TIMES JABAR, TASIKMALAYA – Di tengah sunyinya perbukitan selatan Tasikmalaya, sebuah ngarai alami bernama Tonjong Canyon kini menjelma menjadi harapan baru bagi warga Desa Nagrog.
Berkat kegigihan pemuda desa Bernama Dani Khamisatul Hamdan dan kolaborasi komunitas Kawan Lokal, desa yang dulu biasa saja itu perlahan bangkit menjadi destinasi wisata berbasis alam dan partisipasi masyarakat.
Perubahan besar pun tengah terjadi di balik geliat pengembangan wisata alam Tonjong Canyon, dengan menggerakkan transformasi pariwisata desa menuju ekonomi yang berkelanjutan.
Desa Wisata Nagrog di Kecamatan Cipatujah, Kabupaten Tasikmalaya, Jawa Barat, kini mulai mencuri perhatian lewat keindahan alam Tonjong Canyon. Pengembangan destinasi ini tak lepas dari peran aktif pemuda desa serta kolaborasi dengan komunitas pariwisata Kawan Lokal yang fokus membangun pariwisata berbasis masyarakat.
Dani Khamisatul Hamdan pemuda desa penggerak wisata desa Nagrog, Cipatujah, Tasikmalaya Jawa Barat. (FOTO: Harniwan Obech/TIMES Indonesia).
Sehingga siapa sangka sebuah desa kecil di selatan Tasikmalaya kini perlahan bangkit menjadi destinasi wisata alam baru yang sudah dilirik wisatawan local maupun manca negara.
Pengembangan desa wisata berbasis potensi lokal kini menjadi salah satu strategi unggulan dalam mendorong pertumbuhan ekonomi masyarakat pedesaan di Indonesia.
Kabupaten Tasikmalaya, Jawa Barat, yang dikenal memiliki bentang alam pegunungan, pantai selatan, hingga sungai alami, mulai melahirkan destinasi-destinasi baru hasil kolaborasi masyarakat lokal.
Desa Wisata Nagrog, Kecamatan Cipatujah, Kabupaten Tasikmalaya, yang kini perlahan bertransformasi melalui pengembangan wisata alam Tonjong Canyon.
Di balik perubahan tersebut, peran pemuda desa dan kolaborasi dengan komunitas pariwisata Kawan Lokal menjadi kunci utama kebangkitan potensi wisata setempat.
Sosok pemuda yang aktif menggerakkan pengembangan ini kini dipercaya memimpin pengembangan paket wisata Tonjong Canyon bersama Kawan Lokal sejak September 2025.
“Alhamdulillah dipercaya menakhodai pengembangan paket wisata Tonjong Canyon oleh Kawan Lokal sejak September 2025,” kisah Dani kepada TIMES Indonesia. Sabtu (31/1/2026)
Eksistensi Desa Wisata Nagrog tak lepas dari pendampingan intensif komunitas pengembangan pariwisata Kawan Lokal. Komunitas ini telah terlibat sejak tahun 2022 sebagai mitra strategis dalam menata potensi wisata desa secara profesional.
Menurut Dani, peran Kawan Lokal bukan sekadar membantu promosi, tetapi membangun fondasi pengelolaan pariwisata berbasis masyarakat.
“Saya, Dani Khamisatul Hamdan, diamanahi oleh founder untuk bisa menakhodai Kawan Lokal sejak September 2025. Peran kami adalah merawat nalar pengelola Desa Wisata Nagrog dalam pengelolaan pariwisata, partisipasi masyarakat, penyusunan paket wisata, simulasi atraksi, dokumentasi, hingga pemasaran,” jelasnya.
Adapun bentuk kontribusi Kawan Lokal dalam pengembangan Desa Wisata Nagrog meliputi penyusunan paket wisata berbasis pengalaman lokal, Pengemasan atraksi wisata otentik desa, Dokumentasi konten promosi digital serta Strategi pemasaran wisata desa.
Kolaborasi ini menghasilkan berbagai paket wisata berbasis alam dan kehidupan pedesaan yang kini mulai dipasarkan kepada wisatawan lokal maupun komunitas pecinta alam.
Secara geografis, Desa Nagrog berada di wilayah selatan Kabupaten Tasikmalaya yang dikenal memiliki kekayaan alam berupa sungai, tebing batu alami, dan lanskap hijau khas pesisir selatan Jawa Barat.
Tonjong Canyon menjadi daya tarik utama yang dikembangkan. Destinasi ini menawarkan Tebing batu alami menyerupai ngarai, aliran sungai jernih yang cocok untuk wisata petualangan ringan serta Panorama alam yang masih asri dan belum banyak tersentuh pembangunan.
Konsep wisata yang diusung bukan wisata massal, melainkan wisata berbasis komunitas yang melibatkan masyarakat sebagai pengelola, pemandu lokal, hingga penyedia jasa pendukung.
