TIMES JABAR, BANDUNG – Bandung selalu punya cara merayakan kreativitasnya sendiri. Kota ini tidak hanya dikenal lewat ragam kuliner dan fesyen, tetapi juga melalui denyut komunitas yang hidup dan saling menguatkan.
Semangat itulah yang kini coba dirangkum 23 Paskal Shopping Center melalui gelaran Bandung Starts Here, sebuah inisiatif yang menempatkan ruang publik sebagai titik temu antara komunitas, seni, dan pengalaman kuliner.
Lewat Bandung Starts Here, 23 Paskal menegaskan perannya bukan semata sebagai pusat perbelanjaan, melainkan sebagai rumah bersama bagi komunitas Bandung.
Event komunitas tahunan perdana ini dirancang sebagai ruang inklusif yang membuka kesempatan seluas-luasnya bagi seniman lokal, pegiat komunitas, serta pelaku industri kreatif—termasuk kuliner—untuk bertemu, berkolaborasi, dan saling mengapresiasi.
Campaign, Experience & CRM Manager 23 Paskal, Indra Pratama Wicaksono, menyebut Bandung Starts Here sebagai penanda komitmen jangka panjang. Menurutnya, keberadaan pusat perbelanjaan modern harus mampu menjawab kebutuhan kota, bukan hanya transaksi ekonomi, tetapi juga interaksi sosial dan budaya.
“23 Paskal ingin menjadi rumah baru bagi komunitas—tempat berkumpul, berkreasi, dan tumbuh bersama. Bandung Starts Here akan menjadi agenda tahunan sebagai bentuk dukungan berkelanjutan,” ujarnya, Selasa (20/01/2026).
Diselenggarakan pada 19–25 Januari 2026, Bandung Starts Here menghadirkan rangkaian kegiatan yang mencerminkan wajah Bandung yang kolaboratif. Salah satu yang menonjol adalah The Majestic Cake Meeting, ruang temu bagi komunitas pastry chef dan pelaku industri kuliner.
Forum ini tidak hanya memamerkan aneka kreasi kue, tetapi juga membuka ruang berbagi cerita, teknik, dan inspirasi di balik setiap karya. Di sinilah kuliner diposisikan bukan sekadar produk, melainkan ekspresi kreativitas dan identitas.
Selain itu, Indra mengutarakan bahwa pameran Redmiller Blood & Re-Exp Exhibition menghadirkan karya visual dari komunitas dan seniman lokal, memperkaya pengalaman pengunjung yang datang tidak hanya untuk berbelanja, tetapi juga menikmati karya. Sementara Workshop Mewarnai & Kreasi Anak yang diikuti lebih dari 1.000 anak menjadi penanda pentingnya menumbuhkan kreativitas sejak usia dini, termasuk pengenalan pada dunia seni dan kreasi rasa.
Ia menjelaskan juga bahwa nuansa kebersamaan kian terasa lewat Bandung Bernyanyi, yang melibatkan sekitar 500 peserta dalam satu panggung suara. Musik menjadi medium pemersatu, memperlihatkan bagaimana ruang publik dapat berubah menjadi ruang ekspresi kolektif.
Puncaknya, Community Gala digelar sebagai malam apresiasi, sebuah langkah yang jarang dilakukan pusat perbelanjaan: memberi penghormatan khusus kepada komunitas yang selama ini menjadi mitra.
Indra memaparkan juga bahwa yang menarik, Bandung Starts Here tidak membatasi diri pada komunitas Kota Bandung semata. 23 Paskal membuka pintu bagi komunitas dari seluruh Jawa Barat untuk terlibat. Pendekatan ini memperluas jejaring kolaborasi, sekaligus menegaskan posisi Bandung sebagai episentrum kreativitas regional, termasuk dalam pengembangan kuliner berbasis komunitas.
"Dalam konteks industri kuliner, Bandung Starts Here memberi pesan penting: ekosistem yang sehat lahir dari ruang yang inklusif. Ketika chef, pelaku UMKM kuliner, seniman, dan komunitas bertemu dalam satu rumah, kolaborasi yang lahir tidak hanya memperkaya rasa, tetapi juga memperkuat identitas kota," jelas Indra
"Bandung Starts Here menjadi pengingat bahwa kota ini tumbuh dari perjumpaan. Di 23 Paskal, kreativitas kuliner, seni, dan komunitas dipertemukan dalam satu narasi besar—bahwa Bandung selalu memulai sesuatu dari kebersamaan," pungkasnya. (*)
Artikel ini sebelumnya sudah tayang di TIMES Indonesia dengan judul: Bandung Starts Here, Ketika Ruang Kuliner dan Komunitas Bertemu dalam Satu Rumah
| Pewarta | : Djarot Mediandoko |
| Editor | : Deasy Mayasari |