TIMES JABAR, PANGANDARAN – Duka mendalam menyelimuti keluarga besar Korps Alumni Himpunan Mahasiswa Islam (KAHMI) dan Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Kabupaten Pangandaran atas wafatnya Koordinator Majelis Daerah (MD) KAHMI Pangandaran Maman Suherman.
Kepergian almarhum bukan sekadar kehilangan seorang pimpinan organisasi, melainkan juga hilangnya sosok ideolog, penggerak dan penjaga nilai-nilai perjuangan HMI di daerah.
Tangisan, duka dan rasa kehilangan adalah hal yang manusiawi, namun keluarga besar HMI dan KAHMI diingatkan jangan larut pada kesedihan.
Justru dari duka inilah, semangat perjuangan harus kembali dinyalakan, kaderisasi harus ditegakkan dan ideologi HMI harus terus dijaga agar tidak padam ditelan zaman.
Hal tersebut ditegaskan oleh Bendahara MD KAHMI Pangandaran, Syamsul Ma’arif. "Wafatnya Koordinator MD KAHMI Pangandaran merupakan ujian sejarah bagi keberlanjutan perjuangan HMI dan KAHMI di Pangandaran," kata Syamsul Ma'arif, Jum'at (6/2/2026).
Syamsul Ma'arif menambahkan, HMI dan KAHMI tidak pernah diajarkan untuk berhenti karena kehilangan. "Sejarah membuktikan bahwa HMI dibangun dari pengorbanan dan keteguhan, maka duka ini harus menjadi energi ideologis untuk bangkit," tambah Syamsul Ma'arif.
Semasa hidup, almarhum bukan hanya pemimpin struktural, tetapi juga penjaga nilai. Almarhum Maman Suherman dikenal sosok yang konsisten mengingatkan pentingnya Islam, keindonesiaan dan keilmuan sebagai napas perjuangan HMI.
"Kehilangan ini tidak boleh dibiarkan menjadi ruang kosong yang melemahkan arah perjuangan kader HMI," tegas pria , yang akrab disapa Sulenk Abdi Sagara ini..
Almarhum Maman Suherman selalu menanamkan bahwa HMI hidup dari kaderisasi. Tanpa kaderisasi, HMI hanya nama tanpa ideologi. "Kewajiban moral kita hari ini adalah memastikan kaderisasi berjalan lebih serius, lebih terarah, dan lebih ideologis," ujar Syamsul Ma'arif.
Syamsul Ma'arif menekankan bahwa KAHMI memiliki tanggung jawab historis dan ideologis untuk menjaga keberlanjutan HMI. Alumni tidak boleh hanya hadir dalam seremonial atau nostalgia, tetapi harus berdiri sebagai benteng nilai, penopang kader dan penunjuk arah perjuangan.
"KAHMI bukan sekadar perkumpulan alumni. KAHMI adalah penjaga marwah HMI. Kita harus memastikan kader-kader HMI tumbuh dengan kesadaran ideologis, keberanian moral, dan keberpihakan kepada umat dan bangsa," terang Syamsul Ma'arif.
Lebih jauh, ia mengingatkan bahwa wafatnya seorang pemimpin adalah momentum konsolidasi, bukan fragmentasi. Seluruh elemen HMI dan KAHMI Pangandaran diminta untuk merapatkan barisan, menanggalkan ego dan kembali pada cita-cita luhur organisasi.
"Almarhum telah menunaikan baktinya. Kini estafet itu ada di tangan kita. Jika kita lengah, maka kita mengkhianati perjuangan beliau. Tetapi jika kita bangkit, maka almarhum akan terus hidup dalam setiap langkah kaderisasi dan pengabdian kita," pungkasnya. (*)
| Pewarta | : Acep Rifki Padilah |
| Editor | : Ronny Wicaksono |