik, yakni bambu betung, namun harganya relatif lebih mahal.

“Kalau bambu betung hasilnya memang lebih bagus dan kuat, tapi tidak semua pesanan bisa pakai itu karena biayanya lebih tinggi, dan saya jualnya murah. Hanya pesanan khusus yang pakai itu,” jelasnya.

Teknik Manual dan Ketelatenan Seorang perajin

Proses pembuatan miniatur kapal pinisi membutuhkan ketelitian tinggi. Tahap awal dimulai dari pemilihan bambu berkualitas yang tersedia di pasaran.

Bambu kemudian dipotong sesuai ukuran, kulitnya dikupas dan dibuang, sebelum diserut dan diamplas hingga permukaannya halus. Setiap detail dikerjakan secara manual untuk mendapatkan bentuk kapal yang proporsional.

Tantangan terbesar terdapat pada pembuatan bagian lengkungan sebagai bendera kapal. Bagian ini memerlukan teknik khusus agar bambu tidak patah.

“Setelah diserut dan diamplas, bambu saya ikat pakai karet, lalu dicelupkan ke dalam air supaya lebih lentur. Kalau tidak begitu, bambunya gampang retak,” kata Pak Atin sambil menunjukkan proses pengerjaannya.

Seluruh proses pembuatan dikerjakan sendiri tanpa bantuan pekerja lain. Kondisi ini membuat produksi miniatur kapal relatif terbatas. Dalam satu unit miniatur, Pak Atin membutuhkan waktu sekitar dua hingga tiga hari.

“Kalau pesanannya rumit atau ukurannya besar, bisa lebih lama,” tambahnya.

Permintaan dan Kendala Produksi

Meski produksi terbatas, minat terhadap miniatur kapal pinisi karya Pak Atin terbilang cukup tinggi. Dalam satu minggu, ia mampu menjual sekitar lima hingga sepuluh unit miniatur.

Selain kapal pinisi, Pak Atin juga melayani pembuatan berbagai jenis miniatur sesuai pesanan pembeli. Namun, keterbatasan tenaga menjadi kendala utama dalam mengembangkan usahanya.

Harga jualnya pun bervariasi, tergantung ukuran dan tingkat kesulitan, dengan harga termurah sekitar Rp150 ribu per unit. Sebuah nominal yang yang sangat kecil jika dibandingkan dengan nilai seni serta proses pengerjaannya.

“Sebenarnya kalau ada yang bantu, bisa lebih banyak produksi. Tapi sekarang semua masih saya kerjakan sendiri,” ujarnya.

Kapal Pinisi, Simbol Kejayaan Maritim Nusantara

Kapal pinisi merupakan kapal layar tradisional khas masyarakat Bugis dan Makassar, Sulawesi Selatan, yang telah digunakan sejak berabad-abad lalu sebagai sarana pelayaran dan perdagangan antarpulau.

Kapal ini dikenal dengan dua tiang utama dan tujuh layar, yang melambangkan filosofi hidup masyarakat maritim. Pada 2017, UNESCO menetapkan seni pembuatan kapal pinisi sebagai Warisan Budaya Takbenda Dunia, menegaskan pentingnya pinisi sebagai simbol kejayaan maritim Indonesia.

Bagi Pak Atin, membuat miniatur kapal pinisi bukan sekadar aktivitas ekonomi, tetapi juga bentuk pelestarian budaya.

“Saya ingin orang yang beli tahu kalau pinisi itu bukan cuma kapal, tapi punya sejarah panjang,” pungkasnya.

Di usianya yang tak lagi muda, Pak Atin terus menjaga api semangatnya dalam merangkai bambu menjadi miniatur kapal pinisi.

Selain berharap banyak pesanan yang datang, melalui karya-karyanya ia berharap warisan maritim Nusantara tetap dikenal dan dihargai, dari generasi ke generasi, meski dalam bentuk miniatur. (*)

Pewarta : Mutakim
Editor : Ronny Wicaksono
Tags

Berita Terbaru

icon TIMES Jabar just now

Welcome to TIMES Jabar

TIMES Jabar is a PWA ready Mobile UI Kit Template. Great way to start your mobile websites and pwa projects.