https://jabar.times.co.id/
Berita

Seabad Nahdlatul Ulama: Ribuan Warga Padati Karnaval Budaya di Tasikmalaya

Sabtu, 07 Februari 2026 - 18:42
Seabad Nahdlatul Ulama: Ribuan Warga Padati Karnaval Budaya di Tasikmalaya Ribuan warga Tasikmalaya saat mengikuti karnaval budaya dalam memperingati Seabad Nahdlatul Ulama, Sabtu (7/2/2026) (FOTO: Harniwan Obech/TIMES Indonesia)

TIMES JABAR, TASIKMALAYA – Ribuan warga Nahdlatul Ulama (NU) bersama masyarakat umum tumpah ruah memadati pusat Kota Tasikmalaya, Sabtu (7/2/2026). Mereka antusias menyemarakkan karnaval budaya yang digelar Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kota Tasikmalaya dalam rangka memperingati Hari Lahir (Harlah) Nahdlatul Ulama ke-100 atau seabad Nahdlatul Ulama (NU).

Sejak pagi hari, suasana kota tampak berbeda. Jalan HZ Mustofa, Jalan Sutisna Senjaya, hingga kawasan Taman Kota Tasikmalaya berubah menjadi lautan manusia yang berjalan kaki dengan penuh keceriaan. Diiringi senyum, tawa, dan ragam ekspresi kebanggaan, para peserta seolah tak ingin melewatkan momen bersejarah seabad berdirinya organisasi Islam terbesar di Indonesia itu.

Karnaval budaya ini bukan sekadar arak-arakan. Ia menjadi gambaran nyata kuatnya sense of belonging atau rasa memiliki warga terhadap NU, sebuah organisasi yang selama satu abad terakhir tumbuh bersama masyarakat, menyatu dengan tradisi, budaya, dan denyut kehidupan umat.

Beragam atribut budaya menghiasi barisan peserta. Ada yang mengenakan pakaian adat Sunda, busana santri, kostum kreasi seni, hingga membawa hasil bumi seperti padi, sayuran, dan buah-buahan. Semua itu mencerminkan kearifan lokal yang telah lama menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan warga NU, khususnya di Tasikmalaya yang dikenal sebagai kota santri dan daerah agraris.

karnaval-budaya-dalam-memperingati-Seabad-NU-a.jpgKetua PCNU Kota Tasikmalaya, KH Dudu Rohman saat melepas peserta mengikuti karnaval budaya dalam memperingati Seabad Nahdlatul Ulama, Sabtu (7/2/2026) (FOTO: Harniwan Obech/TIMES Indonesia)

Menariknya, karnaval ini benar-benar lintas generasi. Dari balita yang digendong orang tuanya, anak-anak, remaja, kaum ibu, hingga lansia berjalan berdampingan tanpa sekat. Kebersamaan itu menghadirkan pesan kuat bahwa NU bukan hanya milik kelompok tertentu, melainkan rumah besar bagi semua kalangan.

“Di sinilah letak menariknya acara yang digelar NU. Semua elemen terlibat atau melibatkan diri, dan hal itu menjadi ciri khas organisasi NU,” ujar Ketua Panitia Harlah NU ke-100, Ajengan Aan Farhan, di sela-sela pembukaan acara di kawasan Taman Kota Tasikmalaya. Sabtu (7/2/2026).

Hal senada disampaikan Budayawan Tasikmalaya, Ashmansyah Timutiah, yang menilai karnaval budaya NU sebagai ruang pertemuan antara nilai keagamaan dan kebudayaan lokal. Menurutnya, NU berhasil menjaga harmoni antara Islam dan tradisi, tanpa kehilangan esensi ajaran.

Ketua PCNU Kota Tasikmalaya, KH Dudu Rohman, menegaskan bahwa karnaval budaya ini bukan sekadar ajang perayaan seremonial. Lebih dari itu, kegiatan ini menjadi wadah silaturahmi lintas warga dan lintas elemen masyarakat di Kota Tasikmalaya.

“Karnaval ini adalah simbol kuatnya rasa memiliki warga terhadap Nahdlatul Ulama. NU lahir dari masyarakat dan kembali kepada masyarakat,” ujarnya.

