TIMES JABAR, CIAMIS – Di Wilayah Kabupaten Ciamis, Jawa Barat, tersembunyi sebuah desa bernama Sadananya. Lebih dari sekadar tempat tinggal, Desa Sadananya menyimpan kisah-kisah misterius, desa ini seakan menyimpan rahasia yang menunggu untuk diungkap.
Desa Sadananya, dengan letak geografisnya yang unik dan karakteristik alamnya yang khas, memiliki daya tarik tersendiri. Sejarah desa ini, dengan periode-periode menarik yang penuh dengan warna dan misteri, semakin menambah daya pikatnya.
Berdasarkan cerita yang beredar di masyarakat, penemuan Desa Sadananya tidak terlepas dari peran dua orang pemuda yang bernama Mas Petinggi dan Mas Ngabei, kedua pemuda tersebut berasal dari daerah utara Ciamis yang menetap di daerah Sadananya..
Menurut Dadang S, salah satu tokoh masyarakat setempat yang ditemui TIMES Indonesia beberapa waktu lalu, asal usul nama Sadananya, merupakan nama yang diberikan oleh Mas Petinggi kepada daerah tersebut.
“Ketika Mas Petinggi sedang memikirkan sebuah nama untuk daerah ini sembari berjalan, tiba-tiba terdengar suara yang menegur dari semak- semak rimbun dengan menggunakan bahasa sunda berbunyi (Kamana yeuh?),” ujarnya.
Namun, saat Mas Petinggi melihat dan ke sumber suara tersebut ternyata tidak ada siapapun. Dengan kejadian itu, daerah tersebut di beri nama “Sadananya” yang yang dalam Bahasa sunda artinya ‘Sada Aya Nu Nanya’ (suara ada yang bertanya ).
Mas Petinggi dan Mas Ngabei merupakan nama gelar untuk keduanya dan bukan nama sebenarnya. karena pada saat itu, mereka diklaim sebagai pemuda yang gagah, Sejak ditemukan nama Sadananya, keduanya bekerja keras membuka daerah tersebut yang awalnya hutan menjadi daerah pertanian, serta banyaknya lawan sawah yang dibuka. Untuk menandai kerja keras mereka, konon keduanya membuat Situ Hiang di daerah Sukajadi.
Terlepas dari hal itu, hingga saat ini tidak diketahui secara pasti terkait sejarah dari Desa Sadananya dan nama asli dari Mas Petinggi dan Mas Ngabei sebagai perintis di daerah tersebut.
Namun, untuk melanjutkan peradaban yang dirintis oleh keduanya di wilayah Sadananya, pada tanggal 15 Mei 1979 berdasarkan hasil musyawarah para tokoh masyarakat, pemuka agama, ulama dan lembaga kemasyarakatan setempat yang di pimpin oleh seorang yang bernama Aki Suba saat daerah ini masih merupakan hutan. Konon katanya baru ada 7 ( tujuh) tugu saja sebagai penanda yang berada di blok Cipaku Kampung Landeuh.
Dari musyawarah tersebut, tersusun beberapa sektor pola peradaban lokal yang dimulai dari bidang mental keagamaan, masyarakat daerah Sadananya saat itu mendapat bimbingan dari seorang Kyai atau Ulama yang juga berasal dari daerah Kawali bernama Kiayi Pulung, dia mengabdi sampai akhir hayatnya dan di makamkan di makam Gede Desa Sadananya.
Setelah kehidupan di daerah Sadananya mulai berkembang menjadi sebuah perkampungan dan daerah pertanian. Lalu dibentuk suatu Pemerintahan yang dipimpin oleh seorang Raja Kawali yang bernama Mahadikusuma. Sejak itulah Pemerintahan Desa Sadananya dimulai dari waktu ke waktu sampai sekarang. (*)
| Pewarta | : Adis Cahyana |
| Editor | : Hendarmono Al Sidarto |