TIMES JABAR, BANJAR – Guru honorer di Kota Banjar kini merasa sangat sedih dan kecewa. Walaupun sudah mengajar dan mengabdi bertahun-tahun, bahkan sampai belasan hingga puluhan tahun, nasib mereka untuk diangkat menjadi Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK) terasa sulit.
Ironisnya, status PPPK itu justru diberikan lebih mudah kepada relawan program MBG yang baru bekerja mengingat program tersebut juga baru digulirkan beberapa bulan ini.
Lisna, salah satu guru di SMK 1 Pasundan Kota Banjar, mengaku kecewa. Ia menilai kebijakan pemerintah ini tidak adil bagi guru-guru yang sudah lama mengabdikan diri.
"Saya berharap pemerintah mau meninjau ulang aturan tersebut. Menurut saya, program MBG ini masih baru, sementara para guru honorer sudah mengabdi sangat lama," terangnya kepada Times Indonesia, Selasa (27/1/2026).
Ia juga membandingkan penghasilan yang didapat. Gaji guru honorer di SMK Pasundan Kota Banjar hanya berkisar Rp500 ribu sampai Rp1 juta per bulan. Jumlah ini jauh lebih kecil dibanding honor yang diterima relawan MBG, seperti Kepala SPPG, Ahli Gizi, atau Akuntan yang bisa mencapai Rp5 juta setiap bulannya.
Para guru honorer merasa sangat miris jika pemerintah tidak menghargai pengabdian mereka.
"Tugas guru juga sangat berat dalam upaya mencerdaskan anak bangsa dan mengajarkan budi pekerti. Kami berharap pemerintah dapat lebih memprioritaskan dan memperhatikan nasib guru honorer yang sudah mengabdi bertahun-tahun ini," harapnya. (*)
| Pewarta | : Sussie |
| Editor | : Faizal R Arief |