TIMES JABAR, JAKARTA – Dunia sinema tanah air atau film Indonesia belakangan ini kerap diramaikan oleh kisah-kisah drama yang mengangkat isu keretakan rumah tangga akibat kehadiran orang ketiga.
Melansir dari akun media sosial Instagram @bioskop bahwa tren cerita pengkhianatan cinta ini terus berkembang dari tahun ke tahun.
Mulai dari film lawas seperti Remember When rilisan 2014 yang mengisahkan tumbuhnya benih cinta antara Freya dan Adrian karena kejenuhan pada pasangan masing-masing, hingga Surga Yang Tak Dirindukan tahun 2015 yang menyoroti konflik poligami antara Pras, Arini, dan Meirose.
Kisah perselingkuhan yang lebih intens muncul dalam film Selesai pada 2021 di mana tokoh Ayu berjuang lepas dari Broto, namun terhambat oleh campur tangan ibu mertua.
Setahun kemudian, hadir Noktah Merah Perkawinan yang menonjolkan kerapuhan komunikasi antara Ambar dan Gilang, serta film unik Mendarat Darurat yang membungkus kebohongan perselingkuhan dengan isu kecelakaan pesawat palsu.
Memasuki tahun 2023, fenomena Layangan Putus: The Movie melanjutkan drama pelik antara Kinan, Aris, dan Lidya yang sangat populer di masyarakat.
Tahun 2024 dan 2025 semakin memanas dengan judul-judul ekstrem seperti Ipar Adalah Maut yang melibatkan pengkhianatan saudara kandung.
Kemudian ada Norma: Antara Mertua dan Menantu yang diangkat dari kisah nyata hubungan terlarang suami dengan ibu mertuanya sendiri.
Selain itu, ada pula La Tahzan: Cinta, Dosa, Luka yang mengisahkan gangguan dari asisten rumah tangga, serta film terbaru 2026 berjudul Musuh Dalam Selimut yang menggambarkan pengkhianatan oleh sahabat sekaligus tetangga terdekat.
Menariknya, warganet memberikan beragam tanggapan terhadap genre ini, mulai dari pengamatan mengenai dominasi nama Aris bagi karakter pria yang tidak setia, hingga pujian terhadap kualitas akting emosional para pemerannya.
Sebagian penonton menilai film seperti Norma memberikan rasa sakit paling mendalam bagi istri sah, sementara film Selesai dianggap menyisakan kepedihan karena akhir ceritanya yang tidak adil.
Di sisi lain, muncul diskusi di kalangan publik mengenai dampak psikologis tayangan bertema pengkhianatan ini terhadap persepsi masyarakat mengenai kesetiaan dalam kehidupan nyata. (*)
| Pewarta | : Wandi Ruswannur |
| Editor | : Hendarmono Al Sidarto |