TIMES JABAR, JAKARTA – Google akan segera menguji AI model baru yang mampu memperkirakan usia pengguna—atau setidaknya menentukan apakah mereka berusia di bawah 18 tahun. Langkah ini bertujuan untuk menerapkan perlindungan yang lebih sesuai dengan usia pengguna, menurut pernyataan resmi Google.
Dikutip dari PCMAG,Uji coba awal akan dimulai di Amerika Serikat tahun ini sebelum diperluas ke negara lain secara bertahap. Model ini akan menggunakan berbagai sinyal yang sudah terkait dengan akun pengguna, seperti jenis situs yang mereka cari, video yang mereka tonton, serta usia akun mereka.
Jika sistem Google keliru dan mengidentifikasi pengguna dewasa sebagai anak di bawah 18 tahun, mereka dapat mengajukan banding dengan membuktikan usia melalui selfie, kartu kredit, atau identitas resmi yang dikeluarkan pemerintah. Google juga berencana menambahkan lebih banyak opsi verifikasi usia di masa mendatang.
Saat ini, pengguna berusia 13 tahun sudah dapat memiliki akun Google, tetapi Google menerapkan pembatasan usia pada konten untuk mereka yang berusia di bawah 18 tahun, termasuk mengaktifkan fitur SafeSearch secara otomatis.
Selain itu, orang tua dapat memantau aktivitas anak mereka melalui sistem kontrol orang tua Google Family Link. Namun, tidak dapat dipungkiri bahwa cukup mudah bagi seseorang untuk memasukkan usia palsu saat mendaftar akun Google.
CEO YouTube, Neal Mohan, sempat menyinggung model baru ini dalam suratnya yang berjudul Big Bets for 2025.
"Kami akan menggunakan pembelajaran mesin pada tahun 2025 untuk membantu memperkirakan usia pengguna—membedakan antara penonton muda dan dewasa—guna memberikan pengalaman serta perlindungan yang lebih sesuai dengan usia mereka," tulisnya. (*)
Artikel ini sebelumnya sudah tayang di TIMES Indonesia dengan judul: Google Uji AI Baru untuk Deteksi Usia, Cegah Anak Akses Konten Dewasa
Pewarta | : Wahyu Nurdiyanto |
Editor | : Wahyu Nurdiyanto |