Menurut KH Dudu, antusiasme warga menunjukkan bahwa masyarakat Tasikmalaya memiliki modal sosial yang sangat kuat, berupa gotong royong, kebersamaan, dan rasa persaudaraan. Nilai-nilai inilah yang sejak awal menjadi fondasi perjuangan NU.

Peringatan Harlah NU ke-100, lanjutnya, menjadi momentum penting untuk meneguhkan kembali nilai Ahlussunnah wal Jamaah (Aswaja) sebagai jalan moderasi, keseimbangan, dan toleransi dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

“NU harus terus hadir untuk menerangi jalan umat dan menyatukan langkah dalam suasana harmoni,” tegasnya.

karnaval-budaya-dalam-memperingati-Seabad-NU-b.jpgWakil Wali Kota Rd. Diky Chandra Negara (berikat kepala) Bersama Forkopimda mengikuti Karnaval Budaya  Seabad Nahdlatul Ulama, Sabtu (7/2/2026) (FOTO: Harniwan Obech/TIMES Indonesia)

Dalam refleksi seabad NU, KH Dudu Rohman juga menyoroti tantangan masa depan yang dihadapi generasi Nahdliyin. Menurutnya, tantangan tersebut tidak hanya berkaitan dengan ideologi keagamaan, tetapi juga persoalan kemanusiaan, sosial ekonomi, dan lingkungan hidup.

Ia menekankan pentingnya menanamkan nilai cinta kemanusiaan dan kepedulian terhadap alam. Hal ini relevan karena sebagian besar warga NU, khususnya di Tasikmalaya dan wilayah Priangan Timur, berprofesi sebagai petani dan tinggal di kawasan pedesaan.

“Banyak warga Nahdliyin yang hidup dari sektor pertanian. Maka ketahanan pangan dan kelestarian lingkungan harus menjadi bagian dari masa depan NU,” ungkapnya.

Dalam konteks ini, NU tidak hanya berperan sebagai organisasi keagamaan, tetapi juga sebagai penggerak sosial yang mendorong kemandirian ekonomi umat, pertanian berkelanjutan, serta kepedulian terhadap ekologi.

Karnaval budaya Harlah NU ke-100 juga mendapat apresiasi dari jajaran pemerintah daerah. Wakil Wali Kota Tasikmalaya, Diky Candra, menyampaikan rasa syukur dan terima kasih atas kontribusi besar NU dalam menjaga harmoni sosial di Kota Tasikmalaya.

Ia menilai PCNU Kota Tasikmalaya di bawah kepemimpinan KH Dudu Rohman telah terbukti mampu menjaga toleransi antarumat beragama dengan sangat baik.

“PCNU Kota Tasikmalaya di bawah nahkoda KH Dudu Rohman konsisten menumbuhkan semangat kebersamaan, kekeluargaan, dan persatuan. Ini menjadi inspirasi bagi masyarakat luas,” ujarnya.

Hal senada disampaikan Ketua DPRD Kota Tasikmalaya, H. Aslim, SH, M.Si. Ia menegaskan bahwa Tasikmalaya sebagai kota santri sekaligus kota event memiliki kekayaan seni, budaya, dan pertanian yang sangat besar.

“Potensi ini harus terus dikembangkan agar Tasikmalaya tidak hanya dikenal sebagai kota religius, tetapi juga sebagai pusat kebudayaan dan ekonomi kreatif,” katanya.

Dalam kesempatan tersebut, Wakil Wali Kota Diky Candra juga menyinggung posisi strategis Tasikmalaya sebagai pusat wilayah Priangan Timur. Menurutnya, peran NU sangat penting dalam mendukung visi tersebut, terutama dalam memperkuat kohesi sosial dan identitas budaya masyarakat.

“Upaya menjadikan Tasikmalaya sebagai episentrum Priangan Timur bukan sekadar ucapan. Dengan dukungan organisasi besar seperti NU, hal itu bisa benar-benar terwujud,” tegasnya.

Karnaval budaya NU ke-100 pun dinilai sejalan dengan semangat menjadikan Tasikmalaya sebagai kota yang ramah budaya, ramah agama, dan ramah bagi seluruh lapisan masyarakat. (*)

Pewarta : Harniwan Obech
Editor : Hendarmono Al Sidarto
Tags

Berita Terbaru

icon TIMES Jabar just now

Welcome to TIMES Jabar

TIMES Jabar is a PWA ready Mobile UI Kit Template. Great way to start your mobile websites and pwa projects.