Menurut Dani, pemilihan Tonjong Canyon sebagai ikon pengembangan wisata desa bukan tanpa alasan.
“Desa Wisata Nagrog punya banyak potensi untuk dikembangkan. Nilai plusnya adalah adanya SDM pengelola yang mau bergerak dan belajar. Itu modal besar,” katanya.
Selain keindahan alam, lokasi Tonjong Canyon relatif mudah diakses masyarakat sekitar, sehingga membuka peluang keterlibatan warga dalam pengelolaan harian, mulai dari kebersihan, pemanduan wisata, hingga pengelolaan UMKM lokal.
Sebelum adanya kolaborasi dengan Kawan Lokal, pengelolaan wisata di Desa Nagrog masih menghadapi banyak keterbatasan. Beberapa kendala utama antara lain Kesulitan menyusun paket wisata terstruktur.
Atraksi wisata belum memiliki konsep jelas, Minim dokumentasi untuk promosi serta Tidak memiliki kanal pemasaran digital.
Namun setelah pendampingan berjalan, perubahan mulai terlihat dari SDM pengelola wisata mulai terlatih, Tata kelola lebih terbuka dan professional, Paket wisata mulai terbentuk serta Promosi digital aktif melalui media social.
“Setelah adanya Kawan Lokal, Desa Wisata Nagrog mulai berkembang, terutama dari sisi SDM pengelola wisatanya,” tambah Dani.
Alih-alih membangun fasilitas besar di awal, Kawan Lokal justru memprioritaskan penguatan sumber daya manusia sebagai fondasi utama.
“Perjalanan pengembangan desa wisata di Kabupaten Tasikmalaya masih panjang. Jadi kami fokus ke pendampingan SDM agar kesiapan lokal dan kepercayaan diri mereka kuat. Setelah grooming idea, tata kelola mulai terbuka dan berkelanjutan,” ujar Dani.
Dani Khamisatul Hamdan pemuda desa penggerak wisata desa Nagrog, Cipatujah, Tasikmalaya Jawa Barat saat berdiskusi membuat paket wisata. (FOTO: Harniwan Obech/TIMES Indonesia).
Pendekatan ini sejalan dengan konsep desa wisata nasional yang menekankan partisipasi masyarakat sebagai pelaku utama, bukan sekadar penonton.
Saat ini, upaya pengembangan Tonjong Canyon difokuskan pada peningkatan eksposur melalui Promosi media social, Jaringan komunitas pariwisata dan Produksi konten dokumentasi wisata.
Ke depan, pasca Ramadan, Kawan Lokal telah menyiapkan berbagai inovasi Event wisata berbasis komunitas, Kolaborasi dengan Online Travel Agent (OTA) dan Pelibatan komunitas kreatif dan pecinta alam.
Selain itu, konsep wisata harian tengah disiapkan untuk mendorong perputaran ekonomi masyarakat secara lebih cepat.
“Kami ingin pengelola bisa menghadirkan wisata harian agar ekonomi lokal bisa bergerak lebih cepat,” jelas Dani.
Dani menambahkan Kabupaten Tasikmalaya dikenal sebagai salah satu wilayah di Jawa Barat dengan potensi wisata alam terbesar, meliputi Pantai selatan Jawa seperti Pantai Cipatujah, Sindangkerta, dan Karang Tawulan.
"Juga Kawasan pegunungan dan air terjun, Desa wisata berbasis budaya dan alam banyak yang akan dikenalkan," tandasnya.
Program pengembangan desa wisata sendiri menru Dai akan menjadi bagian dari strategi nasional Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif untuk meningkatkan ekonomi desa melalui Pemberdayaan masyarakat lokal, Pelestarian alam dan budaya, Pengembangan UMKM desa.
Desa Wisata Nagrog menurutnya harus masuk dalam gelombang transformasi desa wisata di wilayah selatan Tasikmalaya yang mulai tumbuh berkat kolaborasi komunitas.
Dengan sinergi kuat antara pemuda desa, masyarakat lokal, dan Kawan Lokal sebagai pendamping Dani erharap Desa Wisata Nagrog kini melangkah menuju destinasi unggulan baru di Tasikmalaya bagian selatan.
"Tonjong Canyon bukan sekadar objek wisata alam, tetapi simbol kebangkitan ekonomi desa berbasis partisipasi masyarakat."harapnya
Sehigga ke depan, Desa Nagrog diharapkan mampu menjadi destinasi wisata alam unggulan Tasikmalaya, meningkatkan pendapatan masyarakat desa, melestarikan alam dan budaya local dan menjadi contoh desa wisata berbasis komunitas di Jawa Barat. (*)
| Pewarta | : Harniwan Obech |
| Editor | : Ferry Agusta Satrio |